Bencana di Enam Daerah, Pemprov Anggarkan Hingga Rp6 Miliar

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat siapkan anggaran sekitar Rp6 miliar untuk pemulihan dan pertolongan tanggap darurat. Hal ini menyusul bencana yang terjadi belakangan ini.

Bencana di Enam Daerah, Pemprov Anggarkan Hingga Rp6 Miliar
Gubernur Jawa Barat (Jabar) M Ridwan Kamil. (antara)

INILAH, Bandung - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat siapkan anggaran sekitar Rp6 miliar untuk pemulihan dan pertolongan tanggap darurat. Hal ini menyusul bencana yang terjadi belakangan ini.

Diketahui, Pemprov Jabar telah menetapkan status tanggap darurat di enam daerah terdampak, yaitu Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Karawang, dan Indramayu.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan bencana yang terjadi di Jabar ini tidak terlepas dari curah hujan terekstrem yang terjadi sejak tahun 2007. Adapun banjir yang terjadi tersebut merupakan bagian dari musibah di seluruh Indonesia.

"Data BNPB dan BMKG 12 tahun terakhir (curah hujan) paling tinggi. Disebut hujan yang besar itu kan sekitar 100 mm, ini di Halim itu 377 mm. Jadi memang penanganannya mengalami banyak kendala," ujar Ridwan Kamil usai Rapat Pimpinan (Rapim) di Kantor DP3AKB Jawa Barat, Jalan Sumatera, Kota Bandung, Jumat (3/1/2020).

Emil -sapaan Ridwan Kamil-, berharap seluruh pihak turut fokus pada situasi tanggap darurat ini. Dia juga mengimbau agar tidak ada pihak yang saling mengalahkan. Diketahui, status tanggap darurat pada enam daerah itu berlaku hingga dua minggu. Alasannya, cuaca ekstrem ini masih akan terjadi lima sampai tujuh hari ke depan.

"Dengan adanya status tanggap darurat, maka kita akan memberikan bantuan mungkin sekitar Rp5 atau Rp6 miliar kepada daerah-daerah tersebut untuk recovery dan pertolongan tanggap darurat," jelas dia.

Secara teknis, dia akan menyerahkan segala sesuatunya kepada kepala daerah di wilayah terdampak. Jika upaya mereka tidak maksimal, maka pihak Pemerintah Provinsi ikut turun tangan.  Menurut dia hal itu berbeda dengan DKI Jakarta. Di mana di DKI gubernur dapat langsung ke teknis. Sementara di Jawa Barat hal teknis berada di ranah  bupati dan wali kota.

Maka jika ada permasalahan dinamika termasuk bencana, pasti bupati/wali kota yang pertama melakukan upaya dulu. "Kalau upayanya belum maksimal, butuh bantuan lalu kami turun untuk melakukan pertolongan, dan lintas provinsi sudah memang levelnya tidak memungkinkan baru ke presiden," katanya.

Lebih lanjut, menurut dia, terdapat berbagai dinamika yang dihadapi dalam penanganan banjir. Beberapa di antaranya, kesulitan akses menuju lokasi hingga keengganan sejumlah warga dievakuasi.

Berdasarkan data Basarnas, ada 11 desa di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, terisolir akibat akses yang terputus karena longsor yang menimbun Desa Harkat Jaya dengan kedalaman longsoran mencapai 6 meter. "Bupati dengan Basarnas sudah melakukan upaya, jadi memang Bogor ini luas, ada satu lokasi harus ditembus cara cara khusus, dan itu sulit," katanya.

Selain itu, dia mengaku belum bisa menyatakan jumlah pasti keluarga yang terdampak banjir. Saat ini, pihaknya fokus melakukan evakuasi dan memberikan kebutuhan. Hanya saja, ada sejumlah warga yang memilih bertahan di rumahnya yang masih tergenang.

Namun, lanjut Emil, pihaknya masih terus melakukan pendataan keluarga yang terdampak secara detail. Selain itu memastikan sistem penanganan pengungsian tetap berjalan dengan baik.

"Di Kota Bekasi, ternyata tidak semua ingin dievakuasi, setengah warga yang saya bertemu sambil naik perahu karet, bertahan ingin mungkin seburuk-buruknya di luar ingin nyaman di rumahnya sendiri, hanya mereka minta disuplai makanan saja," tuturnya melanjutkan.

Sementara itu, Humas Basarnas Jawa Barat Joshua Banjarnahor mengatakan, di desa yang ada di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, terdapat 400 kepala keluarga (KK) yang terdampak longsor, sebagian besar sudah dievakuasi.

Namun, masih ada tiga orang dikabarkan menjadi korban tertimbun longsor yang terjadi pada Selasa (31/12/2019) itu. Mereka diketahui bernama Amri (60), Saroh (25), Cicih (5). Sampai saat ini, pihaknya mengirimkan tim yang terdiri dari dua regu untuk mencari korban. Salah satu yang menjadi penghambatnya adalah kedalaman longsoran lima sampai enam meter.

"Sementara ini bantuan untuk warga disalurkan via udara (helikopter) karena akses mereka terputus sejak tiga hari yang lalu," kata Joshua.

Lalu, berdasarkan data Polda Jawa Barat,  ada sebanyak 7 orang yang meninggal dunia akibat peristiwa banjir dan longsor yang terjadi di wilayah Jawa Barat dalam kurun waktu sejak malam pergantian tahun, Selasa (31/12/2019).

"Ada empat orang yang meninggal akibat banjir, sedangkan tiga orang lainnya meninggal akibat peristiwa longsor, semuanya terjadi di wilayah Bogor," kata Kabidhumas Polda Jawa Barat Kombes Pol Saptono Erlangga. (rianto nurdiansyah)


Editor : suroprapanca