Dua Kali Berturut-turut, 18 Siswa SDN Garuda KBB Diduga Keracunan Makanan MBG

Kekhawatiran menyelimuti orang tua dan warga Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, KBB karena 18 siswa SDN Garuda mengeluh sakit perut usai mengonsumsi MBG.

Dua Kali Berturut-turut, 18 Siswa SDN Garuda KBB Diduga Keracunan Makanan MBG
Dua hari berturut-turut, sebanyak 18 siswa SDN Garuda KBB diduga keracunan makanan MBG. (agus satia negara)

INILAHKORAN.ID - Kekhawatiran menyelimuti orang tua dan warga Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Pasalnya, sebanyak 18 siswa SDN Garuda mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi makanan dari program makan bergizi gratis (MBG) yang disiapkan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jambudipa 1. 

Kejadian ini tercatat dua hari berturut-turut terjadu, yakni Selasa hingga Rabu (29–30/9/2026) dan bukan pertama kalinya dapur yang sama mengalami insiden serupa.

Kepala SDN Garuda Apud Sukirman mengonfirmasi seluruh peristiwa tersebut. Hari pertama, Selasa, tercatat 10 siswa mengeluh sakit. Sehari kemudian, Rabu, bertambah 8 siswa lagi dengan gejala serupa, sehingga total mencapai 18 anak. 

Bahkan, salah satu siswa sempat mengalami sesak napas dan harus dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Lembang untuk penanganan lebih lanjut.

"Selasa 29 September terdampak 10 orang, Rabunya bertambah 8, jadi total 18 siswa. Satu anak sempat sesak napas, langsung kami bawa ke IGD RSUD Lembang," kata Apud, Kamis (1/10/2026)

"Saat itu belum sempat koordinasi dengan dapur karena ini soal nyawa, saya ambil keputusan langsung bawa ke Puskesmas," ungkapnya.

Sekolah Bertindak Cepat Tanpa Menunggu Konfirmasi Dapur

Kendati begitu, Apud menyebut, kondisi seluruh siswa kini dilaporkan berangsur membaik. Anak yang dirawat di rumah sakit pun sudah diperbolehkan pulang dalam waktu kurang dari 24 jam. 

"Separuh dari mereka telah kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) pada Kamis pagi, meskipun jam sekolah dipersingkat karena siswa dipulangkan pukul 10.00 WIB, dua jam lebih awal dari biasanya," sebutnya.

Apud menjelaskan, sekolah langsung memindahkan para siswa ke fasilitas kesehatan terdekat begitu keluhan muncul, tanpa menunggu persetujuan atau penjelasan dari pihak pengelola makanan. Petugas Puskesmas tetap melayani penanganan hingga pukul 22.00 malam.

"Kami bawa ke Puskesmas sampai jam 8 malam, alhamdulillah masih ada petugas yang berjaga. Ini tanggung jawab kami sebagai penerima manfaat dan keselamatan anak didahulukan," ujarnya.

Bukan Kali Pertama, Sekolah Panggil Pengelola SPPG

Apud tak memungkiri kekhawatiran muncul lantaran insiden serupa telah terjadi sebelumnya pada dapur SPPG Jambudipa 1 yang sama. Atas dasar itu, pihak sekolah mengundang pengelola dapur, wali murid yang anaknya terdampak, serta perwakilan kepolisian dari Polsek Cisarua untuk duduk bersama mencari kejelasan dan bentuk pertanggungjawaban yang tepat.

"Hingga kini, penyebab pasti keluhan kesehatan belum dapat dipastikan. Hasil pemeriksaan laboratorium maupun penjelasan resmi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat masih ditunggu," ucapnya.

Apud berharap persoalan ini segera diselesaikan secara transparan, agar program yang digagas pemerintah pusat tetap dapat berjalan baik dan dipercaya masyarakat.

"Kami menunggu keputusan dan bentuk pertanggungjawaban dari SPPG kepada para orang tua. Jangan sampai program yang bagus ini justru menjadi beban kekhawatiran. Kita tetap mendukung program Bapak Presiden, tapi pelaksanaannya harus benar-benar terjamin keamanannya," tegasnya.


Editor : Doni Ramdhani