Di Desa Lembang, Tiga Rumah Rusak Tertimpa TPT Milik BMKG
ak hanya di Desa Cibogo dan Wangunsari, bencana pergerakan tanah mengakibatkan Tembok penahan tanah (TPT) setinggi 10 meter di lahan Observatorium Geofisika BMKG di Kampung Pencut RT 02/07, Desa Lembang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ambrol.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Tak hanya di Desa Cibogo dan Wangunsari, bencana pergerakan tanah mengakibatkan Tembok penahan tanah (TPT) setinggi 10 meter di lahan Observatorium Geofisika BMKG di Kampung Pencut RT 02/07, Desa Lembang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) ambrol.
Sebanyak 3 rumah yang diisi 15 jiwa tersebut rusak akibat tertimpa TPT tersebut. Tak cuma itu, seekor sapi yang diketahui milik Ketua RT02, Asep Firman juga mati tertimpa tembok tersebut.
"Tiga rumah ini masing-masing dihuni 5 keluarga. Total jumlah jiwa yang terdampak sebanyak 15 orang," kata Asep.
Sebenarnya, kata Asep, warga sudah lama khawatir dengan keberadaan TPT yang berdiri disamping gang yang memisahkan antara gedung BMKG dan rumah warga. Sebab, TPT tersebut dibangun dengan pondasi yang tidak baik.
”Jadi pondasinya ngegantung. Tanahnya gak digali lagi tapi langsung dibuat sejajar dengan permukaan gang yang melintas di belakang Gedung Observatorium Geofisika BMKG,” katanya.
Salah seorang warga terdampak cukup parah, Unan menilai, ambruknya TPT itu akibat kelalaian manusia dikarenakan konstruksi pondasi yang buruk. Sehingga, ketika ada pergerakan tanah otomatis bentengnya ambruk.
”Sebaiknya pemerintah atau BMKG menaruh perhatian karena ini urgen. Sebab yang dirugikan itu rumah warga, termasuk saya. Apalagi bentengnya memang dibuat tidak bagus," kata Unan.
"Terlepas dari musibah, ini adalah kesalahan manusia karena TPT yang dibuat tidak baik sehingga jebol saat terjadi pegerakan tanah,” bebernya.
Warga lainnya, Noneng menuturkan, sebelumnya (Kamis Malam) hujan deras terus menerus mengguyur Lembang. Menurutnya, tak ada tanda-tanda sebelumnya bahwa TPT bakal ambrol.
Namun, sekitar pukul 03.15 WIB dini hari benteng atau TPT itu ambrol dan menimpa tiga rumah warga.
”Gak ada tanda-tanda sebelumnya. Meskipun memang malamnya hujan deras mengguyur kampung kami. Jumat sekitar jam 03.15 WIB benteng BMKG roboh," ujarnya.
"Untung tidak ada yang terluka, meski rumah kami rusak,” kata Noneng yang rumah panggungnya bergeser 70 cm imbas kejadian tersebut.
Menurutnya, warga yang menjadi korban ambrolnya TPT tersebut kecewa dengan penanganan BMKG yang lebih mementingkan bentengnya daripada melakukan penanganan terhadap warga yang terdampak.
”Pak Edi dari BMKG bilang bahwa penangan rumah warga yang terdampak akan didiskusikan dulu dengan atasan. Padahal kan ini urgen. Kami membutuhkan penanganan,” tuturnya.
Editor : Doni Ramdhani

