Baru 5 Persen PT di Jabar Yang Laksanakan Tracer Study
Baru lima persen perguruan tinggi di Jabar yang melaksanakan tracer study untuk melacak para lulusannya di dunia kerja.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung – Koordinator Pusat Karir Perguruan Tinggi (PT) Wilayah Jawa Barat Pipin Sukandi mengatakan baru lima persen perguruan tinggi di Jabar yang melaksanakan tracer studi.
Universitas Widyatama salah satu perguruan tinggi yang menerima hibah berupa bantuan fasilitasi pusat karir dari 259 perguruan tinggi di Indonesia.
Hibah diberikan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Kemendikbud, dalam keggiatan laporan hasil tracer study tersebut dilakukan di Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua Bali pada 5-7 Desember 2021 lalu.
Baca Juga: Tracer Study, Cara Jitu Unas Pasim Evaluasi Kurikulumnya
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widyatama (UTama) Pipin Sukandi, ditunjuk oleh Kemdikbud sebagai Koordinator Pusat Karir Wilayah Jawa Barat.
"Karena saat ini di Indonesia khususnya Wilayah Jawa Barat kurang lebih baru 5 persen perguruan tinggi yang benar-benar menjalankan tracer study. Sehingga dengan adanya bantuan dari Kemdikbud khususnya untuk pelaksanaan tracer study, maka perguruan tinggi akan dengan serius melakukan pelacakan para lulusannya," kata Pipin Sukandi, Minggu 12 Desember 2021.
Dia mengatakan, lulusan tahun 2021 ini yang harus ditracer oleh perguruan tinggi yaitu lulusan tahun 2019 dan 2020. Maksud dari tracer study ini adalah untuk mengetahui kondisi terakhir lulusan dari perguruan tinggi tersebut, baik dari jenis pekerjaan atau berwirausaha, kompetensi lulusan, keselarasan mendapatkan pendidikan dengan dunia kerja dan masih banyak lagi.
Banyak perguruan tinggi yang masih belum memahami pentingnya dari pelacakan lulusan atau tracer study ini. Tidak sedikit pusat karir pun masih digabungkan dengan unit lain karena merasa tidak ada andil yang besar dari unit pusat karir ini.
Baca Juga: UIN SGD Bandung Luncurkan Program Tracer Study 2021, Apa Itu?
"Padahal dengan adanya pusat karir di perguruan tinggi, tidak hanya tracer study saja kita akan memperoleh data untuk pengembangan kurikulum, tapi beberapa kegiatan seperti pameran bursa kerja, campus rekrutment dan lain-lain dapat membantu mahasiswa yang akan segera lulus untuk mendapatkan pekerjaan," ucap Pipin Sukandi.
Terlebih lagi, lanjut dia, jika perguruan tinggi tersebut melakukan survey kepada pengguna yaitu perusahaan. Maka sangat mudah untuk mengetahui kebetuhan industri
saat ini, apakah sudah relevan dengan kurikulum yang dijalankan. Jangan sampai merasa kurikulum sudah hebat tetapi kenyataan di dunia industri dan dunia usaha tidak terpakai.
Baca Juga: Festival Kesenian Indonesia XI 2021 Ajang Silaturahmi Perguruan Tinggi Seni
Sehingga sangat perlu sekali kolaborasi antara pusat karir dengan dunia usaha dunia industri (DUDI), apalagi saat ini Mendikbud mencanangkan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) bagi perguruan tinggi, sehingga kolaborasi antara perguruan tinggi dengan dunia industri sangat baik.
"Para lulusan pun akan dengan mudah mendapatkan pekerjaan atau berwirausaha. Target Kemdikbud pun lulusan maksimal 6 bulan dari kelulusan sudah mendapatkan pekerjaan atau berwirausaha. Sehingga dengan adanya MBKM dimana salah satunya ada praktik magang dapat memudahkan mahasiswa beradaptasi dalam dunia kerja sesungguhnya," paparnya.
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemdikbud Aris Junaidi mengatakan, bahwa pentingnya pelacakan lulusan dari perguruan tinggi agar perguruan tinggi dapat mempersiapkan lulusan memasuki persaingan dunia kerja.
Baca Juga: Pertama Kali JFLS 2021 Hadirkan Perguruan Tinggi di Luar Jabar
"Selain itu perguruan tinggi dapat merancang kurikulum berdasarkan umpan balik lulusan dan sebagai indikator kinerja utama pada perguruan tinggi," kata Aris Junaidi. *** (Okky Adiana)
Editor : inilahkoran

