Beratnya Menggenggam Iman di Akhir Zaman

Akhir zaman yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw, bukanlah isapan jempol belaka. Akhir zaman itu akan tiba. Tanda-tandanya pun sudah mulai terasa.

Beratnya Menggenggam Iman di Akhir Zaman
Ilustrasi (Net)

Akhir zaman yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw, bukanlah isapan jempol belaka. Akhir zaman itu akan tiba. Tanda-tandanya pun sudah mulai terasa. Orang-orang yang jahat, dengan mudah naik ke permukaan.

Sementara orang-orang baik, mereka akan disingkirkan bagaimana pun caranya. Banyak pula orang yang memiliki gelar pendidikan tinggi, namun ilmu yang dimilikinya justru digunakan untuk membodohi orang lain.

Umat Islam yang berpegang teguh membela Agama Allah, mereka seringkali dihina, dicaci maki, bahkan, di antara mereka, ada yang sampai kehilangan nyawanya.

Sungguh, memasuki babak akhir zaman ini tidaklah mudah. Mereka yang menggenggam erat keimanan dalam dirinya, bagaikan menggenggam bara api yang sangat panas.

Rasulullah saw bersabda, “Akan datang pada manusia suatu zaman, di mana orang yang bersabar dalam agamanya, bagaikan orang yang menggenggam bara api,” (HR At-Tirmidzi).

Di akhir zaman, musuh umat Islam bukan hanya yang berasal dari kaum kuffar. Tapi, hadir pula musuh-musuh dari kalangan kaum musyrikin yang berkhianat, orang-orang munafik, penjilat, dan musuh Islam lainnya yang menguasai dunia secara global dengan senjata media, dan segala alutsista untuk menyudutkan umat.

Sebagai muslim yang beriman, kita tak boleh gentar menghadapi segala bentuk perjuangan di akhir zaman. Rasulullah saw sejak 1400 tahun lalu telah memberi semangat kepada umat, untuk tetap sabar kuat menghadapi ujian yang berat. Insya Allah, Allah Swt juga akan memberikan pahala dari setiap perjuangan kita.

“Teruskanlah olehmu untuk selalu melakukan amar makruf nahi munkar, hingga engkau akan menyaksikan kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diperturutkan, kehidupan dunia yang diutamakan, serta orang-orang yang terpesona terhadap berbagai pendapat yang dikeluarkannya. Hendaknya kamu hanya bergaul dengan orang-orang yang searah denganmu, dan jauhilah orang-orang yang awam. Sebab setelah zamanmu itu, akan datang suatu zaman penuh cobaan, di mana orang yang memegang teguh agamanya ibarat menggenggam bara api. Ketahuilah, saat itu orang yang terus berusaha untuk memegangi agamanya, maka pahalanya sama dengan 50 orang yang juga melakukan hal yang sama dari kalian’.” (Kemudian, Abdullah bin Mubarak berkata, “Orang selain Utbah menambahkan riwayat ini dengan redaksi: ‘Apakah yang 50 kali itu dari generasi kami-kami atau generasi mereka?’ Rasulullah saw, ‘untuk mereka’.”) (HR. Abu Dawud, Al-Malâhim,).

Begitu banyak cobaan yang dihadapi oleh seorang mukmin di zaman itu. Kefasikan pada seluruh umat manusia merata hampir di seluruh dunia.

Maka dari itu, sebagai umat Rasulullah saw, kita harus sekuat tenaga mempertahankannya dengan penuh kesabaran. Rasulullah saw juga pernah menyebutkan, zaman itu sebagai zaman ayyamush shabr (hari-hari yang penuh dengan kesabaran ekstra).

Dari hadis yang diriwayatkan Abu Tsa‘labah ra jelas sekali bahwasanya di ayyamush shabr (hari-hari yang penuh ekstra kesabaran) tersebut, masih ada orang-orang yang tetap teguh memegang keimanannya dengan kebenaran dan kesabaran. Mereka inilah At-Thaifah Al-Manshurah, yang hidup dalam keterasingan kedua, di mana keterasingan pertama telah terjadi pada awal risalah Islam.

Semoga kita menjadi salah satu, dari sekian banyak orang yang sabar, dan termasuk ke dalam  kelompok At-Thaifah Al-Manshurah yang diridai Allah Swt. Aamiin. (Moh Rizal Sutrisno)


Editor : suroprapanca