DESA JUARA: Kedelai Mengubah Bopeng Wajah Cibulan

DARI sebuah desa yang dijejali galian C, Cibulan menjelma jadi desa terbaik di Jawa Barat. Mulai menapak kerja sama dengan dunia internasional.

DESA JUARA: Kedelai Mengubah Bopeng Wajah Cibulan

DARI sebuah desa yang dijejali galian C, Cibulan menjelma jadi desa terbaik di Jawa Barat. Mulai menapak kerja sama dengan dunia internasional.

Ahmad kini merasa lebih tenang. Tak ada lagi suara bising truk yang lalu lalang di desanya di Cibulan. Tak ada lagi alat berat yang lalu lalang di wilayah desa yang masuk Kecamatan Cidahu, Kabupaten Kuningan, itu.

Pria berusia 45 tahun itu kini merasa Cibulan laksana syurga. Sesuatu yang mereka rindukan sejak lama. Sebagian warga yang sebelumnya setiap hari menyeberang ke desa lain untuk bekerja sebagai petani penggarap, kini betah di desanya. Jadi petani kedelai.

“Kini justru warga dari desa lain yang datang ke Cibulan. Desa ini sekarang sudah berubah jadi hijau,” katanya.

Padahal, bertahun-tahun lamanya Cibulan seolah tenggelam. Dia, selama 15 tahun, menjadi bulan-bulanan pengusaha galian C. Para pengusaha mengeruk kekayaan pasir dan tanah yang ada di desa tersebut. Ratusan hektare lahan milik warga desa jatuh ke tangan pengusaha pasir. Dilepas dengan harga super murah.

Kenyang setelah mengeruk kekayaan tanah, pengusaha meninggalkannya begitu saja. Tak ada reklamasi. Yang ada tinggal lubang-lubang bekas galian tambang setelah kandungan pasir dan tanah habis mereka ambil dengan omzet puluhan miliar rupiah. Belasan tahun pula, tanah tersebut terbengkalai karena memang sudah divonis menjadi lahan tandus tanpa bisa ditanami apapun.

Itu pula yang jadi titik perhatian pria tambun bernama Iwan Gunawan, lebih dari dua tahun lalu. Sejak dilantik sebagai Kepala Desa Cibulan, lulusan Universitas Padjadjaran itu paham, tantangan yang dia hadapi tidaklah ringan.  Baginya, lahan-lahan itu tak boleh dibiarkan begitu saja. Harus memberi manfaat. 

Kedelai? Itulah yang sempat tercetus. Ide menanam kedelai bukanlah ide sembarangan. Dia sempat melakukan kajian dengan beberapa ahli. Semangatnya kian bangkit ketika Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan optimistis, kedelai bisa tumbuh pada lahan tandus tersebut.

“Unsur hara hanya 3, sementara idealnya harus 6. Tapi Dinas Pertanian menyarankan memakai dolmit, sejenis kapur pertanian. Hasilnya, kedelai sekarang sudah tumbuh subur,” ungkap Iwan.

Sejak itulah, Cibulan mulai menjadi perbincangan, dari tingkat daerah hingga pusat. Desa yang dulunya punya masa depan merisaukan, kini menarik minat warga desa lain. Hijau, istilah Ahmad menggambarkannya.

Tiba-tiba, Cibulan menjelma menjadi desa terbaik di Jawa Barat. Bahkan, di level nasional, Cibulan pun diperhitungkan sebagai desa yang berhasil. Dia meraih juara harapan II desa terbaik.

Keberhasilan mengubah ratusan hektare lahan tandus bekas tambang galian C menjadi penghasil kedelai, menjadi pemicunya. Saat ini, sudah ada sekitar 125 petani keledai di Cibulan.

“Awalnya saya tidak kepikiran ide menanam kedelai di lahan bekas galian akan membawa desa kami juara. Ini hanya inovasi saja. Bagaimana memanfaatkan lahan tandus supaya bisa menghasilkan,” kata Iwan Gunawan kepada INILAH, Sabtu (1/2).

Hal paling mendasar, sebut Iwan, sebetulnya karena dia memiliki desain besar tentang arah Desa Cibulan. Dia ingin menjadikannya sebagai sentra tanaman dan olahan kedelai terbaik, setidaknya untuk wilayah Kuningan. Hal itu mengacu kepada isu strategis nasional yang menyebutkan negara hanya bisa mengimpor kedelai.

“Indonesia 99% sebagai negara pengimpor kedelai. Kabupaten Kuningan sendiri butuh kedelai dalam sebulan sekitar 600 ton. Inilah yang menjadi tantangan saya. Ditambah kondisi lahan bekas galian yang tidak memungkinkan dijadikan sawah,” papar Iwan.

Dengan lahan bekas galian seluas 514 hektare, Iwan mengaku mulai membuka lahan baru seluas 50 hektar pada tahun 2018. Lalu pada awal tahun dan akhir tahun 2019, kembali dibuka dengan luas 75 dan 25 hektare. Total saat ini, desa sudah memiliki 100 hektare lahan pertanian kedelai. Tahun ini ditargetkan membuka lahan seluas 200 hektare.

“Milik pengusaha totalnya 300 hektare. Ada yang sudah kita pakai. Sudah koordinasi dan mereka mengizinkan tanpa meminta imbalan apapun. Kita sudah panen sebanyak tiga kali. Panen pertama, produksi satu hektare menghasilkan 1,2 ton. Sedangkan panen kedua dan ketiga meningkat menjadi 1,4 ton per hektare. Kami jual Rp6 ribu per kilo. Lebih mahal harganya dari kedelai impor,” jelasnya.

Lalu, dari mana anggaran untuk membuka lahan? Iwan mengatakan diambil dari dana desa. Petani yang menggarap diatur kelompok tani yang jumlahnya ada empat kelompok. Sedangkan hasil panennya dijual langsung kepada pihak desa. Petani hanya tinggal menggarap saja karena untuk bibit dan pupuk, diberikan gratis oleh desa.

“Semua kedelai dari petani kami beli. Nanti kami jual lagi ke koperasi yang ada di Kuningan. Kedelai di sini varietas unggul jenis anjasmoro. Kami juga membuat dodol, brownis, tahu dan tempe yang semuanya dari bahan kedelai,” terangnya.

Dodol, brownis, tempe dan produk turunan itu, adalah bagian dari program yang dia sebut sebagai Bokor Ciremai atau Beragam Olahan Kedelai Organik Cibulan Renyah, Mantap, dan Istimewa. Produksi itu dibuat di kawasan Bumi Kedelai Cibulan.

“Kami ingin berkolaborasi dengan Bumdes Cibulan untuk mengembangkan produk ini, agar nanti bisa masuk di pasar lokal, regional, nasional, bahkan menembus ekspor,” katanya.

Iwan menambahkan, saat ini pihaknya tengah menjajaki kerja sama dengan pihak Korea Selatan. Hal itu tidak lepas dari peran serta Suyono dari Universitas Jember yang mengembangkan kedelai edamame di sana. Suyono, kata Iwan, salah satu mentor pengembangan tanaman dan olahan kedelai Desa Cibulan.

“Semoga grand desain desa kami bisa berjalan sesuai rencana. Minimal bisa membantu perekonomian warga desa,” tukasnya. 

Sukses Cibulan, tak pelak, memunculkan apresiasi dan pujian. Bupati Kuningan, Acep Purnama, salah satu yang memberikan apresiasi. Menurutnya, Cibulan tak hanya mampu mengelola lahan bekas galian C jadi perkebunan kedelai dengan pemberdayaan masyarakat, tapi juga berinovasi dalam pelayanan.

“Inovasi desa yang mengubah lahan bekas galian menjadi lahan tanaman kedelai ini berkat kegigihan dan kesabaran pemerintah serta masyarakat untuk membangun desanya jadi lebih baik,” katanya. (maman suharman/ing)
 


Editor : Zulfirman