Diduga Ada Tindak Penyelewengan, Seorang Lansia Asal Saguling Tak Kunjung Terima Bansos
Sudah jatuh tertimpa tangga menjadi ungkapan yang tepat ketika melihat kondisi Inong (90) yang diduga menjadi korban penyelewengan dana bantuan sosial (bansos).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Sudah jatuh tertimpa tangga menjadi ungkapan yang tepat ketika melihat kondisi Inong (90) yang diduga menjadi korban penyelewengan dana bantuan sosial (bansos).
Warga Kampung Pasir Lengo, RT 01 RW 09, Desa Saguling, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini tak mendapatkan bansos dari pemerintah usai kehilangan buku rekening Program Keluarga Harapan (PKH), akibat insiden kebakaran yang menghanguskan rumahnya.
Lansia yang akrab disapa Mak Inong itu sudah dua tahun tak menerima bansos PKH untuk kategori lansia. Padahal, dia masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dan setiap tahunnya dana tersebut tersalurkan.
Kondisi itu terjadi lantaran disinyalir adanya dugaan penyelewengan dana bansos atas nama Mak Inong oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
"Mak Inong sama sekali tak menerima dana bantuan sosial dari pemerintah itu. Jika ditotal dana yang diselewengkan mencapai Rp4.800.000," kata cucu korban penyelewengan dana bansos, Deni Permana, Senin 3 Februari 2025.
Deni menuturkan, dalam catatan riwayat transaksi, dana PKH atas nama Mak Inong tetap dicairkan. Namun, beliau tidak pernah menerima uang tersebut.
"Ini menjadi tanda tanya besar. Siapa yang mencairkan dana tersebut tanpa konfirmasi kepada penerima manfaat? Dugaan kami, ini dilakukan oleh oknum yang memiliki akses dan paham terhadap prosedur pencairan,” tuturnya.
Deni pun menceritakan, kondisi itu bermula saat rumah neneknya itu mengalami musibah kebakaran pada Juni 2023 lalu. Namun, setelah itu Ma Inong sudah tak menerima dana PKH lantaran kehilangan kartu ATM pasca kebakaran tersebut.
Belum lama ini, sambung Deni, berdasarkan informasi dari pendamping PKH, terkuak transaksi pencairan bantuan tunai dari pemerintah atas nama Mak Inong terus mengalir setiap bulannya.
"Kebetulan kartu ATM PKH dan buku tabungannya terbakar. Nah dari situ Mak Inong sama sekali tidak menerima bantuan dari PKH," ujarnya.
"Jadi dari situ sampai detik ini Januari 2025 tidak pernah menerima bantuan dari pemerintah. Tapi beberapa hari lalu berdasarkan informasi itu setelah di cek di rekening DTKS selalu ada riwayat transaksi pencairan," bebernya.
Tak cuma itu, lanjut Deni, pihaknya pun mencoba berkomunikasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) KBB. Hasilnya, Mak Inong ternyata mendapat dua sumber bantuan dari pemerintah. Pertama dari PKH dan BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai).
"Nah yang dari BPNT ini si ma sama sekali tidak menerima. Bahkan dari awal tahun 2023. Berdasarkan informasi dari Reskrim Polsek Saguling juga ternyata yang BPNT itu selalu dicairkan dari Januari 2023, jadi hampir dua tahun," terangnya.
"Untuk PKH dari Juni-Agustus 2023, memang statusnya SP2D keterangannya karena memang sedang diproses oleh Kemensos. Jadi setelah itu yang bantuan PKH ternyata dialihkan ke rekening BPNT," paparnya.
Menurutnya, yang menjadi persoalan rekening BPNT tersebut tidak dipegang oleh korban ataupun pihak keluarga. Pasalnya, pihak keluarga tak tahu-menahu Mak Inong mendapatkan bantuan tersebut.
"Kami baru menerima buku rekening itu yang sebelumnya tidak diketahui baru tiga hari yang lalu" tuturnya.
Deni berharap kasus ini bisa segera terungkap. Saat ini menurutnya pihak kepolisian juga sudah turun tangan dan akan menyelidiki kasus penyelewengan bantuan sosial tersebut.
“Kami berharap ada itikad baik dari yang diduga pelaku untuk mengembalikan hak yang seharusnya diterima oleh Mak Inong,” tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani

