Berpura-pura jadi Rose BLACKPINK hingga Gelar Fansign, Influencer Asal Tiongkok Ini Menuai Kecaman
Influencer asal Tiongkok, Daisy, berpura-pura jadi Rose BLACKPINK hingga menuai kecaman dari penggemar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Nampaknya, Rose BLACKPINK saat ini menjadi salah satu idola yang paling sering banyak ditiru.
Mulai dari gaya rambut, fashion hingga tingkah lakunya, banyak ditiru oleh penggemarnya sendiri.
Dan baru-baru ini, penggemar Rose BLACKPINK yang juga seorang influencer telah menuai kecaman karena tindakannya yang berpura-pura jadi sang idola.
Seorang influencer asal Tiongkok memicu kontroversi setelah bertingkah seperti Rose BLACKPINK di sebuah acara pop-up resmi.
influencer ini berfoto, dan menandatangani barang-barang yang ditujukan untuk penggemar dengan foto Rose BLACKPINK.
Kontroversi muncul setelah acara toko pop-up Rose BLACKPINK di Tiongkok, setelah seorang influencer muncul dan menjadi pusat perhatian, yang memicu reaksi negatif dari penggemar global.
Toko pop-up resmi untuk merayakan Rose BLACKPINK diadakan awal bulan ini di Chengdu, Tiongkok.
Acara tersebut dirancang untuk memamerkan merchandise resmi dan zona foto bertema yang sepenuhnya berpusat pada sang artis.
Namun, kontroversi muncul ketika seorang influencer Tiongkok yang dikenal sebagai "Daisy" diundang untuk menghadiri acara penutupan toko pop-up tersebut.
Selama acara tersebut, pembawa acara di lokasi dilaporkan memperkenalkan Daisy dengan cara yang membuatnya tampak seperti tokoh utama acara tersebut.
Video dan foto yang kemudian beredar online menunjukkan influencer tersebut berpose untuk foto bersama penggemar dan bahkan menandatangani merchandise resmi Rose BLACKPINK, tindakan yang dianggap tidak pantas oleh banyak penggemar.
Yang semakin memicu kritik adalah pilihan pakaian Daisy. Para penggemar menunjukkan bahwa gaya penampilannya sangat mirip dengan estetika fesyen khas Rose BLACKPINK, yang membuat sebagian orang menuduhnya sengaja meniru sang idola.
Reaksi online pun segera bermunculan, dengan komentar seperti “acara pop-up tersebut kehilangan fokusnya,” dan “kehadiran bintang tamu menutupi sang artis.”
Saat kecaman menyebar, Daisy merilis pernyataan di akun media sosialnya. Dia menjelaskan, “Setelah melihat kontroversi tersebut, saya merasa perlu untuk mengklarifikasi.”
Menurut pernyataannya, Daisy diundang oleh pusat perbelanjaan yang menyelenggarakan acara tersebut dan mengikuti format yang telah dibahas sebelumnya dengan penyelenggara.
“Semua tindakan saya bertujuan untuk mempromosikan Rose, dan saya tidak menerima kompensasi finansial apa pun,” jelasnya.
Daisy juga mengakui kekhawatiran penggemar, menambahkan, “Saya sepenuhnya memahami bahwa Rose dan penggemarnya harus selalu menjadi pusat perhatian."
"Jika ada tindakan saya yang tampak tidak pantas, saya dengan tulus merenungkan hal itu dan akan lebih berhati-hati di masa mendatang,” tambahnya.
Terlepas dari penjelasan tersebut, kritik belum mereda. Banyak penggemar terus menyatakan ketidaknyamanan, dengan alasan bahwa kekaguman dan peniruan harus memiliki batasan yang jelas.
“Ada perbedaan antara menjadi penggemar dan mencoba menggantikan sorotan,” komentar beberapa orang, sementara yang lain bersikeras bahwa perilaku influencer tersebut tampak lebih fokus pada peningkatan popularitas pribadi daripada promosi yang tulus.
Insiden tersebut kembali memicu diskusi tentang kontrol merek, sensitivitas penggemar, dan risiko melibatkan influencer dalam acara yang berpusat pada artis, terutama ketika fandom global sangat berkepentingan dalam menjaga citra dan ruang pribadi idola.***
Editor : Irma Nurfajri


