Dulu Jijik, Rina Hatibie Kini Dapat Cuan Gede dari Sampah

Sama seperti ibu-ibu lainnya, Rina Hatibie  juga menganggap sampah adalah sesuatu yang bau dan menjijikan.

Dulu Jijik, Rina Hatibie Kini Dapat Cuan Gede dari Sampah
Rina Hatibie mengaku kenal dan paham sampah karena 'dicomblangi' Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sekitar lima tahun lalu, seiring berjalannya waktu, ia kini menjabat sebagai Kepala Bank Sampah Induk Mandiri Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor. (reza zurifwan)

INILAHKORAN, Bogor - Sama seperti ibu-ibu lainnya, Rina Hatibie  juga menganggap sampah adalah sesuatu yang bau dan menjijikan.

Namun, setelah kenal dan paham, ia bahkan menganggap sampah adalah sesuatu yang luar biasa, karena memiliki nilai ekonomis yang tidak sedikit.

Rina Hatibie mengaku kenal dan paham sampah karena 'dicomblangi' Dinas Lingkungan Hidup (DLH) sekitar lima tahun lalu, seiring berjalannya waktu, ia kini menjabat sebagai Kepala Bank sampah Induk Mandiri Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

"Dulu saya jijik kalau lihat sampah, setelah kenal dan paham, serta terjun ke dunia persampahan, ternyata luar biasa karena ada cuan atau uang disana," ujar Rina Hatibie kepada wartawan, Senin 6 Oktober 2025.

Ia menuturkan, bahwa slogan buanglah sampah ditempatnya sudah usang dan tidak ramah terhadap keberlangsungan kelestarian lingkungan hidup.

Yang benar, jelas Rina, pilahlah sampah dari rumah, lingkungan sekolah, perkantoran dan lainnya 

"sampah dipilah, karena nilai ekonomis masing-masing sampah berbeda, harga sampah besi dan sejenisnya, tentunya lebih mahal, dibanding sampah plastik dan sampah kertas," tuturnya.

Ia menjelaskan,  bahwa pemahamannnya tentang pengolahan sampah ia tularkan ke ibu-ibu maupun bapak-bapak di Desa Gunung Putri.

Mereka diminta membentuk bank sampah di tingkat Rukun Warga (RW) dan membuka rekening sampah dan bisa diambil setiap tahun.

"Hasilnya, tabungan sampah per keluarga itu ada yang mencapai nilai Rp200 ribu hingga Rp2 juta, dan diambil setahun sekali. Minimal, bisa beli sekilo daging sapi atau kerbau ketika Hari Raya Idul Fitri atau Hari Natal bagi yang beragama nasrani," jelasnya.

Selain menghasilkan cuan gede atau besar, dengan adanya bank sampah dan pengolahan sampah, Desa Gunung Putri, lanjut Rina. Kini status desanya juga tidak lagi darurat sampah.

"Berkat peran ibu-ibu dan bank sampah yang ada di setiap RW, status darurat sampah tidak diemban lagi oleh Desa Gunung Putri," lanjutnya.


Editor : Doni Ramdhani