Bermain Sambil Belajar, Sabda Desa Edupark Pangalengan Jadi Solusi Liburan Keluarga

Sabda Desa Edupark di Kampung Cinyiruan, Desa Pangalengan, menjadi destinasi yang mulai dilirik keluarga sebagai alternatif menghabiskan akhir pekan

Bermain Sambil Belajar, Sabda Desa Edupark Pangalengan Jadi Solusi Liburan Keluarga
Salah spot di Sabda Desa Edupark di Kampung Cinyiruan, Desa Pangalengan, Kabupaten Bandung.

INILAHKORAN.ID- Di tengah menjamurnya tempat wisata modern yang dipenuhi permainan digital, sebuah kawasan di kaki Gunung Malabar, Kabupaten Bandung, justru menawarkan pengalaman berbeda. Bukan sekadar mengajak anak bermain, tetapi juga mengenalkan mereka pada alam, sejarah, seni, dan budaya Indonesia.

Sabda Desa Edupark di Kampung Cinyiruan, Desa Pangalengan, menjadi destinasi yang mulai dilirik keluarga sebagai alternatif menghabiskan akhir pekan. Udara pegunungan yang sejuk, pepohonan rindang, serta konsep wisata edukasi menjadi daya tarik utama tempat ini.

Begitu memasuki kawasan, pengunjung langsung disambut suasana hijau yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Anak-anak bebas berlari di ruang terbuka, sementara orang tua menikmati waktu bersama keluarga di saung-saung yang teduh.

Namun, yang membuat tempat ini berbeda adalah hadirnya berbagai wahana edukasi. Miniatur Monumen Nasional (Monas), Candi Borobudur, hingga lintasan lalu lintas lengkap dengan rambu-rambu dibuat untuk memperkenalkan ikon nasional kepada anak sejak usia dini.

Pengelola Sabda Desa Edupark Cinyiruan, Gatot Intan Permana, mengatakan konsep tersebut sengaja dirancang agar aktivitas berlibur memiliki nilai tambah bagi perkembangan anak.

"Kami ingin menyediakan tempat wisata edukasi alternatif bernuansa luar ruangan yang sejuk dengan rindangnya pepohonan. Anak-anak bisa bermain sambil mengenal alam, sekaligus belajar sejarah, seni, dan budaya Indonesia," kata Intan kepada INILAHKORAN.ID di Pangalengan, Minggu (19/7/2026).

Selain miniatur ikon nasional, tersedia pula area bermain anak, papan panjat tebing, kolam renang anak, hingga camping ground bagi keluarga yang ingin menikmati malam di kawasan berhawa dingin khas Pangalengan.

Saat anak-anak sibuk menjelajah dan bermain, orang tua dapat bersantai atau menggelar botram bersama keluarga di bawah rindangnya pepohonan.

Tak hanya menjadi taman bermain, kawasan ini juga berfungsi sebagai laboratorium alam terbuka. Beragam pohon berusia puluhan hingga ratusan tahun seperti cemara, kibadak, hingga pakis tumbuh alami di kawasan tersebut.

Menurut Intan, keberadaan vegetasi yang masih terjaga menjadi media belajar yang efektif bagi anak-anak untuk mengenal lingkungan secara langsung, sesuatu yang kini semakin sulit ditemukan di kawasan perkotaan.

"Selain tanaman teh, masih banyak jenis tanaman lain yang bisa dikenalkan kepada anak-anak. Kami ingin mereka tumbuh dengan rasa cinta terhadap alam sejak dini," ujarnya.

Meski telah ramai dikunjungi, Sabda Desa Edupark masih terus dikembangkan. Pengelola berencana menambah berbagai miniatur ikon nasional lainnya agar semakin banyak pengetahuan yang dapat diperoleh pengunjung.

Targetnya sederhana, menjadikan wisata keluarga tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menanamkan wawasan kebangsaan kepada generasi muda.

"Kami ingin anak-anak pulang bukan hanya membawa pengalaman bermain, tetapi juga ilmu pengetahuan. Karena itu kami juga menjaga harga tiket tetap terjangkau agar semua kalangan bisa menikmati wisata edukasi ini," tutur Intan.

Selama ini, mayoritas pengunjung berasal dari Bandung Raya dan wilayah sekitar Pangalengan. Lonjakan kunjungan biasanya terjadi setiap akhir pekan dan musim liburan sekolah.

Salah seorang pengunjung asal Kota Sumedang, Stevani (29), mengaku sengaja memilih Sabda Desa Edupark sebagai lokasi berkumpul bersama keluarga besar.

Menurutnya, tempat tersebut memberikan ruang bagi semua anggota keluarga untuk menikmati liburan dengan cara masing-masing.

"Orang tua bisa santai sambil botram, anak-anak bebas bermain di alam terbuka. Tempatnya nyaman dan cocok untuk liburan keluarga. Menurut saya lumayan recommended," katanya.


Editor : Ahmad Sayuti