Tinjau Lokasi Banjir Bandang di Cimareme, BPBD KBB Temukan Sejumlah Tanggul Jebol

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali meninjau lokasi banjir bandang di Kecamatan Cimareme

Tinjau Lokasi Banjir Bandang di Cimareme, BPBD KBB Temukan Sejumlah Tanggul Jebol
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali meninjau lokasi banjir bandang di Kecamatan Cimareme, Bandung Barat.
 
INILAHKORAN, Ngamprah - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat (KBB) kembali meninjau lokasi banjir bandang di Kecamatan Cimareme, Bandung Barat.
 
Kalak BPBD KBB, Duddy Prabowo mengatakan, banjir bandang tersebut terjadi akibat hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Bandung Barat (KBB)  pada Selasa 15 Februari 2022, sekitar pukul 12.30 WIB sampai 14.30 WIB.
 
"Kemudian, sekitar pukul 15.00 WIB air meluap atau kurang lebih dua jam, karena pada pukul 17.00 WIB banjir itu sudah mulai surut," katanya, saat ditemui wartawan Rabu 16 Februari 2022.
 
 
Ia menjelaskan, bencana ini lebih diakibatkan karena debit air yang tinggi dan sungai tidak mampu menampung aliran air yang cukup deras dan volume yang cukup besar, sehingga  meluap dan menggenangi lebih kurang 41 rumah yang terdampak.
 
"Khusus di Desa Margajaya memang kondisinya paling parah, yakni sekitar 22 rumah," jelasnya.
 
Ia menyebut, memang ada beberapa titik banjir bandang seperti di Gadobangkong, Cilame, Cimareme dan Tanimulya, namun hanya ada dua sampai tiga rumah yang terdampak.
 
 
"Hanya paling parah di sini dan solusinya perlu dilakukan langkah-langkah perbaikan tanggul di sebelah timur atau peninggian tembok penahan tanah (TPT) di sebelah timur, kalau melihat aliran air," sebutnya.
 
Termasuk, sambung dia, ada beberapa saluran atau tanggul yang harus dibenahi, itu ada tujuh meter di sebelah barat yang jebol juga.
 
"Ini saya kira perlu dilakukan langkah-langkah segera untuk penanganan," ujarnya.
 
 
Menurutnya, peristiwa banjir bandang di kawasan Cimareme ini merupakan kejadian kedua lantaran  di awal tahun 2020 kejadian yang sama sempat terjadi, bahkan menerjang satu kompleks.
 
"Karena sedimentasi dan sampah terjadi pendangkalan di beberapa titik Sungai Cihaur ini," tuturnya.
 
Sesuai dengan prediksi BMKG, jelas dia, bahwa musim penghujan ini terjadi sampai akhir April 2022, termasuk sesuai dengan arahan Gubernur Jawa Barat bahwa masing-masing kabupaten/kota untuk melakukan langkah antisipatif siaga darurat.
 
 
"Ini sudah kita tindaklanjuti di KBB berdasarkan surat keputusan bupati, bahkan terhitung dari awal November 2021 sampai dengan akhir April 2022," bebernya.
 
Disinggung terkait adanya korban yang mengungsi, ia menegaskan, tidak ada korban yang mengungsi.
 
"Jadi malam tadi kita patroli dengan camat dan Muspika, termasuk dewan dan kades untuk menyisir ke rumah-rumah dan masyarakat bergotong royong untuk secara mandiri melakukan pembersihan dan sampai saat ini masih bisa ditempati," tuturnya.
 
 
Bahkan, tambah dia, pihaknya pun sudah menawarkan jika diperlukan tenda darurat untuk pengungsian, namun saat ini masih belum diperlukan.
 
"Sampai saat ini korban jiwa nihil," pungkasnya.*** (agus satia negara).


Editor : inilahkoran