Cerita Farhan Menata Kota Bandung, Tak Sekadar Indah tapi Adil dan Bersih

Kota Bandung tak pernah benar-benar sederhana untuk diurus. Di balik wajahnya sebagai kota wisata dan pusat kreativitas, tersimpan keragaman persoalan yang kerap luput dari sorotan.

Cerita Farhan Menata Kota Bandung, Tak Sekadar Indah tapi Adil dan Bersih
Hal inilah yang mendorong Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memilih untuk lebih sering turun langsung ke lapangan menyusuri wilayah-wilayah yang selama ini jarang tersentuh perhatian. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - Kota Bandung tak pernah benar-benar sederhana untuk diurus. Di balik wajahnya sebagai kota wisata dan pusat kreativitas, tersimpan keragaman persoalan yang kerap luput dari sorotan. 

Hal inilah yang mendorong Wali Kota Bandung Muhammad Farhan memilih untuk lebih sering turun langsung ke lapangan menyusuri wilayah-wilayah yang selama ini jarang tersentuh perhatian.

“Kota Bandung adalah kota dengan keragaman yang luar biasa. Saya telah berkeliling ke banyak wilayah, hingga ke titik-titik terdalam meskipun masih ada beberapa yang belum terjangkau,” kata Farhan, Sabtu 10 Januari 2026.

Dari hasil blusukan itulah lahir Program Siskamling Siaga Bencana, sebuah pendekatan berbasis kewilayahan yang tidak hanya menitikberatkan pada keamanan lingkungan. Tetapi juga kesiapsiagaan menghadapi berbagai risiko kebencanaan. Program ini mulai dijalankan sejak 22 September 2026, dan ditargetkan menjangkau seluruh kelurahan paling lambat Maret mendatang.

“Setelah itu, program ini akan diulang kembali dari awal secara berkelanjutan,” ucapnya.

Menurutnya, setengah dari waktu kerja hariannya sengaja dihabiskan untuk berada di tengah masyarakat. Ia ingin memastikan, bahwa setiap kebijakan lahir dari pemahaman langsung atas kondisi nyata warga bukan sekadar laporan di atas meja.

Tak jarang, pertanyaan yang paling sering ia terima berkaitan dengan perbaikan infrastruktur jalan utama. Farhan menegaskan, pembangunan jalan besar tetap menjadi agenda penting. Namun kini pemerintah kota mengubah urutan prioritas.

“Ada yang bertanya, ‘Kapan jalan-jalan besar Kota Bandung diperbaiki?’ Tentu itu akan tetap dilakukan. Namun kami mengubah strategi. Kami ingin memperbaiki permukiman warga terlebih dahulu agar keadilan benar-benar dirasakan semua,” ujar dia.

Ia menolak gagasan membangun kota hanya demi citra visual semata. Baginya, keindahan kota tidak boleh berhenti pada tampilan luar yang menarik untuk difoto. Sementara masalah di lingkungan permukiman dibiarkan berlarut-larut. “Kami tidak ingin mempercantik kota hanya untuk terlihat indah di media sosial, sementara di dalamnya masih banyak persoalan,” ungkapnya.

Meski begitu, wajah kota tetap mendapat perhatian. Tahun ini, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menargetkan penataan dan perbaikan 17 ruas jalan utama yang paling sering dilalui warga dan wisatawan. Tidak hanya diperbaiki, kebersihannya pun akan dijaga selama 24 jam penuh.

Komitmen tersebut, diiringi dengan penambahan signifikan jumlah petugas kebersihan. Dari sebelumnya 800 orang, kini menjadi 1.400 orang. Mereka mulai bekerja sejak pukul 04.00 pagi, menghadapi risiko kerja yang tidak kecil. “Ini adalah bagian dari perjuangan membangun kota,” ujar dia.

Namun, persoalan terbesar yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama adalah sampah. Farhan menilai, masalah sampah bukan terletak pada kurangnya teknologi melainkan pada perilaku masyarakat. “Masalah sampah bukan pada teknologinya, tetapi pada perilaku kita. Sampah harus selesai dari rumah. Minimal dilakukan pemilahan,” katanya.

Ia memberi contoh sederhana tentang satu kotak makanan yang mengandung beragam jenis sampah mulai dari kertas, plastik, tulang hingga sisa makanan. Semuanya membutuhkan penanganan berbeda dan tidak bisa disatukan. Untuk mendorong perubahan tersebut, Pemkot Bandung akan merekrut 1.597 petugas pemilah sampah masing-masing satu orang di setiap RW.

Tugas mereka, adalah memastikan sampah sudah dipilah sejak dari rumah ke rumah. “Saya mohon, mari kita muliakan mereka. Jangan merendahkan tugas ini, karena peran mereka sangat penting,” ujar dia.

Setiap petugas ditargetkan mampu menangani sekitar 25 kilogram sampah per hari. Jika dikalkulasikan, upaya ini dapat mengolah sekitar 40 hingga 50 ton sampah setiap hari. Angka itu menjadi signifikan di tengah produksi sampah Kota Bandung yang mencapai sekitar 1.500 ton per hari, dengan rata-rata 0,6 kilogram per orang.

Target pemerintah kota pun sederhana dan realistis. “Cukup turun 100 gram per orang per hari,” harapnya.

Bagi Farhan, membangun Kota Bandung bukan soal proyek besar semata. Melainkan tentang kehadiran negara hingga ke tingkat paling dekat dengan warga. Dari ronda malam, jalan lingkungan hingga sampah dapur semua menjadi bagian dari upaya mewujudkan kota yang adil, bersih dan berkelanjutan.


Editor : Doni Ramdhani