Menyemai Inovasi di Tanah Bomberay-Tomage
TIM Ekspedisi Patriot Unpad mengedukasi siswa SMKN 2 Fakfak tentang inovasi pertanian. Mereka belajar teknologi pascapanen dan olahan pangan lokal.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Potensi pertanian tak hanya ditentukan oleh luas lahan dan hasil panen. Cara mengolah tanah, menjaga kualitas hasil pertanian, hingga mengubah bahan pangan lokal menjadi produk bernilai tambah juga menjadi bagian penting dalam mengembangkan sektor ini.
Pengetahuan itulah yang diperkenalkan Tim 1 Ekspedisi Patriot Universitas Padjadjaran (Unpad) kepada siswa SMKN 2 Fakfak, Papua Barat. Melalui edukasi dan praktik pengolahan pascapanen, para siswa diajak mengenal teknologi pertanian yang dapat dikembangkan sesuai karakteristik lingkungan dan potensi lokal di Kawasan Transmigrasi Bomberay-Tomage.
Kegiatan yang berlangsung di Laboratorium SMKN 2 Fakfak, Sabtu (24/10), tersebut tidak hanya membahas teori. Para siswa juga mendapatkan pemahaman mengenai pengelolaan lahan marginal, teknologi pengeringan hasil pertanian, hingga diversifikasi pangan berbasis komoditas setempat.
Salah satu materi yang diperkenalkan adalah pengelolaan lahan marginal agar dapat dimanfaatkan secara produktif dan berkelanjutan. Pemahaman terhadap karakteristik tanah menjadi langkah awal untuk menentukan teknik pengolahan yang sesuai dengan kondisi lingkungan.
Dengan mengenali sifat dan kondisi lahan, pengelolaan pertanian diharapkan dapat dilakukan secara lebih tepat. Upaya ini penting agar potensi lahan yang tersedia bisa dimanfaatkan tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
Selain pengelolaan lahan, Tim 1 Ekspedisi Patriot Unpad memperkenalkan Solar Dryer Dome, teknologi pengeringan hasil pertanian berbasis tenaga surya. Teknologi ini memungkinkan proses pengeringan berlangsung secara lebih terkontrol sehingga diharapkan mampu menjaga kualitas dan kebersihan produk.
Pengenalan teknologi pascapanen menjadi penting karena penanganan hasil pertanian tidak berhenti setelah panen. Proses pengeringan yang tepat dapat membantu menjaga mutu produk sebelum diolah atau dimanfaatkan lebih lanjut.
Para siswa juga mempelajari pembuatan tepung MOCAF (Modified Cassava Flour), yakni tepung berbahan dasar singkong yang diproses melalui fermentasi. Pengolahan ini memperlihatkan bagaimana komoditas lokal dapat dikembangkan menjadi bahan pangan dengan bentuk dan kegunaan berbeda. (gin)
Editor : Inilahkoran

