DKPP Jabar: Daya Beli Warga Masih Tertekan Meski Ekonomi Tumbuh Positif 2026
DKPP Jabar menyebut daya beli masyarakat menengah bawah masih tertekan meski ekonomi tumbuh. Harga pangan tinggi membuat konsumsi dan belanja tetap tertahan.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat yang masih berada di jalur positif belum sepenuhnya dirasakan masyarakat. Di balik berbagai indikator makro yang menunjukkan perbaikan, daya beli kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah masih menghadapi tekanan akibat tingginya harga kebutuhan pokok.
Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat menilai pemulihan ekonomi belum berlangsung merata. Meski inflasi relatif terkendali, banyak rumah tangga masih harus mengatur pengeluaran secara ketat agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
Kepala DKPP Jawa Barat, Linda Al Amin, mengatakan kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah menjadi pihak yang paling rentan terhadap gejolak harga pangan.
"Kelompok ekonomi menengah ke bawah masih menghadapi tekanan, meskipun ekonomi daerah terus tumbuh. Kondisinya tidak seragam, ada sektor yang membaik, tetapi banyak rumah tangga masih sangat sensitif terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok," ujar Linda, Rabu (5/8/2026).
Menurut Linda, inflasi yang terkendali tidak serta-merta mengurangi beban masyarakat karena harga sejumlah komoditas strategis masih lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
"Harga kebutuhan pokok masih relatif tinggi dibanding beberapa tahun lalu. Walaupun laju inflasi Jawa Barat kini berada di kisaran sekitar 2,72 persen (year on year), harga pangan seperti beras, cabai, dan beberapa bahan makanan tetap menjadi beban bagi keluarga berpenghasilan rendah," katanya.
Ia menjelaskan, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya mencerminkan peningkatan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.
"Konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama ekonomi Jawa Barat. Pertumbuhan ekonomi Jawa Barat masih cukup baik, namun hal ini tidak berarti seluruh lapisan masyarakat merasakan peningkatan kesejahteraan secara merata," ujarnya.
Masyarakat Lebih Selektif Berbelanja
Tekanan terhadap daya beli membuat masyarakat mengubah pola konsumsi. Linda menyebut warga kini lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang dan memprioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan pengeluaran untuk barang sekunder.
"Masyarakat lebih selektif dalam berbelanja. Pembelian barang sekunder seperti pakaian, elektronik, atau rekreasi cenderung ditunda," tuturnya.
Perubahan perilaku tersebut turut dirasakan pelaku usaha, terutama pedagang di pasar tradisional dan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Pedagang di pasar tradisional maupun UMKM lebih sering melaporkan penjualan yang naik turun dibanding periode sebelum pandemi," ucap Linda.
BPS: Jawa Barat Deflasi 0,05 Persen pada Juli 2026
Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat provinsi ini mengalami deflasi bulanan sebesar 0,05 persen pada Juli 2026. Penurunan harga sejumlah komoditas pangan menjadi faktor utama yang menekan inflasi.
Kepala BPS Jawa Barat, Margaretha Ari Anggorowati, menjelaskan deflasi dipicu melimpahnya pasokan bawang merah, cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, dan daging ayam ras dari daerah sentra produksi yang sedang memasuki masa panen.
Selain itu, penurunan permintaan selama masa libur sekolah turut memengaruhi harga sejumlah komoditas pangan.
"Deflasi juga disebabkan oleh penurunan permintaan daging ayam dan telur ayam ras selama periode libur sekolah karena tidak berjalannya program Makan Bergizi Gratis (MBG)," ujar Ari.
BPS mencatat bawang merah menjadi penyumbang deflasi terbesar pada Juli 2026 dengan andil 0,09 persen, disusul cabai merah 0,07 persen, emas perhiasan 0,07 persen, cabai rawit 0,05 persen, dan telur ayam ras 0,04 persen.
Sebaliknya, komoditas yang mendorong inflasi bulanan berasal dari bensin sebesar 0,09 persen, ketimun 0,02 persen, biaya sekolah dasar 0,02 persen, bawang putih 0,02 persen, serta mobil sebesar 0,01 persen.
Secara tahunan, inflasi Jawa Barat pada Juli 2026 tercatat 2,72 persen, dengan penyumbang utama berupa emas perhiasan, bensin, minyak goreng, beras, dan rokok kretek mesin.
Neraca Perdagangan Jabar Tetap Surplus
Di tengah tantangan daya beli masyarakat, kinerja perdagangan luar negeri Jawa Barat masih menunjukkan tren positif. BPS mencatat neraca perdagangan provinsi ini surplus USD13,79 miliar sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Surplus tersebut ditopang nilai ekspor yang mencapai USD19,60 miliar, tumbuh 5,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara nilai impor tercatat sebesar USD5,81 miliar.
Amerika Serikat menjadi tujuan utama ekspor nonmigas Jawa Barat dengan nilai USD3,26 miliar, diikuti Filipina sebesar USD1,74 miliar, dan Jepang USD1,40 miliar. Ketiga negara tersebut menyumbang hampir sepertiga total ekspor nonmigas Jawa Barat.
Di sisi impor, Tiongkok masih menjadi pemasok terbesar dengan nilai USD2,30 miliar atau sekitar 41,85 persen dari total impor nonmigas Jawa Barat. Posisi berikutnya ditempati Korea Selatan sebesar USD654,64 juta dan Jepang USD651,17 juta.***
Editor : JakaPermana


