Diaspora Indonesia Bawa Inovasi Terapi Regeneratif ke Tanah Air

Diaspora Indonesia di Ukraina, Petrus Freddy Cahyono, memperkenalkan Exodus, teknologi terapi regeneratif berbasis eksosom dalam forum RI-Tiongkok.

Diaspora Indonesia Bawa Inovasi Terapi Regeneratif ke Tanah Air
Diaspora Indonesia di Ukraina, Petrus Freddy Cahyono, memperkenalkan Exodus, teknologi terapi regeneratif berbasis eksosom dalam forum RI-Tiongkok. (Istimewa)

INILAHKORAN.ID - Petrus Freddy Cahyono, diaspora Indonesia yang telah menetap di Ukraina selama satu dekade, memperkenalkan Exodus, sebuah mesin terapi regeneratif yang menurutnya dapat membantu penanganan berbagai penyakit. Teknologi tersebut dipamerkan dalam ajang Perhimpunan Persahabatan Indonesia–Tiongkok.

Petrus yang merupakan pemilik LLC Pravitna Genius Sel sekaligus CEO PT Pravidna Nanoteknologi Indonesia mengatakan dirinya bersyukur dapat memperkenalkan teknologi tersebut kepada masyarakat Indonesia. 

Melalui kesempatan itu, dia juga menjelaskan mekanisme kerja terapi yang dikembangkan perusahaannya.

Menurut Petrus, proses terapi diawali dengan pengambilan sampel air liur atau urine pasien. Sampel tersebut kemudian dianalisis untuk mendeteksi tingkat kerusakan sel dalam tubuh sehingga dapat memberikan gambaran kondisi kesehatan pasien secara lebih rinci.

Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan tingkat kerusakan sel di atas 25 persen, darah pasien akan diambil untuk diproses secara steril menggunakan mesin Exodus

Setelah melalui proses pemurnian, eksosom yang dihasilkan akan diberikan kembali ke tubuh pasien dengan tujuan membantu proses regenerasi organ yang mengalami kerusakan.

Petrus mengeklaim teknologi tersebut berpotensi membantu penanganan berbagai penyakit, seperti diabetes, kolesterol tinggi, penyakit jantung, leukemia, kanker, hingga gangguan autoimun. Namun, dia menegaskan, tingkat keberhasilan terapi sangat bergantung pada kondisi kesehatan masing-masing pasien.

“Kalau organ pasien sudah rusak total, saya tidak mungkin melawan takdir. Alat ini sangat efektif jika persentase kerusakan organ masih bisa ditoleransi, misalnya 40 persen hingga 60 persen. Kesembuhan seutuhnya tetap berada di tangan Yang Maha Kuasa,” ujar Petrus, Selasa (2/6/2026).

Dia menjelaskan, masyarakat yang ingin menjalani terapi regeneratif dengan teknologi tersebut harus mendaftar melalui distributor resmi dan mendapatkan rujukan dari jaringan dokter spesialis yang telah bekerja sama.

Lebih lanjut, Petrus mengatakan pihaknya ingin mendorong pengembangan teknologi pengobatan regeneratif di Indonesia sebagai bentuk kontribusi bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. 

Menurutnya, kondisi geopolitik global yang tidak menentu serta konflik di sejumlah wilayah dunia dapat memengaruhi distribusi obat-obatan dan peralatan kesehatan.

“Saya ingin rakyat Indonesia bukan hanya hidup sehat melalui olahraga atau pola makan yang baik, tetapi juga menyadari bahwa di dalam darahnya sendiri terdapat potensi luar biasa yang dapat menjadi solusi bagi kesehatan. Darah manusia adalah anugerah yang tidak bisa dibuat dan memiliki manfaat yang sangat besar,” katanya.

Petrus berharap pemanfaatan teknologi regeneratif dapat membantu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan mendorong peningkatan usia harapan hidup di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, dia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, serta masyarakat Jawa Barat atas dukungan terhadap pengembangan inovasi di bidang kesehatan. ***


Editor : Gin gin T Ginulur