Dinas PUTR Kab Bandung Bakal Panggil Pengembang Perumahan Penyebab Banjir
Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Bandung akan melakukan pemanggilan dan menegur pengembang perumahan Anvaya Hills di Desa Nagrak Kecamatan Cangkuang yang telah melakukan pematangan lahan dan menimbulkan masalah bagi warga sekitar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kabupaten Bandung akan melakukan pemanggilan dan menegur pengembang perumahan Anvaya Hills di Desa Nagrak Kecamatan Cangkuang yang telah melakukan pematangan lahan dan menimbulkan masalah bagi warga sekitar.
Kepala Bidang Tata Ruang Dinas PUTR Kabupaten Bandung Ben Indra mengatakan, dalam Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Tata Wilayah (RTRW) kawasan Desa Nagrak merupakan area kuning atau diperuntukan bagi kawasan pemukiman. Termasuk di lokasi pembangunan di Kampung Babakan Rongga itu. Selain itu, pihaknya juga berani mengeluarkan rekomendasi izin karena telah mengantongi SKKL, UKL, UPL dan lainnya.
"Selama dalam RTRW nya kuning, kami tidak bisa menolak permohonan rekomendasi. Nah soal kenapa itu kawasan Desa Nagrak RTRW nya kuning termasuk dikawasan perumahan itu, yang harus dipertanyakan yah hasil kajian konsultan Perda RTRW nya. Karena kan mereka konsultan perencanaan Perda RTRW yang menentukan suatu daerah itu untuk apa apanya," kata Indra di Soreang, Kamis (12/12/2019).
Menurut Indra, jika merujuk pada semua dokumen persyaratan yang telah dilengkapi, serta rekomendasi dari semua dinas terkait telah dikeluarkan. Itu artinya permohonan izin proyek perumahan itu sudah hampir selesai. Namun demikian, ketika di lapangan terjadi hal yang merugikan masyarakat tentu pihaknya akan meminta pengembang menghentikan operasional dan menyelesaikan lebih dulu masalah lingkungan dampak dari proyek tersebut.
"Kalau semua persyaratan semua lengkap. Tapi kalau ada permasalahan, apalagi merugikan masyarakat sekitar yah harus dihentikan dulu. Kami akan minta mereka memperbaikinya,"ujarnya.
Kepala Seksi Pengawasan dan Pengendalian Bangunan, Dinas PUTR Kabupaten Bandung, Gundani menambahkan, berdasarkan informasi dari stafnya, pemilik perusahaan telah menjual (take over) lahan perumahan Anvaya Hills tersebut kepada pihak lain. Namun demikian pihaknya tetap akan melakukan pemanggilan kepada pihak pemilik pertama Anvaya Hills yakni PT. Sukses Perkasa yang berkedudukan di Surabaya.
"Katanya sudah di take over, cuma kami belum tahu pada siapa di take overnya. Namun demikian kami akan tetap kejar minta tanggungjawabnya pada pemilik pertama. Kami akan layangkan surat panggilan kesana, atau mungkin bisa saja saya telepon agar datang kesini," katanya.
Diberitakan sebelumnya, warga Kampung Babakan Rongga RT 2 RW 9 Desa Nagrak Kecamatan Cangkuang, mengeluhkan banjir lumpur yang memenuhi jalan setiap hujan turun, yang terjadi akibat proyek pembangunan komplek perumahan Anvaya Hills yang didirikan di lereng Bukit Panyaungan yang curam. Meski belum mengantongi perizinan, proyek perumahan seluas kurang lebih sembilan hektar itu sejak sekitar dua bulan terakhir ini beroperasi dan menyisakan masalah lingkungan bagi warga sekitar.
"Setiap turun hujan banjir lumpur ke jalan dan ke sawah. Bahkan sebelum dibuatkan kirmir banjir lumpur itu masuk ke rumah kami. Enggak tahu kenapa yah itu pembangunan rumah kok didirikan di lereng bukit yang curam, sebagai warga sekitar tentu kami khawatir terjadi longsor. Tapi yah mau bagaimana lagi kami tidak bisa berbuat apa apa," kata Titi Rohayati, salah seorang warga Kampung Babakan Rongga, Senin (9/12/2019).
Menurut Titi, pembangunan perumahan tersebut berlangsung sejak sekitar dua bulan lalu. Saat itu masih belum musim hujan, sehingga aktivitas pengerukan serta meratakan lahan dengan alat berat berjalan mulus. Ironisnya, pembangunan perumahan itu dilaksanakan sebelum membuat saluran air. Maka saat musim hujan tiba, banjir lumpur turun dari atas bukit ke kawasan pemukiman warga dan sawah.
"Awal musim hujan langsung banjir lumpur ke pemukiman dan sawah karena enggak ada saluran air. Nah setelah kejadian beberapa kali banjir baru mereka bikin saluran air. Tapi belum juga selesai itu pembangunan saluran itu berhenti dan proyeknya juga sejak sebulan ini enggak ada lagi aktivitas pekerjaan tuh lihat saja berantakan begitu pekerjaan kirmir yang belum selesai," ujarnya. (Dani R Nugraha)
Editor : Doni Ramdhani

