Edhy Prabowo: Budidaya Lele di Bioflok Pangkas Biaya Produksi

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo melakukan kunjungan kerja ke peternak ikan lele di Kampung/Desa Parungserab Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung, Kamis (2/1/2020). Edhy meninjau budidaya ikan lele dengan media terpal plastik atau bioflok.

Edhy Prabowo: Budidaya Lele di Bioflok Pangkas Biaya Produksi
Foto: Dani R Nugraha

INILAH, Bandung - Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo melakukan kunjungan kerja ke peternak ikan lele di Kampung/Desa Parungserab Kecamatan Soreang Kabupaten Bandung, Kamis (2/1/2020). Edhy meninjau budidaya ikan lele dengan media terpal plastik atau bioflok.

Menurut Edhy, teknik budidaya ikan lele bioflok itu relatif hemat dan murah sehinga bisa memangkas biaya produksi khususnya pakan ikan.

"Saya kunjungan kerja ke sini untuk melihat para pembudidaya ikan di Jawa Barat. Sebelum ke sini, saya juga kunjungan ke Garut. Ini sudah terjadi dimana-mana. Ini salah satu alternatif kita untuk menjawab lahan yang semakin terbatas dan  bisa menghemat pakan dengan cara bioflok, yang tadinya menggunakan pakan 100 bisa berkurang setengahnya, bahkan kurang karena dari kotorannya bisa dimakan lagi dengan prebiotik lainya," kata Edhy di sela kunjungannya.

Edhy menjelaskan, pangsa pasar lele itu relatif luas, banyak, dan mudah dipasarkan. Sebab, hampir di pasar-pasar ikan di Indonesia membutuhkan ikan lele. Bahkan, fillet lele Indonesia itu diakuinya sudah menembuh pasar ekspor. 

Selain membudidaya dengan cara tersebut, Edhy menyebutkan pakan alternatif menggunakan magot bisa dipilih masyarakat untuk mengurangi biaya pakan. Selain itu, pakan tersebut pun bisa mengurangi sampah rumah tangga.

"Pakan mandiri ditemukan menggunakan magot atau lalat black soldier, bayangkan kalau di sini bisa mengoptimalkan budidaya ikan dengan pakan menggunakan magot itu akan juga mengurai sampah yang menjadi masalah kita saat ini," ujarnya.

Menurut Edhy, dari tujuh ton sampah bisa menghasilkan tiga ton magot dan diberikan untuk pakan ikan. Sekitar 0,8 kg magot bisa menghasilkan satu kilogram ikan.

"Dengan penggunaan pakan magot itu bisa menjadi dua kali lebih cepat dibandingkan menggunakan pakan konvensional. Semakin banyak yang membudidayakan, semakin mudah mencari pakan ikan dan ini enggak perlu biaya tambahan lagi," katanya.

Edhy menambahkan, budidaya ikan dengan cara seperti itu bisa menyerap lapangan pekerjaan bagi masyarakat.

"Peluang budidaya sangat besar, membangun sentra perikanan budidaya. Bisa menumbuhkan lapangan pekerjaan dan devisa bagi negara. Target yang lain dari program ini, agar ikan banyak kita bisa mencegah stunting," katanya. (Dani R Nugraha)


Editor : Doni Ramdhani