Desa Digital Jadikan Jabar Juara
Istilah Jabar Juara tidak hanya sekadar jargon semata. Itu terbukti setelah Program Desa Digital keluar jadi pemenang pada lomba level internasional di IDC Smart City Asia Pasific Award (SCAPA) 2020 dalam kategori Digital Equity and Accessibility.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Istilah Jabar Juara tidak hanya sekadar jargon semata. Itu terbukti setelah Program Desa Digital keluar jadi pemenang pada lomba level internasional di IDC Smart City Asia Pasific Award (SCAPA) 2020 dalam kategori Digital Equity and Accessibility.
IDC Smart City Asia/Pacific Awards 2020 sendiri digelar oleh International Data Corporation (IDC) yang merupakan penyedia global utama intelijen pasar, layanan konsultasi, dan acara untuk teknologi informasi, telekomunikasi, dan pasar teknologi konsumen.
Pencapaian ini menjadikan provinsi Jawa Barat mampu mengangkat nama Indonesia. Pasalnya dengan Desa Digital dinilai dapat memberdayakan masyarakat dan meningkatkan aksesibilitas informasi melalui pemanfaatan teknologi digital dan internet.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kadiskominfo) Jawa Barat Setiaji mengatakan, Desa Digital harus bertarung dengan sejumlah program dari negara-negara besar sebelum keluar menjadi juara di ketegori Digital Equity and Accessibility.
"Dan ini kita mewakili Indonesia ya, Indonesia satu satunya ya Jabar yang menang," ujar Setiaji, Senin (1/6/2020).
Adapun nominalis lainnya pada kategori Digital Equity and Accessibility, sebut saja program Coogee Smart New Technologies at The Beach (Australia), Eco-Free Zone (Korea Selatan), Rural Boadband Connectivity 2 (New Zealand) dan Jakarta Kini alias Jaki (Indonesia). Setiaji mengatakan, tahap seleksi dilakukan pada Januari 2020 lalu kemudian dilakukan voting selama satu pekan pada bulan April 2020 sebelum mendapatkan penilaian dari juri.
"Kita bersaing dengan negara-negara hebat. Setelah seleksi kami keluar menjadi finalis dengan negara-negara besar itu yang juga menjadi nominalis dan Alhamdulillah diumumkan sebagai juara untuk kategori Digital Equity and Accessibility," paparnya.
Menurut dia, seluruh pemenang dalam ajang tersebut ditentukan berdasarkan tolok ukur analis IDC, pemungutan suara publik, dan penilaian dari Dewan Penasihat Internasional. Desa Digital sendiri dinilai dapat meningkatkan aksesibilitas, seperti internet, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui digital.
Di mana pihaknya mempresentasikan manfaat dari Desa Digital yang mampu mendorong program Internet of Things (IoT) di sejumlah sektor. Sehingga dapat meningkatkan tata kelola, layanan publik, dan kualitas hidup warga di provinsi berpenduduk paling padat di Indonesia ini. Terlebih sebagian besar warga Jawa Barat tinggal di daerah pedesaan yang dominan dengan jumlah 5.312 desa.
Karena itu memiliki tantangan menghapuskan ketimpangan digitalisasi masyarakat pedesaan dengan perkotaan guna menyongsong revolusi 4.0.
"Kita ajukan itu kan menginfokan desa digital itu mulai dari penyediaan akses internet, kemudian ada program tematik lainnya separti di sektor perikanan, perikanan, perkebunan dan yang lainnya dengan pendekatan IoT. Hal itu yang kiga sampaikan kepada mereka (juri)," paparnya.
Diketahui, sejak diluncurkan oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pada 10 Desember 2018 lalu, Desa Digital menjadi program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital dan internet dalam pengembangan potensi desa, pemasaran dan percepatan akses serta pelayanan informasi.
"Kita membagi beberapa desa. Ada desa yang nol infrastruktur, maka kita mulai bangun infrastruktur seperti pemasangan wifi. Kemudian, ada desa 2.0. Di desa itu sudah ada infrastrukturnya, dan kita mulai untuk meningkatkan literasi digital dengan menggerakkaan relawan TIK," katanya.
Setiaji mengatakan, saat ini Desa Digital telah diaplikasikan pada sejumlah kabupaten kota. Di antaranya Kabupaten Bandung Barat, Indramayu dan Kerawang dan Sumedang.
Di sektor perikanan sendiri, ribuan kolam sudah menggunakan teknologi smart auto feeder. Lewat teknologi itu, memberi pakan ikan bisa menggunakan gawai. Hal tersebut membuat panen bisa naik dari dua menjadi empat kali dalam setahun.
Selain itu, sejumlah desa sudah mulai memasarkan hasil pertanian melalui e-commerce. Hal itu menguntungkan petani dan konsumen, karena alur distribusi yang kerap melambungkan harga, dapat dipangkas.
"Di Indramayu itu sektor perikanan dan yang sekarang sedang jalan juga di Kerawang. Di Sumedang Perikanan dan di Lembang itu untuk garden," katanya.
Setiaji memastikan, pihaknya kembali akan menggenjot program Desa Digital pada sejumlah daerah lainnya. Mengingat sebelumnya ditargetkan ada 5.500 desa di Jabar yang ditargetkan mendapatkan program ini.
"Tahun ini menargetkan ada 14 desa, karena ada Covid-19 terpaksa kita tunda dulu. Setelah Covid selesai kita akan teruskan lagi program ini," kata dia. ((rainto n/inforial diskominfo jabar))
Editor : Doni Ramdhani

