Dari Bandung ke Panggung Nasional, Kisah Varen Band Menaklukkan Kompetisi

Varen Band dari PCMS Mangga Kota Bandung membuktikan mental dan harmoni membawa mereka meraih runner-up Battle of the Band PCMS tingkat nasional.

Dari Bandung ke Panggung Nasional, Kisah Varen Band Menaklukkan Kompetisi
Varen Band dari PCMS Mangga Kota Bandung membuktikan mental dan harmoni membawa mereka meraih runner-up Battle of the Band PCMS tingkat nasional. (Istimewa)

INILAHKORAN.ID - Awal Juli lalu, sorot lampu panggung Cornerstone di Jalan Pasirkaliki, Kota Bandung, membingkai delapan anak yang berdiri di belakang instrumen masing-masing. 

Sejenak mereka saling melempar pandang, memastikan aba-aba terakhir sebelum lagu dimulai. Tak ada wajah yang menyiratkan gugup, meski di hadapan mereka duduk para juri dan puluhan peserta terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.

Hitungan pertama terdengar. Gitar, bass, keyboard, piano, drum, dan vokal mengalun nyaris tanpa cela. Tak satu pun personel berusaha mencuri perhatian dengan aksi berlebihan. 

Mereka tampil sebagai satu kesatuan, saling mengisi dalam setiap nada hingga lagu terakhir berakhir dan disambut tepuk tangan penonton.

Penampilan itu mengantarkan Varen Band asal Purwa Caraka Music Studio (PCMS) Jalan Mangga, Kota Bandung, meraih peringkat kedua Battle of the Band PCMS tingkat nasional kategori A, yang diperuntukkan bagi peserta berusia maksimal 16 tahun.

Namun, bagi pelatih Varen Band, Arif Jatmiko, kemenangan itu sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum anak-anak didiknya menapaki panggung final.

"Sebenarnya sudah kebaca. Anak-anak ini sudah mulai berani. Mentalnya sudah mulai bagus. Jadi, masuk peringkat dua nasional itu memang sudah ada targetnya. Senangnya karena perjuangan anak-anak akhirnya terlihat," kata pria yang akrab disapa Kang Ojat.

Prestasi itu tidak lahir dari proses yang mulus. Dibandingkan cabang PCMS lain, PCMS Mangga justru terlambat membentuk tim. Ketika cabang lain sudah lebih dahulu berlatih, mereka masih sibuk mencari komposisi personel yang tepat.

"Cabang-cabang lain sudah jalan. Kami sebenarnya terlambat. Masih memilih siapa yang cocok, siapa yang sudah siap secara kemampuan," ujarnya.

Keterbatasan waktu membuat Arif tidak ingin gegabah menyusun materi latihan. Baginya, pelatih harus lebih dulu memahami kemampuan setiap pemain sebelum menentukan aransemen.

"Saya tanya satu-satu ke coach. Setelah saya baca kemampuan anak-anak ini, baru saya create materinya," kata Arif.

Pengalaman mengajarkannya, materi yang terlalu tinggi justru bisa mematahkan rasa percaya diri anak. Walhasil, sebelum memulai latihan, Arif terlebih dulu membaca kemampuan siswa. "Baru setelah itu kita carikan materi yang memang mereka mampu," ujar Arif. 

Namun, tantangan terbesar bukanlah teknik bermain musik. Saat mulai melatih Varen Band, Arif melihat persoalan utama justru terletak pada mental setiap personel. "Yang tidak sesuai harapan itu bukan kemampuan mainnya. Mentalnya," kata Arif.

Kalimat itulah yang menjadi fondasi metode kepelatihannya. Di luar studio, dia membiarkan anak-anak menjadi diri mereka sendiri. Mereka bebas bercanda, bermain, dan berperilaku sebagaimana anak seusianya. Namun, begitu latihan dimulai, suasananya berubah.

Meski dikenal tegas, Arif tidak langsung menerapkan disiplin sejak pertemuan pertama. Dia memilih lebih dulu mengenali karakter setiap anak.

"Saya masuk dulu ke dunia mereka. Saya baca dulu karakternya. Ini anak pemberani, ini penakut, ini minderan. Setelah saya kantongi semua, baru saya bentuk," katanya.

Perlahan, rasa takut berubah menjadi keberanian. Anak-anak yang semula gugup mulai terbiasa menghadapi tekanan latihan hingga akhirnya siap tampil di panggung kompetisi.

Namun, bagi Arif, keberanian belum cukup untuk membentuk sebuah band. Setelah mental para personel terbangun, masih ada pekerjaan yang jauh lebih sulit, yakni menyatukan delapan karakter berbeda agar mampu memainkan setiap nada sebagai satu kesatuan. ***


Editor : Gin gin T Ginulur