Situs Mulka Payung, Legenda Mahkota Puteri Raja yang jadi Batu dari Desa Mukapayung

Situs peninggalan sejarah dan purbakala yang tersebar di beberapa tempat di Kabupaten Bandung Barat, menjadi potensi sekaligus tantangan.

Situs Mulka Payung, Legenda Mahkota Puteri Raja yang jadi Batu dari Desa Mukapayung
Situs Mulka Payung di Desa Mukapayung, Cililin, KBB.

INILAHKORAN, Ngamprah - Situs peninggalan sejarah dan purbakala yang tersebar di beberapa tempat di Kabupaten Bandung Barat, menjadi potensi besar sekaligus tantangan dalam hal pengembangan dan pengelolaan di masa mendatang.

Peninggalan budaya hasil buatan manusia dan alam ini dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bandung Barat (KBB) mencatat, baru 115 situs peninggalan sejarah dan purbakala yang terinventarisasi.

Baca Juga: Waspada Situs Palsu! Satgas Covid-19 Tegaskan yang Resmi Hanya Pedulilindungi.id

Kendati demikian, dari jumlah tersebut belum dideskripsikan secara maksimal baik sebagai dokumen maupun media informasi.

Salah satu situs peninggalan sejarah yang menarik untuk digali adalah situs Mulka Payung atau Mungkal Payung.

Berlokasi di sebelah selatan dari Ibu Kota Kabupaten Bandung Barat dengan jarak sekitar 22 km atau lebih tepatnya di Kampung Mulka Payung, Desa Mukapayung, Kabupaten Bandung Barat.

Baca Juga: Disparbud Kota Bogor Segera Tata Kawasan Situs Batutulis

Untuk menuju ke situs Mulka Payung kondisi jalan cukup baik. Pasalnya, posisi objek berada di sebelah kiri Jalan Raya Cililin-Sindangkerta (dari arah utara).

Keberadaannya sendiri berada di atas bukit kecil yang dilengkapi dua buah saung kecil yang berfungsi untuk berteduh para peziarah yang datang.

Kepala Seksi Sejarah dan Cagar Budaya pada Disparbud KBB Asep Diki Hidayat menuturkan, berdasarkan penuturan masyarakat setempat situs tersebut awalnya berupa payung atau mahkota putri raja.

Baca Juga: Menapaki Jejak Sejarah Kewedanan Cililin

"Lokasi situs yang berada di atas bukit itu merupakan tempat di mana putri Raja Padjadjaran menunggu Mundinglaya yang akan menyerahkan azimat salaka domas kepada raja melalui putrinya," tuturnya, Selasa 21 September 2021.

Kendati demikian, lanjut dia, azimat salaka domas tidak sampai ke tangan putri raja lantaran Patih Mundinglaya terkena musibah masuk ke lubang jebakan yang dibuat oleh Patih Jongrang Kala Pitung.

"Lambat laun payung mahkota yang memayungi putri raja berubah wujud menjadi batu yang menyerupai payung dan posisi di sebelah timurnya serupa dengan manusia," bebernya.

Baca Juga: Belajar dari Sekelumit Catatan Sejarah Soal Wabah

Menurutnya, secara kasat mata batu tersebut merupakan hasil dari fenomena alam atau peristiwa geologis.

"Untuk mencari nilai arkeologi dan historisnya diperlukan penelitian-penelitian yang mendalam," ujarnya.

Namun, sambung dia, legendanya sendiri bisa dijadikan sumbangan bagi khazanah untuk tugas dan fungsi seksi bina budaya.

Baca Juga: Stafsus Presiden: Situs Liyangan Laboratorium Peradaban Masa Lalu

"Bagi masyarakat yang mempercayainya, situs tersebut diyakini memiliki kekuatan supranatural sehingga di hari atau waktu tertentu sering diziarahi oleh masyarakat dari berbagai kalangan," ucapnya.

Ia menambahkan, situs Mulka Payung ini sudah terdaftar sebagai cagar budaya/ situs di Disparbud KBB pada 30 Juli 2015.

"Situs tersebut sudah terdaftar di kita dengan nomor registrasi 02/Sit.M.Payung/Ci," tandasnya. (agus satia negara)


Editor : inilahkoran