Dedi Mulyadi Santuni Anak Korban Pengeroyokan di Bali dan Satpam Waduk Jatiluhur

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi merespons cepat terhadap dua tragedi yang merenggut nyawa kepala keluarga di Bali dan Purwakarta. 

Dedi Mulyadi Santuni Anak Korban Pengeroyokan di Bali dan Satpam Waduk Jatiluhur
Dedi Mulyadi menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam melindungi korban serta mengusut tuntas kasus-kasus kekerasan yang terjadi. (dok)

INILAHKORAN.ID - Gubernur Jabar Dedi Mulyadi merespons cepat terhadap dua tragedi yang merenggut nyawa kepala keluarga di Bali dan Purwakarta. 

Tak hanya memberikan bantuan pendidikan bagi anak-anak yang ditinggalkan, Dedi Mulyadi juga menegaskan pentingnya kehadiran negara dalam melindungi korban serta mengusut tuntas kasus-kasus kekerasan yang terjadi.

Perhatian pertama diberikan kepada keluarga seorang pria di Kabupaten Tabanan, Bali, yang diduga meninggal dunia setelah menjadi korban pengeroyokan massa akibat tuduhan pencurian ayam.

Melalui sambungan telepon dengan istri korban, Dedi menyampaikan duka cita sekaligus mendengar langsung kondisi keluarga yang kini kehilangan tulang punggung ekonomi.

Menurut penuturan sang istri, korban bekerja sebagai perajin anyaman. Beberapa hari sebelum ditemukan meninggal dunia, korban meninggalkan rumah setelah berpamitan karena tidak ada persediaan beras di rumah. Pencarian yang dilakukan keluarga berakhir dengan kabar duka setelah korban ditemukan telah meninggal dunia di rumah sakit dan diantar aparat kepolisian.

"Yang pertama saya menyampaikan bela sungkawa dan rasa prihatin," ujar Dedi, Selasa (28/7/2026).

Suara tangis anak korban yang masih balita, membuat Dedi mengaku tersentuh secara emosional.

"Karena saya dengar suara anak kecil itu sampai menangis. Saya tidak kuat karena jadi ingat anak sendiri," ucapnya.

Sebagai bentuk kepedulian, Dedi menyiapkan deposito pendidikan senilai Rp50 juta atas nama anak korban yang baru berusia empat tahun melalui bank bjb Bali. Bantuan tersebut disiapkan sebagai jaminan pendidikan jangka panjang.

"Nanti dititip deposito Rp50 juta untuk anak ibu yang umur empat tahun. Bentuknya deposito supaya menjadi bekal pendidikan. Kalau sekarang uang tunai takut habis," katanya.

Selain itu, Dedi memastikan anak korban yang saat ini duduk di bangku SMK tetap memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan melalui Program Sekolah Rakyat.

"Kalau di Sekolah Rakyat, sekolahnya sudah dijamin, makannya, bajunya, sepatunya. Mudah-mudahan anak ibu menjadi orang hebat," tuturnya.

Dalam kesempatan berbeda, Dedi juga menemui keluarga petugas keamanan Waduk Jatiluhur di Kabupaten Purwakarta, yang ditemukan meninggal dunia saat menjalankan tugas dengan kondisi tangan terborgol.

Korban yang berusia 43 tahun itu meninggalkan seorang istri dan dua anak yang masih menempuh pendidikan. Dari keterangan keluarga, tidak ada tanda-tanda mencurigakan sebelum peristiwa terjadi.

Sang istri hanya mengingat korban sempat mengeluhkan kondisi tubuh yang lelah, sebelum berangkat bekerja pada malam hari.

"Keluhannya cuma kelihatannya capek saja," ujar istri korban kepada Dedi.

Kasus tersebut membuat Dedi mempertanyakan standar pengamanan di kawasan Waduk Jatiluhur, yang merupakan objek vital nasional. Menurutnya, fasilitas strategis yang berkaitan dengan ketahanan energi nasional semestinya memiliki sistem keamanan yang lebih ketat.

"Ini daerah strategis, daerah vital yang menyangkut keamanan Indonesia dan produksi listrik. Masa tidak dipasang CCTV dan penerangannya kurang?," ujarnya.

Dedi juga menyoroti minimnya jumlah personel keamanan yang bertugas di kawasan tersebut.

"Jangankan mengamankan, yang jaganya saja belum aman," ucapnya.

Dia menilai, evaluasi menyeluruh harus segera dilakukan agar kejadian serupa tidak terulang. Untuk itu, Dedi akan berkoordinasi dengan Polda Jabar guna mempercepat pengungkapan kasus tersebut.

“Saya akan koordinasi dengan Kapolda agar kasus ini segera diungkap. Kemudian saya juga minta PJT melengkapi seluruh sistem pengamanan, mulai dari CCTV, penerangan yang memadai, hingga penambahan personel keamanan," tegasnya.

Sebagai bentuk dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan, Dedi juga menyerahkan bantuan deposito pendidikan sebesar Rp25 juta melalui Baznas Jabar.

"Nanti ini dititipkan deposito Rp25 juta untuk cadangan sekolah anak," ungkapnya.

Selain mendorong pengungkapan kasus secara hukum, dia menegaskan anak-anak korban tidak boleh kehilangan masa depan hanya karena tragedi yang merenggut orang tua mereka. Negara, menurutnya, harus hadir untuk memastikan perlindungan sosial dan keberlanjutan pendidikan bagi keluarga korban.


Editor : Doni Ramdhani