Ada Sejarah Kelam di Balik Pembangunan Situs Gedong Delapan Cililin

Situs Gedong Delapan di Cililin, Kabupaten Bandung Barat dibangun ketika masa penjajahan kolonial Belanda. Ada sejarah kelam di dalamnya.

Ada Sejarah Kelam di Balik Pembangunan Situs Gedong Delapan Cililin
Situs Gedong Delapan di Cililin, Kabupaten Bandung Barat.
INILAHKORAN, Ngamprah - Bandung Barat tak hanya dikaruniai keindahan alam yang menarik, namun juga menyimpan beragam catatan sejarah bangsa di era penjajahan kolonial Belanda.
 
Salah satu saksi bisu adanya penjajahan kolonial Belanda di wilayah Bandung Barat adalah berdirinya Benteng Belanda atau lebih dikenal dengan Situs Gedong Delapan.
 
Berlokasi di Kampung Cimalik RT04 RW05 Dusun 2, Desa Karanganyar, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, Situs Gedong Delapan berdiri tegak di puncak bukit yang luasnya sekitar 500 m².
 
Tak hanya itu, di sekitar bangunan, terdapat pula situs-situs lain yang keseluruhannya berjumlah 5 (lima) buah. Dinamakan Situs Gedong Delapan lantaran situs tersebut memiliki ruang pintu yang berjumlah delapan buah.
 
 
Menariknya, jika diperhatikan secara seksama keberadaan kelima situs tersebut membentuk formasi huruf C. Di mana situs pertama posisinya berada di sebelah barat, sementara situs kedua, ketiga dan keempat posisinya berada di sebelah selatan dengan membujur dari arah barat ke timur tampak melengkung, dengan arah pintu masing-masing menghadap ke arah utara.
 
Kepala Seksi Sejarah dan Cagar Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Bandung Barat, Asep Diki Hidayat mengatakan, Situs Gedong Belanda itu merupakan bangunan atau benteng bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang seluruhnya berjumlah 5 (lima) buah. 
 
"Benteng itu dibangun pada tahun 1912 dan selesai 6 tahun kemudian (1918)," ungkapnya, Jumat 24 September 2021.
 
Ia menerangkan, proses pembangunan benteng tersebut dikerjakan oleh masyarakat pribumi yang dibayar 3 sen per hari. Adapun mandor pembangunan benteng itu, lanjut dia, dikenal dengan sebutan Tuan Bangkok 
 
"Untuk pimpinan proyeknya adalah seseorang yang berkebangsaan Belanda dikenal dengan Tuan Jaksen," terangnya. 
 
 
Namun, kedua orang penggagas benteng tersebut meninggal dunia di wilayah Jawa Barat dan dimakamkan pula di tanah Sunda. 
 
"Tuan Bangkok dimakamkan di Kampung Bunker, Desa Karanganyar, Kecamatan Cihampelas. Sementara, Tuan Jaksen dimakamkan di lereng Gunung Tilu, Ciwidey," ucapnya.
 
Lebih lanjut ia menuturkan, pembangunan benteng tersebut bukan hanya ada di wilayah selatannya KBB. Namun juga terdapat di daerah utara tepatnya, di Gunung Putri, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang. 
 
 
Diki menjelaskan, pembanguan kedua benteng tersebut atas perintah Kerajaan Kolonial Belanda. Tujuannya, sebagai upaya mempertahankan tanah hasil jajahannya di Indonesia tercinta. 
 
Ia menyebut, hal itu dilakukan sebagai bentuk antisipasi terjadinya Perang Dunia ke-1 padal tahun 1914-1918, antara Jerman, Turki dan sekutunya dengan blok Inggris, Prancis, Amerika Serikat, Rusia dan lainnya. 
 
"Kedua kubu itu berlomba untuk memperebutkan tanah jajahannya," sebutnya.
 
Menurut perhitungan kerajaan kolonial Belanda pada saat itu, bila perang terjadi akan berimbas pula pada negeri jajahannya yaitu, Nederland Indie (Hindia Belanda/Indonesia). 
 
 
Pasalnya, Bandung dan sekitarnya dinilai memiliki kontur tanah berbukit yang cocok untuk dijadikan pertahanan. Selain itu, Kota Bandung kala itu direncanakan bakal dijadikan Pusat Angkatan Perang Hindia Belanda. 
 
"Untuk menghasilkan rencana tersebut, maka tahun 1916 dibangun Departemen Perang atau Departement Vab Oorlog (DVO). Akhir tahun 1916 dan awal 1927 secara bertahap DVO dipindahkan dari Waltervreden (Jatinegara) ke Kota Bandung (Jalan Sumatera)," pungkasnya. (agus satia negara).***
 
 


Editor : inilahkoran