Bantah Dugaan Bullying di Tempat Kerja, Apsifor Sebut Arya Daru Justru Diandalkan dan Dihormati

Apsifor membantah adanya dugaan bullying yang diterima oleh Arya Daru di tempat kerja.

Bantah Dugaan Bullying di Tempat Kerja, Apsifor Sebut Arya Daru Justru Diandalkan dan Dihormati
Kematian Arya Daru

INILAHKORAN - Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor) Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) membantah dugaan adanya perilaku perundungan (bullying) terhadap diplomat muda Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Arya Daru Pangayunan (ADP), di lingkungan kerjanya. 

Hal ini disampaikan dalam konferensi pers hasil asesmen psikologis forensik terhadap kasus kematian Arya di Mapolda Metro Jaya, Selasa 29 Juli 2025.

Perwakilan Apsifor, Nathanael E.J. Sumampouw, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan evaluasi mendalam terhadap kehidupan pribadi dan profesional Arya.

Proses tersebut meliputi wawancara terhadap keluarga, rekan kerja, atasan, hingga individu-individu yang mengenal almarhum, serta analisis terhadap dokumen dan data-data yang relevan.

“Berkaitan dengan isu bullying, kami justru menemukan hal sebaliknya. Tidak ada indikasi bahwa almarhum menjadi korban perundungan di lingkungan kerja,” kata Nathanael.

Ia menyampaikan bahwa Arya justru dipandang sebagai sosok yang sangat bisa diandalkan oleh atasan, dan dikenal sebagai pribadi yang bertanggung jawab, suportif, pekerja keras, serta menjadi tempat bertanya dan motivator bagi rekan kerja, terutama kalangan junior.

“Beliau dipersepsikan sebagai rekan kerja yang sangat positif dan dihormati,” ujarnya.

Apsifor menambahkan, dari berbagai keterangan yang dikumpulkan, tidak terdapat catatan atau laporan perilaku intimidatif yang diarahkan kepada Arya di lingkungan Kementerian Luar Negeri.

“Temuan kami menegaskan bahwa tidak ada dinamika kerja yang menunjukkan tekanan dari pihak lain yang bersifat perundungan,” tegas Nathanael.

Namun demikian, Apsifor tetap mencatat adanya tekanan psikologis yang dialami Arya dari dalam dirinya sendiri, yang diinternalisasi dan tidak banyak ditunjukkan secara terbuka. Tekanan tersebut, menurut Nathanael, lebih berkaitan dengan bagaimana Arya memandang dirinya dan beban ekspektasi terhadap peran serta pencapaian profesionalnya.

“Almarhum dikenal berusaha menjaga citra dan kualitas diri, namun mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosi negatif dalam kondisi tekanan,” katanya.

Mengenai riwayat psikologis, Nathanael juga mengungkapkan bahwa Arya pernah mengakses layanan kesehatan mental secara daring pada tahun 2013 dan 2021, yang menunjukkan adanya kesadaran untuk mencari bantuan.

Pernyataan Apsifor ini sekaligus merespons spekulasi publik mengenai kemungkinan adanya tekanan eksternal yang memengaruhi kondisi mental Arya menjelang wafat. 

Laporan ini juga menjadi bagian dari hasil penyelidikan yang dilakukan secara multidisipliner oleh tim gabungan, termasuk kepolisian, forensik medis, dan ahli psikologi forensik.


Editor : Firda Rachmawati