Bandung Termacet di Indonesia, Farhan Siap Tindaklanjuti dengan Pendekatan Berbasis Data

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menanggapi, serius hasil survei TomTom Traffic Index yang menempatkan Kota Bandung sebagai kota termacet di Indonesia.

Bandung Termacet di Indonesia, Farhan Siap Tindaklanjuti dengan Pendekatan Berbasis Data
Wali KOta Bandung Muhammad Farhan

INILAHKORAN, bandung - Wali Kota bandung, Muhammad Farhan menanggapi, serius hasil survei TomTom Traffic Index yang menempatkan Kota bandung sebagai kota termacet di Indonesia.

Menurutnya, kemacetan memang merupakan persoalan nyata yang selama ini dirasakan warga dan kini menjadi salah satu prioritas utama di masa awal pemerintahannya.

“Saya menghargai ada lembaga survei yang memberikan data seperti ini. Survei TomTom saya baru dengar. Tapi kalau ini lembaga internasional yang kredibel. Saya sangat ingin mengundang mereka ke bandung untuk memaparkan hasilnya,” kata Farhan, Rabu 9 Juli 2025.

Ia menyebut, pendekatan berbasis data menjadi kunci dalam menyelesaikan masalah kemacetan. Pihaknya, saat ini masih berusaha melacak pengelola lembaga tersebut guna menggali lebih dalam informasi yang mereka miliki.

“Kalau data TomTom bisa menjadi biodata mobilitas warga, tentu akan sangat membantu kami dalam pengambilan kebijakan,” ucapnya.

Farhan menyebut, titik kemacetan paling parah di bandung terjadi di Jalan Soekarno Hatta terutama pada jam-jam sibuk yakni pukul 06.00 hingga 10.00 pagi dan 16.00 hingga 20.00 malam. Jalan ini merupakan akses utama dari arah barat, selatan dan timur bandung.

Namun, ia mencatat adanya pola yang berbeda di wilayah utara seperti di Jalan Ir H Juanda, Sukajadi dan Setiabudi yang hanya mengalami kepadatan pada sore hari.

“Ini menarik. Ada perilaku mobilitas warga bandung yang khas, tapi datanya masih belum lengkap. Kita masih banyak asumsi,” ujar dia.

Farhan juga menyampaikan, pentingnya kolaborasi dengan berbagai pihak. Terutama lembaga teknologi global, untuk memahami pola mobilitas masyarakat secara lebih komprehensif.

Ia bahkan membuka kemungkinan untuk menggunakan big data, dan blockchain sebagai bagian dari solusi jangka panjang. “Sudah saatnya Kota bandung terbuka terhadap berbagai bentuk kerja sama, khususnya di bidang teknologi digital untuk mengatasi kemacetan yang semakin parah,” tandasnya. *


Editor : Ahmad Sayuti