INILAHKORAN, Ngamprah – Banjir kembali melanda Kampung Cikole, Kecamatan lembang, Kabupaten bandung barat (KBB), Senin 29 September 2025.
Hujan deras yang mengguyur sejak siang menyebabkan puluhan rumah
warga terendam air setinggi lutut orang dewasa, sekitar 40 sentimeter. Peristiwa ini menambah daftar panjang
Banjir yang kerap melanda kawasan tersebut dalam dua tahun terakhir.
Seorang
warga, Dani Rajiban (25), dilaporkan terluka parah akibat material batu yang terbawa arus
Banjir. Ia segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.
Banjir ini diduga kuat terkait dengan maraknya pembangunan kafe, restoran, tempat wisata, serta camping ground di kawasan hutan resapan Cikole.
Pembangunan masif ini dinilai mengurangi daya serap tanah, sehingga air langsung meluap ke pemukiman
warga saat hujan deras. Akibatnya,
Banjir kini menjadi langganan tahunan, bahkan bulanan.
warga Kampung Cikole RT05/07, Tanti Juliani menuturkan, air dengan cepat masuk ke rumah-rumah hingga menggenangi seluruh ruangan. Beberapa
warga terpaksa mengangkat barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari kerusakan.
"Sudah capek rasanya setiap hujan harus mengungsi barang-barang. Saya sangat kecewa dengan kondisi ini," kata Tanti, Selasa 30 September 2025.
Menurutnya, rumahnya selalu terendam
Banjir setiap kali hujan turun dalam beberapa bulan terakhir. Padahal, rumahnya berada di wilayah paling tinggi dan dekat dengan kawasan hutan Cikole.
"Heran saja, rumah saya yang di ujung dan paling tinggi tetap bisa kebanjiran. Ini jelas ada yang salah dengan tata kelola kawasan wisata di hutan itu," ungkap Tanti.
Banjir juga dirasakan masyarakat sekitar Pasar Ahad. Luapan air yang deras bahkan menyerupai aliran sungai dan menggenangi jalan raya. Kondisi ini mengganggu arus lalu lintas dari arah Subang menuju Bandung. Aspal jalan pun ikut terkikis derasnya air, menambah kerusakan infrastruktur di wilayah tersebut.
warga menyebut sebagian besar air yang meluap berasal dari kawasan hutan resapan Cikole. Alih fungsi lahan menyebabkan air hujan tidak lagi terserap tanah, sehingga aliran air deras langsung menuju pemukiman dan jalan utama.
"Kalau terus dibiarkan, kerusakan bisa lebih parah lagi," kata seorang tokoh masyarakat setempat.
Sayangnya, hingga kini Pemerintah Kabupaten
bandung barat belum menunjukkan langkah nyata untuk menanggulangi masalah
Banjir ini.
warga menilai pemerintah seakan menutup mata meski kerugian material sudah berulang kali dialami masyarakat. Bahkan, hingga tingkatan provinsi pun belum ada perhatian serius terkait permasalahan yang semakin memburuk ini.
"Apakah harus menunggu korban jiwa dulu baru pemerintah bergerak?" keluh seorang
warga lainnya.
Masyarakat berharap pemerintah segera mengevaluasi pembangunan wisata di kawasan hutan resapan Cikole agar bencana
Banjir tidak terus menjadi ancaman.
"Kami juga meminta solusi jangka panjang berupa normalisasi saluran air dan penghijauan kembali lahan hutan yang kini semakin sempit," katanya. ***