Disperindag KBB Sebut Kenaikan Harga Jelang Nataru Hal Biasa
Jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) sejumlah kebutuhan pokok di tanah air mengalami lonjakan, tak terkecuali di KBB.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Ngamprah - Jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) sejumlah kebutuhan pokok di tanah air mengalami lonjakan, tak terkecuali di Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Berdasarkan pantauan di beberapa pasar tradisional di KBB, sejumlah bahan pokok yang mengalami kenaikan antara lain cabe dan minyak goreng yang mengalami kenaikan.
Untuk harga cabai keriting menyentuh angka Rp50.000 per kilogram. Harga cabai tanjung kini mencapai Rp55.000-Rp60.000 per kilogram. Padahal harga normal hanya Rp30.000. Sedangkan harga minyak goreng melonjak di pasaran Rp19.000 per liter.
Baca Juga: Nataru, Menhub Waspadai Peningkatan Kasus Covid-19 di Jabar
Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Kadisperindag) KBB, Ricky Riyadi mengatakan, jelang Nataru ini kenaikan harga bahan pokok menjadi hal biasa sesuai dengan hukum permintaan.
"Jadi misalnya barang sedikit permintaan banyak, pasti harga melonjak. Ditambah lagi sekarang dengan cuaca sedang musim hujan banyak hambatan, baik distribusi atau panennya segala macam, sehingga di lapangan terjadi kenaikan harga," katanya kepada InilahKoran, Kamis 16 Desember 2021.
Ia menyebut, pihaknya tidak memiliki peran untuk mengendalikan harga kebutuhan pokok, namun hanya bisa melakukan monitoring fluktuatif perkembangan harga sekaligus ketersediaan.
Baca Juga: Ini Pesan Dokter Cegah Covid-19 Saat Libur Nataru
"Kami sudah melaporkan kondisi tersebut baik ke provinsi maupun ke pusat bahwa di KBB sedang terjadi ini dan itu. Jadi, kami memohon agar diberikan kelancaran dalam pendistribusian barang," sebutnya.
Kendati demikian, pihaknya juga memastikan ketersediaan bahan pokok jelang libur Nataru ini tetap aman.
Disinggung terkait pelarangan minyak curah, ia menyebut hal itu merupakan isu nasional yang berdampak hampir di semua wilayah.
Baca Juga: Disdik KBB Upayakan Para SIswa Mencintai Kearifan Lokal
"Masalahnya karena kita impor dari Brazil dan Argentina. Pasti dampaknya ke kita. Berkaitan dengan harga minyak goreng itu bukan hanya di Indonesia saja, itu akibat dari crude palm oil (CPO).
Ia menjelaskan, harga CPO saat ini sangat fluktuatif dan kondisi barang sedang naik. Oleh karena turut berdampak pada kenaikan minyak.
"Itu bukan hanya di KBB atau Jabar, tapi di seluruh Indonesia.
Baca Juga: Jelang Nataru, Harga Cabai di Bandung Meroket
Jadi kebijakannya tentu dari kementrian atau pusat. Kaitan nanti, apa ada intervensi dari pusat kaitan dengan penurunan harga CPO sehingga nanti turun lagi ke tingkat kabupaten," jelasnya.
Namun demikian, tambah dia, berdasarkan informasi terbaru kebijakan pelarangan minyak curah pada Januari 2022 dibatalkan.
"Kami tentunya mengikuti ketentuan pusat, kalau ternyata sudah dicabut ya sudah," tandasnya. *** (Agus Satia Negara)
Editor : inilahkoran


