Banjir Bikin Usaha Isi Ulang Air Mang Aman Lumpuh

Banjir yang merendam Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang melumpuhkan kegiatan ekonomi rakyat.

Banjir Bikin Usaha Isi Ulang Air Mang Aman Lumpuh
INILAH,Bandung- Banjir yang merendam Kecamatan Baleendah, Dayeuhkolot dan Bojongsoang melumpuhkan kegiatan ekonomi rakyat.
 
Seperti yang dirasakan oleh Aman (69) salah seorang warga Jalan Anggadireja, Kampung Cigado RT 3 RW 9 Kelurahan/ Kecamatan Baleendah, sejak tiga pekan ini usaha isi ulang air kemasan dan suku cadang motornya terganggu banjir.
 
Menurut Aman, banjir setinggi 50 cm yang merendam rumah dan tempat usahanya itu sebenarnya masih belum terlalu menghambat usaha antar jemput air isi ulang. Namun yang jadi masalah adalah akses jalan dan pekiman warga yang selama ini menjadi konsumennya juga saat ini sama sama digenangi air. Bahkan ketinggian air di pemukiman warga itu ada yang mencapai 3 meter. Kata dia, genangan air sudah terjadi selama dua pekan terakhir ini.
 
"Mau antar galon bagaimana, toh jalannya terendam banjir. Begitu juga para pelanggan saya sekarang mah boro boro beli air galon, mereka juga enggak ada di rumah pada ngungsi. Yah banjir seperti selain menyusahkan warga, yah bikin susah juga buat orang yang punya usaha, kata Aman di Kampung Cigado, Selasa (9/4/2019).
 
Dikatakan Aman,  jika dalam keadaan normal, dalam sehari rata rata ia bisa menjual sekitar 100 galon air isi ulang, ditambah dengan penjualan gas LPG yang cukup lumayan laku. Begitu juga dengan penjualan suku cadang motor yang juga miliknya memiliki banyak pelanggan. Namun sayangnya,  daerah tempat usaha yang sekaligus menjadi rumahnya itu selalu menjadi langganan banjir. Alhasil, setiap musim hujan tiba, usahanya itu selalu sepi.
 
"Semua yang punya usaha disepanjang Jalan Anggadireja ini yah sama sama sepi karena kebanjiran. Apalagi di pemukiman warga dibelakang jalan ini, genangan air dari mulai 50 cm sampai 2 meter an. Jadinya warga enggak belanja, yang ada ngurusin rumah yang kebanjiran ajah,"ujarnya.
 
Aman melanjutkan, dari tahun ke tahun banjir dirasakannya semakin meluas. Kondisi ini terjadi sejak tahun 2000 an lalu atau setelah dilakukannya pelurusan jalur Sungai Citarum oleh pemerintah. Dampaknya, banjir semakin sering dan meluas menggenangi pemukiman.
 
"Saya tinggal disini dari 1990 an, dulu enggak pernah banjir. Punya usaha juga tenang, masyarakat juga daya belinya bagus karena usaha atau kerjanya berjalan dengan baik, enggak mikirin banjir kayak sekarang. Nah banjir itu mulau tahun 2000 an, setelah Citarumnya diluruskan air jadi cepat datangnya sedangkan dasar sungainya dangkal. Akibatnya yah meluap ke pemukiman kami," ujarnya.


Editor : inilahkoran