Menakar Potensi Kopi Bandung Barat dari Hulu ke Hilir
Produksi kopi di KBB sangat potensial dan harus dimanfaatkans ecara maksimal oleh para pelaku usaha mulai dari penanaman hingga modal
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Kabupaten Bandung Barat (KBB) sebagai salah satu daerah pemekaran Kabupaten Bandung memiliki beragam potensi alam yang mampu mendongkrak perekonomian warganya, dan salah satunya kopi.
Kendati demikian, seluruh potensi itu belum tereksplorasi secara maksimal lantaran banyak para pelaku industri yang masih terbentur dalam hal permodalan. Salah satunya industri kopi di KBB.
Ketua Asosiasi Petani Kopi Jabar, Kurnia Danu Miharja mengatakan, keberadaan kopi di Bandung Barat ini sebenarnya sangat potensial. Bahkan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan pemerintahan seperti beberapa komoditi unggulan, yakni teh, coklat dan kopi.
Baca Juga: Butuh Promosi Ekspor, Begini Kondisi Pegiat Kopi KBB Pasca Pandemi
"Yang perlu jadi perhatian adalah kopi yang merupakan komoditas ekspor. Sehingga, harga kopi ini tidak dipengaruhi oleh pasar induk, bahkan tidak dipengaruhi pasar-pasar lokal," katanya saat ditemui belum lama ini.
Kendati demikian, pengaruh pasar internasional seperti saat ini. Pasalnya, dengan adanya peristiwa kekeringan di Brazil secara otomatis berdampak pada harga kopi Jawa Barat, khususnya di KBB menjadi tinggi.
"Cherry di lapangan saja sudah ada dikisaran harga Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu per kilogram," sebutnya.
Baca Juga: Disparbud KBB Tantang Barista Ciptakan Inovasi dari Kopi
Ia menuturkan, hal lain yang harus menjadi perhatian berkaitan dengan potensi kopi Bandung Barat ini antara lain industri kopi ini mampu mendorong penyerapan tenaga kerja.
"Kegiatan-kegiatan lain di bidang kopi ini ada penyerapan tenaga kerja yang berbeda dengan komoditas lain. Kalau komoditas lain ketika dipanen lalu masuk di gudang, setelah di gudang masuk ke pasar sudah terputus," tuturnya.
Berbeda dengan kopi, sambung dia, penyerapan tenaga kerja di bidang kopi ini berjalan terus menerus mulai budidaya, perkebunan, pengolahan pasca panen, roasting sampai di Barista.
Baca Juga: Ribuan Hewan Ternak di KBB Tertular PMK, Dispernakan Mulai Lakukan Vaksinasi Tahap Pertama
"Jadi penyerapan tenaga kerjanya itu dari hulu ke hilir tidak pernah putus. Itu yang harus menjadi pertimbangan bapak-bapak di pemerintahan," pungkasnya. *** (agus satia negara).
Editor : inilahkoran

