Dua Jembatan Ambruk dalam Seminggu, DPRD Sebut DPUPR Tidak Prioritaskan Jembatan

Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor Naurodin atau yang akrab disapa Jaro Peloy prihatin atas ambruknya dua jembatan dalam satu pekan, dimana lokasinya tidak jauh dari Cibinong sebagai ibu kotanya Kabupaten Bogor.

Dua Jembatan Ambruk dalam Seminggu, DPRD Sebut DPUPR Tidak Prioritaskan Jembatan
Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor Naurodin atau yang akrab disapa Jaro Peloy prihatin atas ambruknya dua jembatan dalam satu pekan, dimana lokasinya tidak jauh dari Cibinong sebagai ibu kotanya Kabupaten Bogor./istimewa

INILAHKORAN, Bogor - Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Bogor Naurodin atau yang akrab disapa Jaro Peloy prihatin atas ambruknya dua jembatan dalam satu pekan, dimana lokasinya tidak jauh dari Cibinong sebagai ibu kotanya Kabupaten Bogor.


Ia pun menyayangkan bahwa pembangunan jembatan bukan prioritas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Bogor.


"Saya melihat, DPUPR tidak memprioritaskan pembangunan jembatan, padahal lebih baik jalannya rusak ketimbang tidak ada jembatan karena masyarakat tidak akan bisa melewati akses jalan tersebut. Contoh tersebut terjadi di Kecamatan Nanggung, dimana pembangunan jembatan ditunda karena mendahulukan pembangunan jalan,"  ucap Jaro Peloy.


Jaro Peloy pun meminta DPUPR menyikapi atas ambruknya dua jembatan, berupa mengecek kelayakan fungsi jembatan - jembatan di Kabupaten Bogor.


"jembatan ambruk di Desa Sumur Batu dan Desa Babakan Madang saya lihat arus sungainya tidak sederas arus Sungai Cidurian, saya pun meminta agar dicek kelayakan fungsi dan kontruksi jembatannya oleh DPUPR," pintanya

Sebelumnya, jembatan ambruk terjadi di Desa Babakan Madang, Kecamatan Babakan Madang pada Rabu, 27 November 2024. 


Dua hari kemudian, jembatan di Kampung Sela Eurih RT 12 RW 04, Desa  Sumur Batu, Babakan Madang juga ambruk terbawa derasnya arus Sungai Ciherang.


"Telah terjadi lagi jembatan ambruk, yaitu di Desa Sumur Batu, Babakan Madang pada Jumat malam, 29 November kemarin," kata Plt Sekretaris BPBD Kabupaten Bogor Aris Nur Jatmiko kepada wartawan, Minggu, 1 Desember 2024.


Aris Nur Jatmiko menuturkan pada saat kejadian ambruknya jembatan tersebut, air di Sungai Ciherang meluap, lalu terjadi bencana alam tanah longsor.


"Berawal dari kondisi air Sungai Ciherang meluap dikarenakan cuaca hujan , sehingga mengakibatkan terjadinya tanah longsor pada sayap jembatan dan memutus jembatan akses utama  warga di Kampung Sela Eurih Desa Sumur Batu," tuturnya.


Ia menjelaskan  ada 113 Rumah dan 126 keluarga maupun 650 Jiwa yang terdampak putusnya jembatan di Kampung Sela Eurih, Desa Sumur Batu yang merupakan akses utama tersebut.


"Hasil Pemantauan tim di lapangan beserta masyarakat setempat ada jalur alternatif lain untuk aktivitas warga keluar masuk kampung tersebut, jalur tersebut bisa lintasi oleh pejalan kaki, kendaraan roda 2 dan roda 4 namun dengan catatan lebih memperhatikan kondisi cuaca dan Sungai Ciherang dalam keadaan aman serta tidak turun hujan. Selain itu, dibutuhkan penanganan segera dari dinas teknis terkait seperti membangun jembatan bailey," jelas Aris Nur Jatmiko.***


Editor : JakaPermana