Begini Cara Anne Tingkatkan Minat Baca Masyarakatnya
Buku, merupakan jendela ilmu. Dengan buku, semua rahasia tentang pengetahuan dunia akan terungkap. Salah satu kunci untuk membukanya, tak lain adalah dengan membaca.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Purwakarta – Buku, merupakan jendela ilmu. Dengan buku, semua rahasia tentang pengetahuan dunia akan terungkap. Salah satu kunci untuk membukanya, tak lain adalah dengan membaca.
Namun sayang, seiiring berkembangnya teknologi, penggemar baca buku pun semakin berkurang. Bahkan, saat ini budaya membaca nyaris dilupakan oleh generasi muda. Jika melihat data yang dirilis United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), minat baca masyarakat di Indonesia hanya di angka 0,001 persen.
Dengan kata lain, dari seribu penduduk Indonesia hanya satu orang yang memiliki minat baca. Angka tersebut, ternyata tak jauh beda dengan yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Hal mana, data BPS tahun 2012 menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi.
Mungkin, saat ini yang cenderung lebih diperhatikan, yakni tayangan televisi, sosial media dan permainan elektronik digital lainnya. Apalagi, saat ini sedang trend fasilitas-fasilitas hiburan yang menggunakan jaringan internet.
Atas dasar itu, Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika menggagas sebuah program sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk melestarikan dan meningkatkan budaya baca di masyarakat. Salah satunya, dengan memaksimalkan peran perpustakaan daerah (Perpusda). Yakni, dengan program Pojok Baca.
“Kedepan, kami siapkan perpustakaan di setiap desa,” ujar Anne kepada INILAH, Jumat (1/11/2019).
Anne menjelaskan, tujuan dibangunnya perpustakaan saba desa ini tak lain untuk menggenjot minat baca masyarakat, terutama yang ada di pedesaan. Menurutnya, spirit literasi masyarakat pedesaan juga perlu ditingkatkan karena berbagai alasan.
“Konten sosial media saat ini, sudah menjadi konsumsi semua kalangan tanpa kecuali. Banyak berita bohong yang tersebar di sana. Tapi, mereka yang memiliki bekal literasi yang cukup, dipastikan tidak akan terpengaruh isu hoax. Makanya, kami tekankan lagi pengetahuan warga melalui peningkatan minat baca ini,” jelas dia.
Anne menjelaskan, pojok baca merupakan hasil buah pikirnya yang timbul saat berkeliling dalam kegiatan ‘Gempungan’. Saat itu, Anne menginisiasi perpustakaan keliling dan ternyata animo warga, baik para pelajar maupun masyarakat umum cukup besar dengan kehadiran perpustakaan keliling ini.
“Saat ini, konsepnya kita ubah. Jadi, bukan lagi perpustakaan keliling, tapi kita bangun perpustakaannya di setiap desa. Ruang terbuka hijau di sekitar perpustakaan desa itu kita namakan pojok baca. Literasi konvensional bisa melalui buku, literasi digital melalui akses internet gratis yang kita berikan,” kata dia.
Selain di pedesaan, saat ini pihaknya juga telah menyediakan perpusatakaan zaman now di pusat kota. Uniknya, penataan perpustakaan kali ini dibuat dengan tema kekinian. Yakni mengusung konsep digital berbasis aplikasi. Jadi, perpustakaan tersebut dibuat dengan sistem digital (e-book), namun tetap tidak mengesampingkan buku konvesional.
“Saat ini di Perpusda telah tersedia dua penampilan. Yakni, buku yang ada bentuk fisiknya (konvensional). Serta, buku yang bisa diakses secara digital. Baik, melalui telepon selular, laptop ataupun komputer (e-book),” tambah dia.
Terkait buku yang tersedia di perpustakaan ini, kata dia, sangat beragam. Di tahap pertama dulu, di perpustakaan seluas 500 meter ini ada sedikitnya 3.600 judul buku digital, dan 25 ribu judul buku konvensional. Mayoritas, yang tersedia merupakan buku pengetahuan.
“Mudah-mudahan, kehadiran perpustakaan zaman now ini bisa meningkatkan minat baca. Ini juga, bagian dari komitmen kami meningkatkan SDM di semua tingkatan dan usia,” pungkasnya. (Asep Mulyana)
Editor : JakaPermana


