Diwan Setiawan Latih Pelaku Seni Dokumentasikan Wayang lewat Ponsel

Pelaku seni wayang di Kabupaten Bandung mendapat pelatihan dokumentasi menggunakan ponsel dari dosen UNIBI untuk mendukung pelestarian budaya digital.

Diwan Setiawan Latih Pelaku Seni Dokumentasikan Wayang lewat Ponsel
Pelaku seni wayang di Kabupaten Bandung mendapat pelatihan dokumentasi menggunakan ponsel dari dosen UNIBI untuk mendukung pelestarian budaya digital. (Istimewa)

INILAHKORAN.ID -  Dosen sekaligus periset Fakultas Komunikasi dan Desain (FKD) Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia (UNIBI), Diwan Setiawan, S.Ds., M.Sn., memberikan pelatihan dokumentasi pertunjukan wayang menggunakan ponsel pintar (smartphone).

Pelatihan bertema “Memotret dan Merekam Pertunjukan Seni dan Budaya dengan Smartphone” itu digelar di Pondok Giri Harja Endah, Kabupaten Bandung, Selasa (11/8/2026). Kegiatan diikuti sekitar 20 pelaku seni pertunjukan wayang dari Kelompok Seni Wayang Golek Kolaborasi Cepot Nge’band.

Menurut Diwan, dokumentasi pertunjukan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengoperasikan kamera, tetapi juga kemampuan membaca dan memahami momen. Karena itu, kualitas kamera bukan satu-satunya faktor yang menentukan hasil dokumentasi.

“Dokumentasi yang baik bukan hanya tentang kualitas kamera. Yang lebih penting adalah bagaimana kita memahami apa yang sedang terjadi, memilih momen yang relevan, dan menyusun foto maupun video agar dapat menjadi informasi yang bermakna ketika dilihat kembali,” kata Diwan dalam keterangan persnya.

Selama sekitar dua jam, peserta mendapatkan materi mengenai pengenalan kamera ponsel, pencahayaan, fokus dan eksposur, komposisi, variasi ukuran gambar, kestabilan video, hingga dasar perekaman audio.

Peserta juga diperkenalkan pada pola pengambilan gambar, mulai dari establishing shot, wide shot, medium shot, close-up, detail shot, hingga reaction shot. Teknik tersebut diperlukan agar dokumentasi dapat menggambarkan pertunjukan secara lebih utuh.

Selain aspek teknis, pelatihan menekankan pentingnya etika dalam mendokumentasikan seni dan budaya. Peserta diajak memahami pentingnya meminta izin, menghormati ruang pertunjukan, mencatat identitas pelaku dan lokasi, serta mempertimbangkan konteks sebelum foto atau video dipublikasikan.

Pemanfaatan ponsel dipilih karena perangkat tersebut relatif mudah dijangkau dan memungkinkan komunitas melakukan dokumentasi secara mandiri.

Dengan pemahaman teknis dan etika yang memadai, hasil dokumentasi diharapkan tidak berhenti sebagai konten media sosial, tetapi dapat menjadi arsip pertunjukan yang memiliki nilai jangka panjang.

Pada sesi praktik, peserta menggunakan ponsel masing-masing untuk mencoba berbagai teknik yang telah dipelajari. Tim dosen dan mahasiswa UNIBI mendampingi peserta dalam menentukan sudut pengambilan gambar, menjaga kestabilan video, memilih momen, hingga menyusun rangkaian dokumentasi sederhana.

Kolaborasi

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) bertajuk “Living Performance Archive Wayang Golek Kolaborasi Cepot Nge’band: Integrasi Website XR (Extended Reality) dan Kurasi Konten Kolaboratif untuk Difusi Seni Sunda.”

Melalui pelatihan tersebut, UNIBI membangun kolaborasi dengan komunitas seni dalam mendukung pelestarian budaya melalui teknologi digital.

Tim narasumber terdiri atas dosen UNIBI, yakni Diwan Setiawan, S.Ds., M.Sn., Shinta Hartini Putri, M.Si., dan R. Muhammad Lutfi Ferrari, S.Ds., M.Sn. Pelaksanaan kegiatan juga melibatkan mahasiswa UNIBI untuk mendampingi peserta, mendokumentasikan kegiatan, serta membantu sesi praktik.

Kelompok Seni Wayang Golek Kolaborasi Cepot Nge’band menjadi mitra sekaligus studi kasus utama dalam pelatihan. Pertunjukan wayang dipilih karena memiliki unsur visual dan audio yang kompleks, mulai dari tokoh wayang, dalang, musik pengiring, suasana panggung, hingga interaksi dengan penonton.

Kondisi tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk memahami bahwa dokumentasi pertunjukan bukan sekadar mengambil gambar sebanyak mungkin. Setiap gambar perlu mempertimbangkan konteks, momen, dan alur cerita visual agar mampu merekam pengalaman pertunjukan secara utuh.

Keterlibatan mahasiswa UNIBI juga menjadi bagian dari pembelajaran berbasis praktik. Mereka tidak hanya membantu aspek teknis kegiatan, tetapi turut berinteraksi dengan peserta dan pelaku seni dalam memahami dokumentasi budaya serta pemanfaatan media digital.

Rangkaian PISN selanjutnya diarahkan pada pengembangan living performance archive melalui integrasi dokumentasi audiovisual, kurasi konten, website, dan teknologi Extended Reality (XR).

Melalui pendekatan tersebut, dokumentasi seni pertunjukan diharapkan tidak sekadar menjadi rekaman masa lalu. Lebih jauh, arsip digital dapat menjadi jembatan antara praktik budaya yang berlangsung secara langsung dengan kebutuhan akses, pembelajaran, dan pelestarian seni di ruang digital. ***


Editor : Gin gin T Ginulur