Kenalkan Seni Tradisional Sambil bermain Angklung ala SLBN Cicendo
SLBN Cicendo menggelar ekskul Angklung sambil mengenalkan alat seni tradisional kepada para siswa siswi di SLBN Cicendo Kota Bandung
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Cicendo Kota Bandung, memiliki sebuah ekstrakurikuler (ekskul) angklung. Pesertanya cukup banyak, ada sekitar 30 siswa-siswi.
Sebelum pandemi Covid-19, dari ke-30 anak-anak itu dari mulai Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Sekolah Menegah Pertama Luar Biasa (SMPLB) dan Sekolah Menegah Atas Luar Biasa (SMALB), mereka biasanya berlatih angklung bersama pembinanya, yakni guru SLBN Cicendo Kota Bandung.
"Tujuan dari ekskul angklung ini meningkatkan kesenian anak-anak, kebetulan angklung juga alat musik tradisional Sunda, jadi ini untuk mengenalkan kebudayaan alat musik tradisional kepada peserta didik," ujar Guru SLBN Cicendo Kota Bandung Retno Sulandari, Rabu 6 April 2022.
Baca Juga: Masuk PPKM Level 2, Pemkot Bandung Tambah Relaksasi Kapasitas Sektor Usaha
Menurut dia, biasanya ekskul angklung SLBN Cicendo Kota Bandung, kerap kali tampil di depan khalayak umum. Seperti di kampus-kampus ternama, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Institut Teknologi Bandung (ITB), peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) di Kemdikbudristek.
"Terus ada even-even dari Disdik Jabar yang memang harus ada menampilkan seninya, kita diundang ke acara tersebut. Palimg banyak mereka yang mengikuti angklung itu sebanyak 20 orang," ujar Retno Sulandari.
Dia menyebutkan, kendala yang dihadapi oleh guru, lebih kepada anak-anak pada saat akan tampil dan harus mengumpulkan anak-anak tersebut.
Baca Juga: Spoiler Ikatan Cinta Rabu 6 April 2022: Andin Emosi, Al Kembali Atur Strategi Hadapi Nino
"Anak-anak ini sebetulnya kan hambatannya masalah pendengaran, tapi kalau maslah intelektual mah normal. Jadi kesulitannya hanyacmengsinkronkan saja dengan mereka, dia pegang nada apa dan seterusnya," ucapnya.
Sebagai guru SLB, guru Retno Sulandari pun harus berinteraksi dengan sejumlah siswa-siswi. Misalnya, bagaimana anak cara membunyikan suara angklung yang betul dan bagaimana cara memegang angklung tersebut.
"Mereka kan tidak mendengar bagaimana bunyinya seperti apa, tapi ketika diisyartkan untuk berbunyi sesuai dengan nada bunyi gerakannya. Selama ini memang hambatannya di pendengaran, dan secara intelektual baik-baik saja tidak ada kendala yang berarti," tambah Retno Sulandari. *** (okky adiana)
Editor : inilahkoran


