Dinkes Jabar Pastikan Superflu H3N2 Hilang, Kasus Terakhir Tertangani Oktober 2025

Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar memastikan, kasus yang sempat ramai dibicarakan, Superflu atau virus Influenza tipe A H3N2 sudah tidak ditemukan lagi di Jabar hingga Januari 2026.

Dinkes Jabar Pastikan Superflu H3N2 Hilang, Kasus Terakhir Tertangani Oktober 2025
Kepala Dinkes Jabar Vini Andiani Dewi mengungkapkan, sepanjang Agustus hingga Oktober 2025 terdapat 10 kasus Influenza tipe A H3N2 di Jawa Barat. Namun, tren kasus tersebut terus menurun dan tidak lagi ditemukan kasus baru setelah Oktober 2025. (ilustrasi/net)

INILAHKORAN.ID - Dinas Kesehatan (Dinkes) Jabar memastikan, kasus yang sempat ramai dibicarakan, Superflu atau virus Influenza tipe A H3N2 sudah tidak ditemukan lagi di Jabar hingga Januari 2026.

Seluruh kasus yang tercatat pada 2025 dipastikan telah tertangani dan pasiennya kini dalam kondisi sehat.

Kepala Dinkes Jabar Vini Andiani Dewi mengungkapkan, sepanjang Agustus hingga Oktober 2025 terdapat 10 kasus Influenza tipe A H3N2 di Jawa Barat. Namun, tren kasus tersebut terus menurun dan tidak lagi ditemukan kasus baru setelah Oktober 2025.

"Di Jawa Barat ada 10 kasus pada Agustus sampai Oktober itu sudah menurun. Sudah tertangani dan semuanya sudah sehat," ujar Vini, Rabu 7 Januari 2026.

Meski demikian, Dinkes Jabar tidak merinci sebaran wilayah kasus tersebut. Hal ini lantaran data yang diterima bersumber dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, tanpa keterangan detail domisili pasien.

"Itu dari laporan (RS) Hasan Sadikin, detail tidak diketahui dari mana saja," ucapnya.

Vini menegaskan, istilah Superflu bukan istilah medis atau kedokteran, melainkan istilah yang berkembang di masyarakat. Secara ilmiah, penyakit tersebut adalah virus Influenza tipe A H3N2.

Menurutnya, penyebutan Superflu muncul karena gejala yang ditimbulkan relatif lebih lama dibandingkan flu biasa, terutama pada kelompok rentan.

"Superflu itu virus influenza tipe A H3N2, tapi karena gejalanya lebih lama. Kalau flu biasa, 3 sampai 4 harus sembuh, kalau superflu lebih lama, bisa sampai 1 bulan apalagi kalau kelompok rentan yang terpapar. Jadi masyarakat menamakan Superflu," tuturnya.

Vini juga memastikan, tingkat fatalitas Influenza tipe A H3N2 jauh lebih rendah dibandingkan Covid-19. Hingga kini, tidak ada laporan kematian akibat virus tersebut di Jawa Barat, meskipun pola penularannya sama-sama melalui droplet. Selain itu, penyakit ini tidak berpotensi menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) maupun pandemi, karena vaksin Influenza sudah tersedia dan dapat diakses secara mandiri.

"Tidak seperti Covid, tidak ada kematian karena Influenza tipe A ini, sama melalui droplet. Vaksin sudah ada, tapi memang harus mandiri sama seperti mau ke luar negeri. Tidak berpotensi KLB dan pandemi," ucapnya.

Dinkes Jabar mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dengan menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), protokol kesehatan, serta melakukan vaksinasi Influenza setahun sekali guna mencegah penularan.

Vini mengingatkan, Influenza tipe A H3N2 pada dasarnya termasuk penyakit saluran pernapasan yang bersifat self limited, atau dapat sembuh dengan sendirinya jika daya tahan tubuh baik.

"Pencegahan ya penerapan PHBS, protokol kesehatan, dan vaksinasi satu tahun sekali. Kalau sakit harus istirahat, isolasi mandiri, menambah makan bergizi dan lainnya. Semua flu itu sebenarnya self limited, bisa sembuh sendiri seiring daya tahan tubuh yang baik," katanya.

Namun demikian, perhatian khusus tetap diperlukan bagi kelompok rentan seperti lansia, penderita penyakit penyerta, dan balita, karena berisiko mengalami gejala yang lebih berat.

"Superflu dan penyakit lainnya akan berat ke kelompok rentan seperti, lansia, orang yang memiliki komorbid, dan balita," tandasnya. 


Editor : Doni Ramdhani