INILAHKORAN, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan 3,365 juta anak mendapatkan imunisasi Campak dan Rubella selama Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) Jawa dan Bali 2022.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Ksehatan Jawa Barat Ryan Bayusantika Ristandi mengatakan, ini dilakukan untuk mengeliminasi penyakit Campak dan Rubella. Mengingat selama pandemi Covid-19 terjadi selama dua tahun terakhir, masih banyak anak yang status imunisasinya belum lengkap.
"Kita ingin hilangkan Campak dan Rubella melalui imunisasi, tanpa melihat status sebelumnya apakah anak sudah diimunisasi atau belum. Kita ingin eliminasi Campak di 2023 dan kita follow up sampai 2026. Sebab selama pandemi, ada bolong status imunisasi anak yang takutnya akan timbul penyakit karena imunisasinya belum lengkap," ujarnya di taman Museum Gedung Sate, Senin (1/8/2022).
"BIAN ini dimulai sejak 1 Agustus sampai awal September, dengan seluruh sasaran 3,365 juta anak dan semua sudah didistribusikan untuk kota dan kabupaten," sambungnya.
Lebih lanjut Ryan menjelaskan, pada saat ini cakupan imunisasi anak baru di angka 83 persen, akibat dampak dari pandemi. Padahal minimal di angka 95 persen. Dia berharap, melalui BIAN target minimal 95 persen dapat tercapai.
"Cakupan pada saat ini baru 83 persen. Seharusnya minimal 95 persen. Target kita minimal 95 persen. Dulu 2017 kita pernah berhasil lebih. Semoga sekarang bisa mencapai dan melebihi dari target," harapnya.
Dia menambahkan, ada lima kota dan kabupaten yang menjadi prioritas dalam BIAN 2022, yaitu Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Kota Bandung, Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur. Kelimanya diakuinya memiliki persentase yang rendah, dalam memenuhi status imunisasi anak.
"Ada lima kota dan kabupaten yang kita prioritaskan. Tetapi tetap 27 kota dan kabupaten kita lengkapi, agar cakupan imunisasi yang kurang baik di Jabar dapat terpenuhi dalam bulan imunisasi ini," ucapnya.
Ketua Komite Daerah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Jawa Barat Kusnandi Rusmil meminta masyarakat untuk tidak khawatir akan vaksin yang digunakan dalam imunisasi. Sebab menurutnya, efek samping yang ditimbulkan sangat sedikit.
"Vaksin yang kita gunakan aman. Digunakan lama dan dibuat hati-hati. Efek sampingnya sangat sedikit, dengan keuntungan lebih besar. Jadi masyarakat enggak usag takut. Selain itu kita juga persiapkan peralatan, kalau terjadi apa-apa. Walaupun belum tentu terjadi. Efek sampingnya, satu juta yang imunisasi paling satu orang pingsan. Itu pun bukan karena vaksin, tapi karena bawaan orang tersebut. Misal alergi atau dia punya daya tahan rendah, atau juga karena punya penyakit. Makanya nanti juga ada screening," terangnya.
Sementara itu, Konsultan Imunisasi UNICEF wilayah Jawa Rusipah mengingatkan imunisasi penting dilakukan guna mencegah penyakit yang timbul kepada anak. Dia berharap BIAN dapat melengkapi kebutuhan anak akan imunisasi, sekaligus bentuk komitmen Pemprov Jabar untuk melindungi anak dari penyakit berbahaya.
"BIAN ada tujuan yang kita lakukan. Pertama menuju eliminasi Campak dan Rubella di Jawa Barat. Ini adalah tambahan satu dosis lagi untuk anak, tanpa lihat status imunisasi sebelumnya. Supaya status imunisasi anak lengkap. Ini bentuk Pemerintah commit untuk melindungi anak agar tidak rentan penyakit," katanya. (Yuliantono)***