Harga Beras di Jabar Ikut Merangkak Naik, Produksi Nasional Turun Jadi Pemicu
Kenaikan harga beras yang terjadi secara nasional turut menekan pasar pangan di Jabar. Penurunan proyeksi produksi beras nasional menjadi pemicu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kenaikan harga beras yang terjadi secara nasional turut menekan pasar pangan di Jabar. Penurunan potensi panen dan proyeksi produksi beras nasional, menjadi salah satu faktor yang memicu kenaikan harga komoditas pangan pokok tersebut.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jabar Linda Al Amin mengatakan, pergerakan harga beras di Jabar sejalan dengan tren kenaikan yang terpantau di berbagai daerah.
Di pasar tradisional, harga beras medium saat ini berada pada kisaran Rp13.000-13.500 per kilogram. Sementara beras premium dijual sekitar Rp14.800-14.900 per kilogram.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) per 2 November 2026, beras turut memberikan andil terhadap inflasi tahunan (yoy) Jabar sebesar 0,17 persen.
"Tren kenaikan harga beras memang terjadi secara merata di tingkat nasional, termasuk di wilayah Jabar," ujar Linda dalam keterangannya, Selasa (3/11/2026).
Dia menjelaskan, tekanan harga beras tidak terlepas dari sejumlah faktor dalam rantai produksi dan distribusi. Mulai dari dinamika permintaan dan penawaran, harga gabah di tingkat produsen, biaya penggilingan, hingga ongkos transportasi dan kelancaran distribusi dari sentra produksi ke wilayah konsumen.
Namun, tekanan harga tersebut mulai menunjukkan perkembangan berbeda. Berdasarkan pemantauan melalui panel harga komoditas, harga beras di tingkat konsumen tercatat sudah mengalami penurunan.
Salah satu faktor yang sebelumnya mendorong kenaikan harga adalah menyusutnya potensi produksi beras nasional. Luas potensi panen pada periode September-November 2026 tercatat turun sekitar 12,97 persen.
Penurunan tersebut diikuti proyeksi produksi beras nasional yang terkoreksi 11,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kondisi ini meningkatkan tekanan harga gabah di tingkat penggilingan padi.
"Hal ini otomatis meningkatkan tekanan harga di tingkat penggilingan padi," jelas Linda.
Kondisi tersebut menjadi perhatian, karena pergerakan harga beras tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan stok di tingkat konsumen, tetapi juga dipengaruhi kemampuan produksi dan biaya yang terbentuk sepanjang rantai pasok.
Meski harga beras di tingkat konsumen mulai menunjukkan penurunan berdasarkan pemantauan DKPP Jabar, perkembangan produksi dan distribusi tetap menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga pangan di Jabar.
Editor : Doni Ramdhani

