DPMD Jabar Harapkan Sinergitas Model Konsorsium Antar-Bumdes

DPMD Provinsi Jawa Barat mengharapkan terjadinya sinergitas antar-Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang berada di Jabar. Dalam hal ini akan menggunakan model seperti konsorsium.

DPMD Jabar Harapkan Sinergitas Model Konsorsium Antar-Bumdes
Kepada DPMD Jabar Dedi Supandi. (net)

INILAH, Bandung - Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Provinsi Jawa Barat mengharapkan terjadinya sinergitas antar-Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) yang berada di Jabar. Dalam hal ini akan menggunakan model seperti konsorsium.

Kepada DPMD Jabar Dedi Supandi mengatakan, untuk merealisasikan sinergitas antar-Bumdes ini pihaknya akan memaksimalkan fungsi program Patriot Desa dan CEO Bumdes. Di mana saat ini Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar telah menyiapkan  2.567 orang menjadi CEO Bumdes dan sebanyak 110 Patriot Desa.

"Kita itu ingin terjadi konsorsium antara Bumdes-Bumdes. Jadi kebutuhan yang dimiliki oleh desa A bisa diselesaikan dengan desa B," ujar Dedi, Jumat (27/12/2019).

Dedi menyampaikan, saat ini sudah terbentuk sebanyak 272 Bumdes melalui CEO Bumdes. Adapun melalui program Patriot Desa, direncanakan akan terbentuk 100 Bumdes baru pada Februari 2020 mendatang.

Saat ini, dia melanjutkan, masih terdapat 746 dari 5.312 desa di Jabar yang belum memiliki Bumdes. Karena itu, pihaknya menargetkan dapat mencetak 500 Patriot Desa dari 110 orang yang sudah ada saat ini untuk dikerahkan dan membawa kemajuan di setiap desa.

"Targetnya sampai dengan masa akhir RPJMD.  Kalau 500 itu berhasil turun saya yakin di akhir 2020 ini kita berharap seluruh desa sudah punya Bumdes," katanya.

Dedi memaparkan, terdapat beberapa kendala yang ditemui di lapangan terkait pembentukan Bumdes. Terkait kurangnya transparansi menjadi salah satunya yang bahkan membuat masyarakat antipati.

Karena itu, kadang kala masyarakat ingin mengetahui lebih dulu desa yang maju setelah didirikan Bumdes untuk dijadikan role model atau percontohan.

"Dengan hadirnya Patriot Desa yang notabene bukan warga di situ tapi nginep selama satu tahun di sana ini menjadi hal yang baru menurut masyarakat," katanya.

Selain itu, ada pula kendala lainnya di mana beberapa desa masih bingung untuk menentukan kondisi usaha pada Bumdes. Untuk mengantisipasi itu, pihaknya melalui Patriot Desa dan CEO Bumdes menggali potensi masing-masing desa yang akan berlanjut pada pertukaran ilmu pengetahuan.

Dedi mencontohkan, terdapat satu desa yang memiliki potensi Bumdes melalui budi daya jamur. Kemudian Patriot Desa menemukan suatu desa yang belum tergali potensinya. Mengingat kebutuhan pasar untuk komoditas jamur cukup luas maka diupayakan merger transformasi pengetahuan antara desa yang sudah sukses dengan desa yang belum ada potensi tersebut.

"Sehingga orang di desa potensi ini mereka semangat setelah dibawa ke yang belum sukses namun disaksikan kesuksesan itu mereka siap untuk mengembangkan jamur," paparnya.

Diketahui, pada November lalu pihaknya telah menerjunkan 110 Patriot Desa yang bertugas menggerakkan roda ekonomi dengan membangun perusahaan atau Bumdes di desa-desa tertinggal.

"Nanti Januari atau Februari (2020) jumlahnya akan bertambah menjadi sekitar 300 orang (Patriot Desa)," pungkasnya. (Rianto Nurdiansyah)


Editor : suroprapanca