Bahas Pertanggungjawaban APBD 2025, DPRD Kota Bogor Soroti Silpa dan Biskita

DPRD Kota Bogor memberikan sejumlah catatan strategis dalam pembahasan Pertanggungjawaban APBD 2025. Fokus evaluasi diarahkan pada peningkatan efisiensi.

Bahas Pertanggungjawaban APBD 2025, DPRD Kota Bogor Soroti Silpa dan Biskita
Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Rusli Prihatevy saat rapat di gedung DPRD Kota Bogor, beberapa waktu lalu. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - DPRD Kota Bogor memberikan sejumlah catatan strategis dalam pembahasan Pertanggungjawaban APBD 2025. Fokus evaluasi diarahkan pada peningkatan efisiensi anggaran, optimalisasi pelayanan publik serta penguatan tata kelola keuangan daerah.

Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Rusli Prihatevy menuturkan, salah satu perhatian utama adalah skema pembiayaan operasional Biskita Trans Pakuan yang selama ini dinilai perlu dievaluasi agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). 

DPRD mendorong perubahan pola perhitungan subsidi transportasi massal agar tidak lagi hanya berdasarkan jarak tempuh kendaraan, melainkan mempertimbangkan jumlah penumpang yang dilayani.

"Kami menyepakati pelayanan ini harus mengefektifkan jumlah penumpang dan memaksimalkan pelayanan, karena anggarannya dibebankan pada APBD. Ke depan, perhitungan tidak lagi berdasarkan kilometer pergerakan bus, tetapi harus lebih efektif berdasarkan jumlah penumpang," kata Rusli, Jumat (17/7/2026).

Rusli menjelaskan, langkah tersebut bertujuan agar penggunaan anggaran daerah menjadi lebih efisien sehingga ruang fiskal dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai program prioritas Pemkot Bogor sesuai visi dan misi pembangunan daerah. DPRD Kota Bogor memberikan apresiasi terhadap capaian serapan anggaran perangkat daerah yang rata-rata telah mencapai sekitar 90 persen. 

"Meski demikian, kami menilai efisiensi belanja tetap harus menjadi perhatian dalam setiap pelaksanaan program pemerintah. Selain sektor transportasi, pembahasan PP APBD 2025 juga menyoroti pengelolaan keuangan sektor kesehatan. Kami meminta adanya pemisahan laporan keuangan antara Dinkes, RSUD Kota Bogor dan Puskesmas seiring perubahan Peraturan Daerah mengenai Organisasi Perangkat Daerah (OPD)," jelasnya.

Rusli berpendapat, RSUD dan Puskesmas perlu mengelola keuangannya secara mandiri sebagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), sehingga tata kelola keuangan menjadi lebih akuntabel sekaligus menjaga kesehatan finansial rumah sakit milik pemerintah daerah.

"Tujuannya adalah untuk menyehatkan RSUD. Sebab, RSUD merupakan rumah sakit kebanggaan Kota Bogor yang harus tetap memiliki performa keuangan yang sehat agar mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat," tegasnya.

Rusli juga meminta Pemkot Bogor segera menyelesaikan persoalan piutang daerah yang hingga kini masih tercatat dalam neraca keuangan. DPRD menilai diperlukan kepastian mengenai status piutang tersebut, apakah akan dihapuskan sesuai ketentuan atau tetap dilakukan upaya penagihan. Penyelesaian piutang daerah memiliki pengaruh besar terhadap kekuatan fiskal pemerintah daerah sehingga tidak boleh terus dibiarkan tanpa kejelasan.

"Masalah piutang ini harus menjadi perhatian serius karena sudah bertahun-tahun tercatat di neraca. Harus ada kejelasan apakah akan dihapuskan atau tetap diurus. Penyelesaiannya sangat berpengaruh terhadap kekuatan fiskal Pemkot Bogor," tuturnya.

Dia membeberkan, DPRD juga mencatat bahwa secara administratif APBD Kota Bogor Tahun 2025 masih mencatat surplus sekitar Rp4,6 miliar. Namun, kondisi tersebut dipengaruhi oleh efisiensi belanja maupun belum optimalnya realisasi pengeluaran daerah. DPRD menilai belum tercapainya target pendapatan daerah serta masih tingginya Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) sebesar Rp73 miliar menjadi indikator bahwa fungsi perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan sepanjang 2025 masih perlu ditingkatkan.

"DPRD juga meminta Pemkot Bogor menindaklanjuti seluruh temuan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebagai bagian dari upaya memperkuat akuntabilitas dan transparansi pengelolaan keuangan daerah," tuturnya.


Editor : Doni Ramdhani