Dapur SPPG Gegerkalong, Salurkan Ribuan Porsi Makanan Setiap Hari ke 26 Sekolah

Dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi SPPG Gegerkalong, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung menyalurkan lebih dari 3.000 porsi makanan setiap hari kepada siswa-siswi di 26 sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA.

Dapur SPPG Gegerkalong, Salurkan Ribuan Porsi Makanan Setiap Hari ke 26 Sekolah
Kepala Dapur SPPG Gegerkalong Muhammad Rizki mengatakan, dapur tersebut mulai beroperasi sekitar tiga minggu lalu. Hingga kini, terdapat 3.184 penerima manfaat yang tersebar di berbagai satuan pendidikan. (yogo triastopo)

INILAHKORAN, Bandung - Dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi SPPG Gegerkalong, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung menyalurkan lebih dari 3.000 porsi makanan setiap hari kepada siswa-siswi di 26 sekolah dari jenjang PAUD hingga SMA.

Kepala Dapur SPPG Gegerkalong Muhammad Rizki mengatakan, dapur tersebut mulai beroperasi sekitar tiga minggu lalu. Hingga kini, terdapat 3.184 penerima manfaat yang tersebar di berbagai satuan pendidikan.

“Sebanyak 19 dari 26 sekolah adalah PAUD, sisanya SD, SMP dan SMA. Pengiriman makanan dilakukan dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan siang,” kata M Rizki, Selasa 21 Oktober 2025.

Menurutnya, pengolahan makanan dimulai sejak dini hari untuk memenuhi jadwal pengiriman pagi. Setiap harinya, dapur tersebut mengirim sekitar 2.000 porsi makanan pada pagi hari dan 1.000 porsi pada siang hari.

Pengadaan bahan baku, dilakukan setiap hari berdasarkan menu yang telah disusun untuk jangka waktu satu minggu hingga satu bulan ke depan. Menu dan porsi disesuaikan dengan jenjang pendidikan serta kebutuhan gizi masing-masing siswa.

"Untuk menjamin mutu, seluruh bahan baku diperiksa terlebih dahulu oleh ahli gizi dan asisten lapangan sebelum diolah. Jika ada bahan yang tidak layak, langsung dipisahkan. Setelah itu masuk ke tahap persiapan dan pengolahan,” ucapnya.

Rizki menuturkan, sebanyak 50 orang terlibat dalam operasional dapur yang terdiri atas 47 tenaga pelaksana dan tiga tenaga profesional, yaitu kepala dapur, akuntan dan ahli gizi. Dari jumlah tersebut, 10 orang bertugas khusus mengolah makanan. Sementara sisanya membantu pada proses persiapan hingga pencucian wadah makan.

Sebagian besar tenaga kerja direkrut dari masyarakat sekitar. Selain mempertimbangkan kedekatan lokasi, perekrutan juga memperhatikan kebutuhan sosial seperti ibu rumah tangga yang menjadi tulang punggung keluarga.

“Kami tetap menerapkan kriteria tertentu. Untuk koki misalnya harus memiliki sertifikat. Sementara untuk pekerjaan yang risikonya lebih rendah seperti mencuci wadah, tidak disyaratkan keahlian khusus,” ujar dia.

Ia menambahkan, menu makanan ditentukan oleh ahli gizi. Selain memperhatikan kandungan gizi, rasa juga menjadi pertimbangan. “Penyedap rasa tetap digunakan dalam kadar yang wajar, agar makanan terasa enak dan bisa dinikmati oleh anak-anak,” tuturnya.

Dalam waktu dekat, pihaknya berencana mengajukan bantuan tahap ketiga yakni untuk ibu menyusui, ibu hamil dan balita guna memperluas jangkauan layanan. "Sebanyak 500 porsi tambahan disiapkan, sebagai bagian dari rencana tersebut," tandas dia.


Editor : Doni Ramdhani