BNPB Ungkap Fakta Mengejutkan soal Risiko Bencana di Sumatera Barat
Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto, mengungkapkan bahwa Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu daerah paling rawan bencana di Indonesia.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letnan Jenderal TNI Suharyanto, mengungkapkan bahwa Provinsi Sumatera Barat merupakan salah satu daerah paling rawan bencana di Indonesia.
Pernyataan ini disampaikan saat meresmikan dua ruas jalan penting di Padang Panjang yang sempat rusak akibat banjir lahar dingin Gunung Marapi.
Awalnya, menurut Suharyanto, fokus utama BNPB di wilayah Sumbar adalah pada mitigasi gempa dan tsunami, khususnya di kawasan pesisir Kota Padang yang termasuk dalam zona rawan megathrust. Namun, realitas di lapangan menunjukkan ancaman bencana lain yang tak kalah besar.
“Kami awalnya konsentrasi pada edukasi gempa dan tsunami. Tapi ternyata justru bencana lain yang datang bertubi-tubi,” ungkapnya.
Salah satu yang paling mengejutkan adalah letusan mendadak Gunung Marapi pada Desember 2023 yang menewaskan 23 pendaki. Berbeda dari Gunung Lewotobi yang aktivitasnya terdeteksi lebih awal, erupsi Marapi terjadi tiba-tiba, bahkan ketika statusnya belum naik ke Level IV.
“Ilmu dan teknologi bisa memprediksi, tapi alam tetap punya kehendak sendiri,” kata Suharyanto.
Tak lama setelah erupsi, bencana banjir bandang menghantam Pesisir Selatan pada Maret 2024, menewaskan 28 orang dan membuat 4 lainnya hilang. Saat proses rehabilitasi berjalan, bencana besar kembali datang pada 11–12 Mei 2024. Galodo (banjir lahar dingin) menerjang Tanah Datar, Agam, Padang Panjang, dan sekitarnya, menewaskan 63 orang.
Padang Panjang menjadi lokasi cukup terdampak, namun beban terberat dialami Tanah Datar dan Agam. Saat ini, proses rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur terdampak masih berlangsung.
Meski demikian, Suharyanto menyebut sejak awal Januari hingga 4 Juni 2025 belum ada bencana besar yang melanda Sumbar. Ia berharap kondisi ini bertahan hingga akhir tahun seiring masuknya musim kemarau.
Namun, ia tetap mengingatkan adanya ancaman lain, terutama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mulai muncul di wilayah seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Di Sumbar sendiri, karhutla masih relatif kecil karena lahannya bukan gambut, seperti kejadian kebakaran tiga hektare di Pesisir Selatan.
Kehadiran Kepala BNPB di Padang Panjang juga untuk meresmikan Jalan Lubuk Mata Kucing dan Jalan Tanjuang Tanah Bato, yang sempat terputus akibat banjir Galodo. Peresmian dilakukan bersama sejumlah pejabat daerah termasuk Kepala BPBD Sumbar Rudy Rinaldy, Wali Kota Hendri Arnis, dan Ketua DPRD Padang Panjang, Imbra.
Editor : Firda Rachmawati
