BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem di Jawa Barat Selama Sepekan ke Depan
BMKG menjelaskan penyebab cuaca ekstrem ini dipicu oleh sejumlah faktor dinamika atmosfer yang meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan intens.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah Jawa Barat dalam satu minggu ke depan, tepatnya pada 4 hingga 10 Maret 2026. Kondisi ini dipicu oleh sejumlah faktor dinamika atmosfer yang meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan intens.
Kepala BMKG Stasiun Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa salah satu pemicu utama adalah aktivitas gelombang atmosfer berfrekuensi rendah atau Low Frequency (LF). Fenomena ini berperan dalam mendorong pertumbuhan awan hujan yang dapat memicu curah hujan sedang hingga lebat.
Menurut Teguh, selama periode tersebut sebagian besar wilayah Jawa Barat berpotensi mengalami hujan yang dapat disertai petir dan angin kencang, terutama pada siang hingga malam hari.
“Dalam sepekan ke depan, cuaca di Jawa Barat umumnya berpotensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat dan angin kencang, terutama pada siang, sore, hingga malam hari,” ujarnya.
Atmosfer Labil Picu Pertumbuhan Awan Hujan
Selain gelombang LF, kondisi atmosfer yang relatif labil juga menjadi faktor penting yang memicu cuaca ekstrem. Berdasarkan pengamatan BMKG, tingkat kelabilan atmosfer berada pada kategori ringan hingga kuat, yang memungkinkan terbentuknya awan konvektif penyebab hujan lebat.
Hasil analisis model cuaca, baik dari skala global maupun lokal, serta data observasi terbaru menunjukkan potensi hujan lebat dan angin kencang dapat terjadi secara singkat di sejumlah wilayah Jawa Barat.
Waspadai Risiko Bencana Hidrometeorologi
BMKG mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang yang dapat dipicu oleh kondisi cuaca tersebut.
Masyarakat juga diminta rutin memantau informasi cuaca resmi dan memahami potensi risiko bencana di lingkungan masing-masing.
“Kami mengimbau masyarakat untuk terus memperbarui informasi cuaca dari BMKG dan memahami potensi bencana di sekitar tempat tinggalnya,” kata Teguh.
Antisipasi Saat Masa Peralihan Musim
BMKG juga menekankan bahwa kondisi cuaca ekstrem ini berkaitan dengan masa peralihan musim yang sering memicu perubahan cuaca secara cepat. Pada periode ini, hujan lebat, angin kencang, hingga kilat dapat terjadi secara tiba-tiba.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, serta melakukan langkah mitigasi sederhana untuk mengurangi risiko bencana.
Editor : Firda Rachmawati


