Bikin Merinding, Ternyata Ini Makna di Balik Upacara Paraji Puhun Miteumbeuyan Melak Pare di Cipatat
Upacara Paraji Puhun Miteumbeuyan Melak Pare di Cipatat ternyata mengandung makna sakral bagi masyarakat di Cipatat, Bandung Barat.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Keanekaragaman suku dan budaya yang ada di Indonesia menjadi negeri ini kaya akan berbagai keunikan atau ciri khas yang tidak dimiliki negara manapun.
Salah satunya kebudayaan yang masih dijaga oleh masyarakat Kampung Pasirsalam, Desa Nyalindung, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat yang masih memegang erat ritual Paraji Puhun Miteumbeuyan Melak Pare (Upacara Semai Benih Padi di Sawah).
Dalam pelaksanaan ritual Miteumbeuyan Melak Pare, prosesi upacara akan dipimpin oleh Paraji Puhun, yakni seseorang yang memiliki kemampuan dalam adat dan istiadat untuk menetapkan dimulainya penyemaian bibit padi di sawah.
Baca Juga: Puhun Pusaka Karatuan, Ritual Penyerahan Pusaka yang Tersembunyi di Goa Pawon
Kepala Seksi (Kasi) Bina Budaya, Hernandi Tismara mengatakan, peranan Paraji Puhun dalam pertanian tradisional mempunyai tugas, antara lain memimpin tradisi upacara penyemaian padi, upacara hahaseuman beukah pare atau awal padi bunting dan upacara panen padi.
"Sesuai dengan aturan hitungan, upacara Miteumbeuyan Melak Pare (Upacara Semai Benih Padi di Sawah) harus dimulai tepat tepat jam 7 (tujuh) pagi," katanya, Minggu 26 September 2021.
Setelah itu, lanjut dia, Paraji Puhun akan membawa raracik (sesajian) seperti rujakeun, rujak cau, rujak kalapa, rujak roti, rujak asem, dewegan atau kelapa muda, rokok cerutu, air kopi manis, air kpi pahit, lemareun, daun sirih, cai irat (air tepung beras), boy herang, daun kawung, awi tamiang atau bambu dan lain-lainnya.
Kemudian, sambung dia, Paraji Puhun menuju pematang sawah atau disebut pupuhunan yang dilanjutkan dengan ritual membakar kemenyan seraya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Baca Juga: Kapankah Waktu yang Tepat Menggelar Ritual Ngamandian Goong Sibeser?
"Niat saya mulai pamit pada Nyai Geulis yang mengayomi welas asih di dunia, saya berikan bakti saripatinya tebu, gula dan kelapa pun sampun," ucapnya.
"Semoga tidak ada bencana dan tanaman padi itu isinya padat bijinya, banyak hingga dikumpulkan di gowah (ruangan tempat menyimpan padi). Saya serahkan sepenuhnya syarat ini, semoga bawa berkah dan selamat pun sampun pun sampun itulah usulnya," tambahnya.
Perlu diketahui, dalam pemikiran Paul Ricoeur, Hermeneutika merupakan teori mengenai aturan-aturan penafsiran, yaitu terhadap teks tertentu, tanda atau simbol yang dianggap sebagai teks (Ricoeur, Terjemahan Syukri, 2006:57) atau simbol makna budaya.
"Makna doa Paraji Puhun adalah permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa selaku pemilik alam semesta ini. Dalam ungkapan doa Paraji Puhun ini, jika dihubungkan dengan ilmu pengetahuan sosial, sebenarnya paraji puhun sedang melakukan komunikasi transendental," bebernya
Ia menjelaskan, komunikasi transendental merupakan salah satu wujud berpikir tentang bagaimana menemukan hukum-hukum alam dengan keberadaan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa atau antar manusia denan kekuatan yang ada di luar kemampuan berpikir manusia yang bersifat ilahiah dan kebenarannya.
"Atau bisa diartikan sebagai komunikasi secara gaib," jelasnya.
Baca Juga: Hadapi Musim Kemarau, Masyarakat Kampung Jajaway Gelar Ritual Ngamandian Goong Sibeser
Menurutnya, hal ini bisa dimaknai dari kalimat yang disampaikan Paraji Puhun, isinya merupakan komitmen kesepahaman bersama antara bibit padi yang disebut Nyi Pohaci dan hama pengganggu atau Kalamula Kungkang, Kalamula Kalamuntir (bolokotono), dan Budug Wasu (raja tikus).
"Mereka hidup untuk tidak saling mengganggu, karena pada dasarnya mereka itu adalah satu keturunan, sebagaimana terungkap dalam kisah cerita Sulanjana," tuturnya.
Demikian pula, terang dia, mereka lahir dan hidup di dunia ini, sebenarnya untuk tidak saling mengganggu. Adapun kalau kedua belah pihak saling mengganggu, aturannya berada pada norma hukum yang disepakati kedua belah pihak. Artinya, pihak pertama padi dan pihak kedua hama.
"Aturan hukum ini bisa dimaknai pada aturan sesajian, salah satunya pada bambu atau awi tamiang. Di mana dalam istilah Sunda dikenal dengan istilah Tamiang Meulit kana Beutis, artinya jika ada yang melanggar aturan hukum secara otomatis akan terkena sanksi," terangnya.
Keterangan tersebut diungkap Paraji Puhun Abah Yaya. Menurutnya, Miteumbeuyan adalah cara untuk memulai penghormatan kepada Nyimas Pohaci Dangdayang Trusna Wati yang memiliki tiga nama, Nyimas Pohaci Dinding Kelir (pare cere), Nyimas Pohaci Madan Larang (pare ketan) dan Nyimas Pohaci (pare) nasi yang dimakan sekarang.
Baca Juga: Ada Sejarah Kelam di Balik Pembangunan Situs Gedong Delapan Cililin
"Yang kita makan Nyimas Pohaci (beras) sekarang ini makanan yang disediakan di dunia. Oleh karena itu, ini harus dipelihara untuk ritus Paraji Puhun guna menghormati Ciung Wanaran sebagai leluhur untuk kita doakan," tuturnya.
Abah Yaya mengungkapkan, Paraji puhun menitipkan Pohaci ke Ibu Pertiwi (bumi) agar berkah, tidak diganggu oleh hama, yaitu Budug Wusu (tikus), Kalamula (kungkang), dan Kalamuntir (bolokotono), hama ini merupakan hama yang mengganggu padi di sawah.
"Saya titipkan ke bumi jangan ada yang ganggu baik dari timur, selatan, barat dan utara," ucapnya.
"Semoga hasil tani yang ditanam dari awal sampai bisa membuahkan hasil yang banyak," tandasnya. (agus satia negara)***
Editor : inilahkoran

