Badan Geologi Ungkap Penyebab Meningkatnya Aktivitas Gunung Tangkuban Parahu, Apa Saja?

Penyelidik Bumi Ahli Utama pada Badan Geologi, Kristiyanto menyebut ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu.

Badan Geologi Ungkap Penyebab Meningkatnya Aktivitas Gunung Tangkuban Parahu, Apa Saja?
Penyelidik Bumi Ahli Utama pada Badan Geologi, Kristiyanto menyebut ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu.

INILAHKORAN, Ngamprah - Penyelidik Bumi Ahli Utama pada Badan Geologi, Kristiyanto menyebut ada sejumlah faktor yang menjadi penyebab meningkatnya aktivitas vulkanik gunung tangkuban parahu.

Diketahui, aktivitas gunung tangkuban parahu masih terus mengalami peningkatan signifikan berdasarkan beberapa kali kejadian gempa yang teramati dari Pos Pengamatan Gunungapi. 

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat pada 1 Juni 2025 terjadi gempa low frekuensi 100 kejadian, 2 Juni terjadi 13 kali gempa hembusan dan gempa low frekuensi hingga sebanyak 134 kali dalam 24 jam terakhir. 

Bahkan, berdasarkan data terbaru tercatat 37 kali gempa hembusan dan gempa low frekuensi hingga sebanyak 270 kali.

"Sejak beberapa hari ini, kejadian gempa low frekuensi terus meningkat dibandingkan dengan jumlah kejadian normal," kata Penyelidik Bumi Ahli Utama pada Badan Geologi, Kristiyanto, Kamis 5 Juni 2025.

Kristiyanto menjelaskan, peningkatan tersebut dilihat dari jumlah kejadian gempa low frekuensi, kemudian berdasarkan data deformasi atau penggembungan dari tubuh gunung tangkuban parahu itu sendiri. 

"Ini kita pantau dari data Electronic Distance Measurement (EDM) atau GPS. Pengamatan itu tentunya harus sinkron dengan data visual," jelasnya.

"Kemudian hasil pengamatan itu kita kordinasilan termasuk dengan pengelola wisata," sambungnya.

Tak cuma itu, ungkap Kristiyanto, pihaknya juga membandingkan data dan pola peningkatan aktivitas gunung tangkuban parahu kali ini dengan erupsi freatik yang terjadi pada tahun 2019 lalu. 

"Jadi bukan cuma peningkatan aktivitas saja, jadi ada faktor lain yang mengiringi erupsi freatik 2013 dan 2019 lalu. Kita terus kaji dan bandingnya polanya ya," ungkapnya.

Kristiyanto menjelaskan, gunung ini termasuk gunung yang sering terjadi erupsi freatik, yakni erupsi yang tidak didahului dengan peningkatan aktivitas secara signifikan.

"Faktornya penyebabnya bisa akibat magma naik ke permukaan atau sistem peningkatan tekanan di dekat permukaan, karena gunung ini termasuk gunung hidrothermal. Cuma sejauh ini belum ada erupsi freatik," ujarnya.*** 


Editor : JakaPermana