INILAHKORAN, Ngamprah - Keberadaan kowi atau wadah atau tempat melebur emas kini terancam punah lantaran pesatnya perkembangan zaman dan mulai berkurangnya peminat.
Kendati demikian, di tengah gempuran zaman dan teknologi masih ada sekelompok orang yang konsisten dalam mempertahankan pembuatan kowi.
Salah satunya seperti yang dilakukan Darman (75) warga Kampung Nyalindung, Desa Singajaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Bersama istri dan keempat pegawainya, Darman tetap gigih melestarikan tradisi pembuatan kowi yang dirintisnya sejak tahun 1973 silam.
"Dari awal merintis, saya hanya mampu memproduksi kowi sebanyak 50-100 buah kowi," katanya kepada wartawan.
Ia mengaku, dahulu produk kowi yang dibuatnya dijajakan dengan cara dipikul dan dipasarkan ke Kota Bandung.
"Di awal penuh lika-liku dan penuh kisah pilu dalam prosesnya, namun pada tahun 1985 produk kowi kami mulai diakui di pasaran," ujarnya.
Sedikitnya, sebut dia, dalam sebulan dirinya kerap memproduksi sebanyak 2.000 kowi per bulan.
"Alhamdulillah, karena banyak peminatnya warga juga banyak yang diberdayakan," sebutnya.
Di masa emasnya, kowi dari Desa Singajaya banyak diminati konsumen, seperti dari Jakarta dan Tegal, termasuk banyak yang datang langsung ke pabrik pembuatan kowi.
"Dua daerah tadi paling banyak pesan kowi, bahkan sampai ada yang datang ke pabrik," ucapnya.
Ia menjelaskan, kowi yang dibuatnya dijual dengan harga Rp 2.000 per bijinya. Namun, meski harganya murah para pengrajin tetap bertahan dan lebih memilih memproduksi kowi.
"Dari 16 pegawai, tinggal empat orang yang masih eksis buat kowi lantaran butuh penghasilan juga untuk keluarganya. Melihat hal itu, mau tidak mau kami harus bertahan juga," ujarnya.
Namun demikian, kecilnya keuntungan yang diterima tak lantas membuat pengrajin kowi meninggalkan tradisi pembuatan kowi yang sudah puluhan tahun dilestarikan.
Para pengrajin kowi ini mengaku keuntungan yang didapat kecil, bahkan tak seberapa.
"Belum pernah ada yang mau menyuntikkan dana atau modal. Bahkan, pemerintah pun belum pernah memberikan bantuan," keluhnya.
Ia berharap, Pemda KBB bisa memberikan bantuan berupa modal usaha agar pembuatan kowi ini bisa kembali bangkit.
"Kami bertahan untuk warga yang tidak bekerja,” pungkasnya.*** (agus satia negara).