Buya Yahya Jelaskan Dampak Ajari Anak Puasa Ramadhan dengan Menjanjikan Hadiah
Buya Yahya menjelaskan dampak mengajari anak puasa ramadhan dengan menjanjikan hadiah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Berpuasa di bulan Ramadan merupakan ibadah yang penting bagi umat Islam. Namun, bagi anak-anak, menjalankan puasa bisa menjadi tantangan tersendiri.
Beberapa orang tua terkadang menjanjikan hadiah agar anak mereka bersedia berpuasa. Menurut Buya Yahya, hal ini kurang tepat karena dapat mempengaruhi keikhlasan anak dalam menjalankan ibadah.
Menjanjikan Hadiah Bisa Mengurangi Ketulusan Beribadah
Buya Yahya menjelaskan bahwa banyak orang tua yang cenderung memaksa anak untuk berpuasa dengan menjanjikan hadiah. Meskipun memberi hadiah kepada anak bukanlah hal yang buruk, pendekatan ini dapat menggeser makna puasa menjadi sekadar usaha mendapatkan imbalan. Anak-anak yang terbiasa berpuasa demi hadiah bisa kehilangan esensi ibadah yang seharusnya dilakukan dengan penuh keikhlasan.
"Jangan sampai ibadah dilakukan hanya karena hadiah, karena ini akan berdampak pada pemahaman anak tentang makna puasa itu sendiri," ungkap Buya Yahya dalam kanal YouTube Al-Bahjah TV.
Pendekatan yang Tepat dalam Melatih Anak Berpuasa
Buya Yahya menyadari bahwa tidak semua anak terbiasa berpuasa sejak kecil. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya menggunakan pendekatan yang lebih lembut dan membangun kesadaran anak tentang pentingnya puasa. Jika anak menikmati ibadah ini, maka mereka akan merasakan kebahagiaan dalam menjalaninya, bukan semata-mata karena iming-iming hadiah.
Beliau menyarankan agar orang tua mengajak anak berpuasa dengan cara yang menyenangkan. "Ajaklah mereka dengan penuh kegembiraan agar suatu saat nanti mereka bisa menikmati ibadah dengan kesadaran dan kebahagiaan," katanya.
Dampak Buruk Puasa Hanya Demi Hadiah
Jika anak terbiasa berpuasa hanya karena mengharapkan hadiah, maka mereka bisa kehilangan motivasi intrinsik untuk menjalankan ibadah. Hal ini akan menyulitkan mereka dalam membangun komitmen terhadap ibadah di masa depan. Sebaliknya, jika anak sejak awal diajarkan untuk berpuasa dengan kesadaran akan nilai spiritualnya, maka mereka akan lebih ikhlas dalam menjalankannya di kemudian hari.
Menurut Buya Yahya, jika ibadah dilakukan karena mengharapkan sesuatu, maka tujuan ibadah itu sendiri menjadi bergeser. Ibadah seharusnya dilakukan karena Allah SWT, bukan demi mendapatkan sesuatu yang bersifat duniawi.
Peran Orang Tua dalam Melatih Anak Berpuasa
Orang tua tidak perlu memaksakan anak-anak yang belum baligh untuk berpuasa penuh, terutama bagi anak yang masih berusia sekitar tujuh tahun. Pada usia ini, anak masih membutuhkan asupan nutrisi dan energi yang cukup untuk pertumbuhan dan perkembangannya.
Jika anak tidak mampu menahan lapar dan haus, serta energinya sudah habis, maka orang tua sebaiknya mengizinkan mereka untuk berbuka. Umumnya, anak-anak yang belum baligh hanya mampu berpuasa hingga setengah hari dan membatalkannya sekitar pukul 12.00 siang.
Sebagai bentuk dukungan, orang tua bisa memberikan motivasi kepada anak agar keesokan harinya mereka lebih semangat dalam menjalani puasa. Dengan cara ini, anak akan merasa didukung tanpa merasa terpaksa atau terbebani.
Editor : Firda Rachmawati

