DKPP Jabar Dorong Masyarakat Jajal Urban Farming
Tingginya laju pembangunan kian menggeliminasi lahan pertanian dan peternakan di perkotaan. Akibatnya, kota tersebut akan kesulitan memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung- Tingginya laju pembangunan kian menggeliminasi lahan pertanian dan peternakan di perkotaan. Akibatnya, kota tersebut akan kesulitan memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri.
Skor Pola Pangan Harapan (PPH) di Jawa Barat sendiri meskipun terbilang tinggi namun belum ideal, yaitu masih di angka 86. Masyarakat perlu lebih didorong untuk memenuhi konsumsi sayuran, buah-buahan dan protein hewani.
Kepala Dinas ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat Koesmayadie Tatang Padmawinata mengatakan pihaknya mengajak masyarkat perkotaan untuk memanfaatkan lahan sempit guna merealisasikan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Hal ini untuk mengantisipasi terbatasnya lahan dan mendongkrak skor PPH di Jabar.
"Sasaran kita adalah urban farming, yaitu petani perkotaan yang berlahan sempit tentu di sini lahan sempit harus menghasilkan produk yang unggul," ujar Koesmayadie di BJ Center, Jalan Riung Mukti Raya, Kota Bandung, Rabu (25/9/2019).
Sejauh ini, untuk memenuhi kebutuhan pangan perkotaan memang selalu terpaku daerah produsen. Menurut Koesmayadie, pemikiran tersebut dinilai kurang tepat lantaran masyarakat perkotaan pun memilki kesempatan untuk menghasilkan produk pangan yang bermutu kendati terbatas oleh lahan.
"Selama ini kota itu hanya sebagai pembeli saja. Kita sebagai produsen bisa juga, tapi tentunya menghasilkan teknologi yang bisa diandalkan," katanya.
Karena itu, lanjut dia, teknologi yang diterapkan oleh BJ Center bisa dijadikan model yang dapat diaplikasikan oleh masyarakat di rumahnya masing-masing. Di mana, terdapat dua komoditas yang dihasilkan yaitu sumber protein hewani dari daging dan telur ayam, juga sayur-sayuran melalui hidroponik.
"Sebenarnya misi kami dari pemerintah bagaimana menjawab tantangan khususnya pertanian di perkotaan dalam rangka menghasilkan komoditas pangan yang berkualitas dan gampang diakses," paparnya.
Lanjut Koesmayadie, masyarkat pun tidak harus adu harga dengan produsen lainnya di pasaran. Lantaran dengan teknologi yang dikembangkan oleh BJ Center setiap produk pangan yang dihasilkan memiliki keunggulan tersendiri. Dengan begitu, tentunya akan mempunyai segemen pasar yang juga mandiri.
"Dengan trade Mark sehat ini mungkin bisa mendongkrak harga yang spesial di luar yang biasanya. Seperti telur di sini Rp3500 perbutir. Ayam per kilo Rp75 ribu. Tapi kualitasnya kan di sini bisa lihat dari hasilnya bagaimana keunggulan nutrisi yang dihasilkan dari lahan yang sempit," paparnya
Tidak hanya itu, konsep urban farming ini pun menurut dia akan mengendalikan harga kebutuhan pangan di Jabar tatkala memasuki hari-hari besar. Di mana bisa saja distribusi dari daerah produsen tersendat disaat memasuki Idul Fitri atau Natal dan tahun baru.
"Realisasi sekarang ini mengupayakan untuk menyebarkan teknologi yang dimiliki oleh mereka jadi supaya lebih banyak lagi yang melakukan urban farming seperti ini di Jabar," pungkasnya.
Sementara itu, Pemilik BJ Center Bambang Jasnanto mengatakan dengan teknologi yang pihaknya kembangkan dapat mengefisienkan lahan. Misalnya untuk memelihara 100 ekor ayam pedaging, hanya membutuhkan kandang dengan panjang dua meter, luas satu meter dan tinggi 1 meter.
Lanjut dia, kandang tersebut dibuat dengan sistem rak empat tingkat, di mana setiap rak diisi oleh 25 ekor ayam pedaging.
"Ini menurut para ahli peternakan ini enggak masuk akal karena menurut ahli ini maksimum di isi 16, saya 25. Anehnya para ahli satu ekor itu rata rata 1,6. Padahal ukuran normal 1,3kg itu sudah hebat. Nah ini 1,6kg rata-rata," papar Bambang.
Dia katakan, dengan modal Rp2,7 juta untuk 100 ekor ayam rata-rata bisa mendapatkan omset Rp10 juta. Poin plusnya, daging, telur hingga sayur-sayuran yang diproduksi akan memiliki kualitas yang unggul dari segi gizi.
Hal tersebut, kata dia, lantaran pihaknya memiliki satu teknologi yaitu enzim activator yang mampu menjadikan hewan ternak memiliki kualitas unggul.
"Enzim ini terbuat dari buah-buahan asli dari Indonesia yang diproses melalui teknologi nano. Sehingga hewan ternak tidak perlu vitamin lagi," katanya.
Adapun Konsultan Peternakan BJ Center Rukmantoro Salim mengatakan, selain produk pangan lebih gurih enzim activator ini memiliki keunggulan lain, yaitu menjadikan daging, telur, bahkan kandang hewan ternak terbebas dari bau yang tidak enak.
"Teknologi seperti ini baru ada di kami. Kandang ayam juga menjadi tidak bau seperti di peternakan ada umumnya," ujar Rumantoro. (Rianto Nurdiansyah)
Editor : Bsafaat

