Di Tengah Aksi Demo, Dade Sindir Penguasa Cirebon, Slogannya Mentereng Tapi Tetap Gupak

Di tengah aksi warga Cirebon Timur, Dade Mustofa Efendi menyindir Pemkab Cirebon. Dia bilang, slogannya mentereng, tapi tetap gupak (kotor).

Di Tengah Aksi Demo, Dade Sindir Penguasa Cirebon, Slogannya Mentereng Tapi Tetap Gupak

INILAHKORAN. Cirebon – Di tengah aksi warga Cirebon Timur, Dade Mustofa Efendi menyindir Pemkab Cirebon. Dia bilang, slogannya mentereng, tapi tetap gupak (kotor).

Dade Mustofa Efendi memimpin aksi unjuk rasa warga Cirebon Timur di Kecamatan Babakan, Sabtu 12 April 2025. Ratusan warga mengikuti aksi unjuk rasa itu.

Dade Mustofa Hidayat yang menjadi koordinator aksi unjuk rasa menjelaskan bahwa jalan rusak di wilayah Cirebon Timur bukan jalan biasa, tapi akses utama menuju rumah sakit, sekolah, dan pasar tradisional. 

Kondisi jalan berlubang besar dan berlumpur bukan hanya menyulitkan mobilitas, tetapi juga membahayakan keselamatan warga.

“Kalau pemerintah tidak sanggup kelola APBD, dan juga tidak sanggup melobi pusat, berarti pemerintah gagal. Hari ini kita turun karena janji tinggal janji,” ungkapnya.

Menurut Dade, meski Pemkab mengklaim telah mengusulkan anggaran, nyatanya pagu dari pusat justru dipotong. 

Hal ini menunjukkan lemahnya daya tawar dan keseriusan pemerintah daerah dalam mengurus kebutuhan dasar masyarakatnya.

Dede juga menyebutkan, mengapa dalam aksi tersebut warga juga menggelar potong tumpeng dan mandi rumput. Ini tidak lain sebagai bentuk sindiran terhadap perayaan Hari Jadi Kabupaten Cirebon ke-543 yang jatuh di bulan April ini.

“Pemkab Cirebon saat ini punya slogan mentereng, tapi bagi kami Cirebon Timur tetap gupak (kotor). Kalau jalan tetap seperti ini, mana buktinya Cirebon mentereng?,” sindir Dade. 

Warga juga, aku Dade, tidak menuntut pengurugan atau tambal sulam. Yang mereka minta adalah betonisasi, karena jalan-jalan tersebut menanggung beban berat dan vital bagi kehidupan warga.

“Kami ingin kualitas jalan yang layak. Bukan solusi setengah hati. Betonisasi adalah kebutuhan, bukan kemewahan,” akunya. (*)


Editor : Zulfirman