Bey Machmudin Apresiasi Kinerja Bapenda Jabar yang Sukses Genjot Pendapatan Daerah di 2023

Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin mengapresiasi kinerja Bapenda Jabar yang sukses menggenjot pendapatan daerah di 2023.

Bey Machmudin Apresiasi Kinerja Bapenda Jabar yang Sukses Genjot Pendapatan Daerah di 2023
Pada 2023, Bapenda Jabar sukses meraup Rp34,77 triliun atau naik 4,63 persen dari 2022 yang nilainya sebesar Rp33,23 triliun. Angka tersebut didapat dari pajak daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah, retribusi dan pendapatan lain-lain yang sah. (dok)

INILAHKORAN, Bandung - Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin mengapresiasi kinerja Bapenda Jabar yang sukses menggenjot pendapatan daerah di 2023.

Dimana pada 2023, Bapenda Jabar sukses meraup Rp34,77 triliun atau naik 4,63 persen dari 2022 yang nilainya sebesar Rp33,23 triliun. Angka tersebut didapat dari pajak daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah, retribusi dan pendapatan lain-lain yang sah.

Bey Machmudin melanjutkan, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) masih menjadi andalan pendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Maka dari itu, hal ini kata dia harus bisa disiasati agar sektor pendapatan lain turut mampu digenjot. Mengingat saat ini Indonesia tengah berupaya bertransisi menuju nihil emisi karbon.

“PKB itu mengandalkan kepada bahan bakar fosil. Sementara kita menuju zero emmision. Makanya saya minta semua dinas jangan terlena. Penting mencari sumber pendapatan lain seperti pariwisata,” ujarnya di Kota Bandung belum lama ini.

Menurutnya, potensi pariwisata Jawa Barat mulai dari pantai hingga gunung sudah tersedia. Maka dari itu Bey Machmudin mengajak semua pihak untuk mengembangkannya. Contohnya, kawasan Ciayumajakuning yang ia sebut potensinya masih bisa ditingkatkan, ditambah keberadaan BIJB Kertajati.

“Saya apresiasi kinerja Bapenda. Tapi, dinas-dinas lain, infrastuktur maupun pariwisata harus mulai bergerak. Makanya saya minta sekarang itu ke seluruh Kepala Dinas OPD itu saya minta, satu kerja baik, tapi kerja baik itu bukan kerja baik datang ke kantor, pulang jam pulang kantor,” imbuhnya.

Inovasi dan kreativitas kata dia, harus terus ditingkatkan untuk menarik minat wisatawan baik lokal, maupun mancanegara agar mau berkunjung ke Jawa Barat.

“Melakukan inovasi terus perhatikan potensi. Kerjasama dengan banyak pihak. Jadi kalau kita mau maju ya siapa lagi kalau bukan dimulai dari gedung sate kebijakan itu. Saya beri kebebasan kepada mereka untuk bekerja dengan baik, saya tidak pernah menekan untuk ini itu,” imbuhnya.

Sementara Kepala Bapenda Jabar Dedi Taufik Kurohman mengapresiasi kinerja dari semua pegawai, atas capaian yang berhasil dicapai. Catatan minor kata dia, tetap menjadi bahan untuk dievaluasi, agar kian baik di kemudian hari.

“Tentu capaian ini perlu disyukuri dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Tahun ini tantangannya pasti ada lagi. Maka dari itu penting bagi kami untuk selalu berkoordinasi dengan pimpinan, antar dinas hingga intansi terkait. Karena, pendapatan daerah selalu berkolerasi dengan kondusivitas sosial, politik dan ekonomi. Itu yang harus tetap dijaga,” ucapnya.

Dedi mengungkapkan, salah satu hal utama yang akan dimaksimalkan pada tahun ini adalah keberlanjutan atau penyempurnaan invoasi teknologi digital. Fokusnya adalah kemudahan pelayanan yang bermuara pada peningkatan kesadaran para wajib pajak.

Inovasi layanan tetap menjadi salah satu prioritas. Transaksi wajib pajak yang menggunakan aplikasi Sambara tiap tahun trennya meningkat. Kemudian, kami ingin memperluas area yang menjadi percontohan dari sisi pelayanan.

“Lalu, pencapaian Bapenda juga tidak terlepas dari implementasi pembangunan zona integritas di 34 Pusat Pengelolaan Pendapatan Daerah Wilayah (P3DW). Itu kan sebagai salah satu bagian dari implementasi area pengawasan reformasi birokrasi,” terangnya.

Mengenai pendapatan dari kendaraan bermotor, Jabar selalu berhasil mencapai target. Dimana pada 2023 silam berhasil tembus 102,17 persen atau Rp9,20 triliun. Lalu pajak atas penggunaan bahan bakar Kendaraan Bermotor dan Alat Berat (PBBKB) realisasinya 104 persen atau Rp3,54 triliun, Pengambilan pajak atas pengambilan atau pemanfaatan air permukaan (PAP) realisasinya 100 persen yakni Rp70,68 miliar.

Kemudian, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan Pajak Rokok realisasinya mencapai lebih dari 90 persen meski dihadapkan pada faktor eksternal, seperti kondisi daya beli dan kekuatan produksi industri. Masing-masing dibukukan di angka Rp6,01 triliun dan Rp3,68 triliun. (yuliantono)


Editor : Doni Ramdhani