Pandemi, Peternak Milenial Asal Lembang Raup Omzet Miliaran Rupiah
Selama penerapan PPKM ini, banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Alhasil, mereka tidak memiliki penghasilan sama sekali.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Ngamprah - Selama penerapan PPKM ini, banyak orang yang kehilangan pekerjaan. Alhasil, mereka tidak memiliki penghasilan sama sekali. Kebutuhan hidup yang mendesak memaksa mereka harus memutar otak untuk memenuhi segala kebutuhan hidup dan menafkahi keluarga.
Kendati demikian, hal itu tidak berlaku bagi Yoga Tri Herlambang (40) yang mampu memanfaatkan hobi menjadi penghasil pundi-pundi rupiah.
Yoga menjadi salah satu contoh sukses orang-orang yang mampu keluar dari desakan ekonomi di tengah pandemi Covid-19. Ia berhasil menjadi peternak milenial di Desa Pagarwangi, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Kecintaannya pada kelinci sukses membawanya menjadi eksportir kelinci ke beberapa negara Asia dan Timur Tengah, seperti Filipina, Malaysia, Pakistan hingga Arab Saudi.
Tak main-main, dari bisnis ekspor kelinci yang digelutinya, Yoga mampu meraup omzet sebesar Rp700 juta hingga Rp1 miliar.
"Ya tergantung jumlah pemesanan, kalau kita biasanya kirim dari 100 ekor sampai 200 ekor kelinci dan bisa tembus diangka Rp700 juta sampai ke Rp1 miliar lebih," kata Yoga, Rabu (1/9/2021).
Keberhasilan yang diraih Yoga sebagai peternak milenial ini tak datang begitu saja. Sejak 2002, dia mulai merintis budidaya kelinci dan rutin mengikuti berbagai even. Kendati masih jarang yang melakukan budidaya kelinci, Yoga tetap konsisten melakoni hobinya itu.
Pada 2004, Yoga sudah mulai melayani pemesanan dari luar negeri meski dengan skala kecil. Beberapa jenis spesies kelinci yang berhasil ia kembangkan berasal dari bibit yang diimpor langsung dari sejumlah negara di Eropa dan Amerika Serikat, diantaranya New Zealand White, Netherland Dwarf, Californian, Checkerd Giant, German Giant dan Transylvanian Giant.
"Basic-nya hobi dari tahun 2002, sampai puncaknya di tahun 2017. Sempat vakum beberapa bulan saya terjun lagi karena permintaan pasar makin besar," ungkapnya.
Diakuinya, di tengah pandemi Covid-19 beberapa sektor peternakan banyak yang gulung tikar. Namun tidak untuk bisnis ternak kelinci yang dikelola olehnya.
Yoga mengaku, progressnya meningkat drastis lantaran permintaan dari negeri yang sempat dijuluki Mutiara Laut dari Orien (Filipina) mencapai 100-200 ekor per bulan.
Dia menilai, kelinci yang dikirim ke Filipina sebagian besar untuk dikonsumsi lantaran semenjak pandemi Covid-19, negara itu berorientasi dari ayam dan babi ke kelinci.
"Semenjak pandemi mereka mengonversi banyak peternakan babi dan ayam ke kelinci mungkin mereka ingin menjadikan kelinci menjadi pangan utama nantinya. Ditambah ada informasi, bahwa virus corona tidak menginfeksi kelinci," bebernya.
Saat ini, lanjut dia, Filipina menjadi konsumen dengan jumlah pemesanan paling banyak. Pemasaran ke negara ini berawal dari upaya promosi sejumlah peternak melalui media sosial Facebook.
Yoga cukup bertahan dan dipercaya ekspor ke negara itu lantaran menjamin kualitas kesehatan ternak, selain itu ia juga punya modal fasih berbahasa.
"Saya termasuk orang yang paling belakang main di ekspor ke Filipina. Itu pun tidak lewat Facebook tapi lewat Instagram. Alhamdulillah karena ternak kita dipercaya tidak ada komplain, saya juga dikenal breeder lama lewat Instagram, jadi sampai sekarang jalan terus," terangnya.
Dia berpesan, kepada kaum milenial tidak usah malu menjadi seorang peternak. Menurutnya, kalau mau sungguh-sungguh peluang ini bidang ini masih terbuka lebar.
"Banyak anak milenial disaat mereka mau bisnis mereka itu gak mikirin proses dan hanya mikirnya untung doang. Jadi harapan saya kaum milenial lebih bisa menghargai prosesnya, menata kandang, dan memilih yang bibit unggul," pesannya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB Undang Chusni Thamrin mengatakan kurang lebih pada pekan kemarin peternak milenial tersebut berhasil mengeskpor 200 ekor kelinci ke Filipina berbagai jenis.
"Kita sebagai dinas perikanan dan peternakan kita fasilitasi legalitas ekspor dan pastikan kesehatan kesehatan milik Kang Yoga," ujarnya.
"Kita dukung budidaya dan instalasi karantina. Jadi ekspor perlu ada karantina dulu untuk memastikan kesehatan," tambahnya. (agus satia negara)
Editor : inilahkoran


