Disperindag Jabar Tegaskan Harga Komoditas Pokok Cenderung Turun Pasca Nataru 2026

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat menegaskan, harga komoditas pokok cenderung mengalami penurunan pasca fase libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.

Disperindag Jabar Tegaskan Harga Komoditas Pokok Cenderung Turun Pasca Nataru 2026
Disperindag Jabar menyebutkan harga komoditas cenderung turun pasca Nataru. Foto ilustrasi

INILAHKORAN.ID - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Barat menegaskan, harga komoditas pokok cenderung mengalami penurunan pasca fase libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.

Kepala Disperindag Jabar, Nining Yuliastiani mengungkapkan, dari hasil pemantauan pada 31 Desember 2025 hingga 7 Januari 2026, harga komoditas pokok relatif mengalami penurunan.

Hanya tepung terigu yang mengalami kenaikan kata Nining, dari Harga Acuan Penjualan (HAP). Sedangkan gula pasir dan MinyaKita, harganya diakuinya juga menurun meski belum berada di titik Harga Eceran Tertinggi (HET).

Dari 27 kabupaten/kota, baru enam daerah yang harga MinyaKita normal sesuai HET Rp15.700. Antaranya Kabupaten Bandung, Kabupaten Bogor, Garut, Majalengka, Kota Bekasi dan Kota Cirebon.

"Sedangkan lainnya di angka Rp16.600-an per kilogram. Tapi cenderung menurun, karena sebelumnya ada yang Rp17-18 ribu," ujar Nining saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Kamis 8 Januari 2026.

Ini disebabkan kata dia, masih berlangsungnya transisi metode distribusi setelah Kementerian Perdagangan (Kemendag) Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 43/2025, terkait pendistribusian minyak goreng rakyat. Bila sebelumnya pendistribusian diserahkan sepenuhnya kepada swasta, kini minimal 35 persen dengan adanya regulasi tersebut, pendistribusian harus melalui Bulog, BUMN pangan atau ID Food.

"Jadi bukan langka. Masih ongoing. Terbukti yang enam kabupaten/kota itu sudah stabil, sesuai HET," ucapnya.

Targetnya memang kata Nining, supaya ke depan ketersediaan dan harga MinyaKita terjamin. Sehingga rantai pasok diefisienkan, utamanya untuk di pasar rakyat.

Demikian pula daging sapi, daging ayam dan telur ayam ras yang juga mengalami penurunan. Walaupun untuk daging sapi belum mengalami penurunan signifikan.

Hal ini kata dia, karena mayoritas kebutuhan daging sapi di Jabar masih dipasok dari luar daerah.

"Secara internal kita itu cuma bisa memenuhi 20 persen. Tapi kita kemarin sudah melakukan rakor dengan Kementerian Pertanian untuk stabilisasi harga sapi hidup. Dikomitmenkan dua minggu ke depan harganya stabil," ujarnya.

Kendati harga cenderung turun pada saat ini, Nining memastikan Satgas Pangan secara aktif memantau perkembangan harga.

Untuk produk agrikultur seperti cabai dan bawang, diakuinya juga mengalami penurunan harga. Walaupun kata dia, pemantauan distribusinya akan terus disorot.

"Tapi sejauh ini aman. Apalagi sebentar lagi kan beberapa daerah untuk produksi cabai dan bawang ini ada yang panen, untuk posisi di Januari ini. Seperti di Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut gitu," katanya. 


Editor : Ahmad Sayuti