Bersemi di Pasar Saudi

PRODUK fesyen dan tekstil Indonesia mulai menunjukkan peluang untuk memperluas jejaknya di pasar Arab Saudi.

Bersemi di Pasar Saudi
TRANSAKSI: Produk fesyen dan tekstil Indonesia berhasil mencatatkan potensi transaksi sebesar 1,12 juta dolar AS atau sekitar Rp20,25 miliar pada partisipasi perdana di Saudi Fashion & Tex Expo 2026.(ANTARA/FOTO)

Melalui partisipasi perdana dalam Saudi Fashion & Tex Expo 2026, pelaku usaha Tanah Air berhasil membukukan potensi transaksi sebesar 1,12 juta dolar AS atau sekitar Rp20,25 miliar.

Capaian tersebut menjadi langkah awal bagi industri fesyen dan tekstil Indonesia untuk menjangkau pasar Timur Tengah, terutama di tengah peluang permintaan terhadap busana Muslim, fesyen modest, dan bahan tekstil yang digunakan untuk membuat pakaian khas kawasan tersebut.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan (Kemendag) Fajarini Puntodewi mengatakan hasil yang diperoleh dalam pameran tersebut menunjukkan besarnya peluang pasar Arab Saudi bagi produk fesyen dan tekstil Indonesia.

Menurut dia, peluang tersebut perlu ditindaklanjuti melalui promosi yang konsisten, penjajakan bisnis yang intensif, serta peningkatan daya saing produk agar mampu bersaing dengan pemasok dari negara lain.

“Melalui promosi yang berkelanjutan, penjajakan bisnis yang intensif dan penguatan daya saing produk, Indonesia diharapkan dapat meningkatkan kinerja ekspor sekaligus memperkuat posisinya sebagai pemasok produk fesyen Muslim dan tekstil unggulan di kawasan Timur Tengah,” ujar Puntodewi dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (29/10).

Dalam pameran tersebut, Paviliun Indonesia menghadirkan sepuluh perusahaan terpilih, terdiri atas delapan perusahaan fesyen dan dua perusahaan tekstil.

Mereka membawa beragam produk, mulai dari busana modest, busana Muslim, abaya, dan gaun hingga bahan tekstil untuk pembuatan thobe dan abaya.

Keikutsertaan tersebut membuka ruang bagi pelaku usaha Indonesia untuk memperkenalkan produknya secara langsung kepada calon mitra internasional, sekaligus menjajaki peluang kerja sama dengan pembeli, importir, distributor, dan peritel.

Saudi Fashion & Tex Expo sendiri mempertemukan berbagai pelaku industri fesyen dan tekstil global. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi perusahaan Indonesia untuk membangun koneksi bisnis dan memahami kebutuhan pasar yang ingin mereka masuki.

Upaya mempertemukan penjual dan calon pembeli bahkan telah dimulai sebelum pameran berlangsung. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh memfasilitasi penjajakan bisnis atau business matching antara sepuluh perusahaan Indonesia dan tiga calon pembeli dari Arab Saudi.

Selama pameran, penjajakan tersebut dilanjutkan melalui serangkaian pertemuan bisnis dengan calon mitra dari negara itu. Langkah ini diharapkan dapat membuka jalan bagi peluang transaksi yang telah tercatat untuk berkembang menjadi kerja sama komersial yang lebih konkret.

Atase Perdagangan RI di Riyadh Zulvri Yenni mengatakan tingginya permintaan Arab Saudi terhadap bahan dan produk tekstil menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperluas pangsa ekspornya.

Namun, menurut dia, peluang tersebut perlu diikuti dengan upaya membangun kehadiran yang konsisten di pasar setempat. Promosi produk, partisipasi dalam pameran dan acara fesyen, serta kolaborasi antarpelaku industri kedua negara menjadi bagian penting dari strategi tersebut.

Dengan pendekatan itu, Arab Saudi diharapkan tidak hanya menjadi tujuan penjualan produk Indonesia, tetapi juga mitra strategis sekaligus pintu masuk bagi industri fesyen nasional untuk memperluas jangkauan ke kawasan Timur Tengah.

“Kami mengajak pelaku usaha untuk memanfaatkan pameran sebagai langkah awal dalam mengintensifkan promosi pasar produk fesyen dan tekstil Indonesia,” ujar Zulvri.

Peluang tersebut ditopang oleh hubungan perdagangan kedua negara yang telah berjalan cukup besar. Pada Januari–Agustus 2026, total perdagangan nonmigas Indonesia dengan Arab Saudi tercatat sebesar 2,17 miliar dolar AS.

Dalam periode yang sama, ekspor nonmigas Indonesia ke Arab Saudi mencapai 1,39 miliar dolar AS, sedangkan impornya tercatat sebesar 774,1 juta dolar AS. Dengan demikian, Indonesia membukukan surplus perdagangan nonmigas sebesar 619,6 juta dolar AS.

Meski demikian, ruang untuk memperbesar kontribusi produk fesyen dan tekstil Indonesia masih terbuka. Pada periode Agustus 2025 hingga Agustus 2026, nilai ekspor fesyen Indonesia ke Arab Saudi tercatat sebesar 17,55 juta dolar AS, dengan pangsa pasar sekitar 0,84 persen.

Sementara itu, nilai impor produk fesyen Arab Saudi dari Indonesia tercatat sebesar 2,09 miliar dolar AS. Angka ini perlu dikonfirmasi kembali karena tampak tidak selaras dengan nilai ekspor fesyen Indonesia ke Arab Saudi yang disebutkan sebelumnya.

Pada sektor tekstil, impor Arab Saudi mencapai 598,55 juta dolar AS. Indonesia berkontribusi sebesar 12,79 juta dolar AS atau sekitar 2,14 persen dari pangsa pasar tersebut.

Angka-angka itu menunjukkan bahwa peluang bagi industri fesyen dan tekstil Indonesia masih terbuka lebar. Tantangannya kini adalah menjaga kesinambungan promosi, memperkuat hubungan dengan calon pembeli, dan memastikan produk yang diperkenalkan di pameran dapat berlanjut menjadi pesanan serta kemitraan bisnis jangka panjang. (bsf)


Editor : Inilahkoran